Bab 6. Iri

1211 Words
Lara menghela nafas panjang dan menatap wajahnya ya di salah satu jendela mobil yang terparkir di halaman luas sebuah toko bunga yang tengah open house. Wajahnya terlihat lebih segar setelah ia merapikan dirinya di dalam taksi online yang membawanya menuju tempat ini. Hari ini ia sebenarnya sibuk sekali dengan pekerjaannya merasa sangat lelah, tetapi janji Ajeng padanya membuat Lara menguatkan tubuhnya untuk melewati hari. “Temani Eyang untuk hadir di acara open house Laila, iparnya Anita. Sekalian kamu minta maaf pada Bisma karena sikap konyolmu kemarin padanya jika ia ada disana. Kalau kamu bersedia, eyang ijinin kamu untuk kost atau kamu pakai saja apartemen yang pakubuwono.” Lara mendengus keras. Tawaran tinggal di apartemen tentu menggoda imannya, tetapi ia sadar gajinya tak akan sanggup membayar biaya yang harus dikeluarkan tiap bulan untuk tinggal di apartemen mahal itu. Setelah pertengkarannya dengan Fitri, Lara memutuskan untuk keluar dari rumah Eyangnya. Ia merasa tidak tahan untuk tinggal satu atap dengan Frida. Lebih baik ia yang pergi daripada pikirannya membuatnya gila sendiri. Lara segera berjalan menuju pintu masuk toko bunga yang besar dan indah. Ia tampak kerepotan karena sebelah tangannya membawa tas dan laptop dan sebelah tangannya lagi membawa bingkisan untuk Laila. Di dalam toko suasana tampak sangat ramai dengan tamu-tamu undangan, pandangan mata Lara segera berbinar menatap rangkaian bunga-bunga indah. “Ophelia Larasati!” Panggilan itu membuat Lara menoleh dan ia tahu hanya satu orang yang memanggilnya dengan nama lengkap seperti itu. Ajeng. Lara melihat Ajeng tengah berdiri bersama seorang wanita setengah baya yang cantik dan itu pasti Laila, sedangkan di kanan kiri mereka ada Fitri juga Bisma yang tengah berdiri bersama. Dengan perasaan sedikit canggung Lara segera menghampiri mereka semua sambil menarik wajahnya agar tersenyum. “Laila, kenalkan ini cucu perempuanku yang lain. Namanya Lara, dia anak Ega putra bungsuku yang tinggal di Bandung,” ucap Ajeng segera memperkenalkan Lara. “Selamat ya Tante atas pembukaan toko bunganya. Ohya, ini untuk tante,” ucap Lara sopan dan tersenyum pada Laila sambil memberikan kadonya. “Akh, kamu manis sekali, sampai repot-repot membawakan hadiah ini untuk tante. Terimakasih ya, kamu sudah kenal anak tante Bisma?” ucap Laila menatap Lara dengan pandangan ramah dan senang. “Oh, sudah! Kami pernah bertemu di pesta ulang tahun Eyang,” jawab Lara cepat sambil menoleh kearah Bisma lalu kembali memalingkan pandangannya ke arah Laila. “Cantik - cantik cucu perempuan ibu. Saya sering mendengar tentang Fitri dari Bisma. Saya pernah dengar dari Anita kalau dia masih memiliki keponakan perempuan satu lagi, ternyata Lara ya. Senang bisa bertemu denganmu. Ayo, kalian suka bunga apa? Pilih saja, nanti biar asisten tante yang rangkaikan untuk kalian,” ucap Laila menatap tamunya senang. “Terimakasih tante,” ucap Fitri cepat. “Tante ajak eyang kalian berkeliling dulu ya, disudut sana ada canapes dan minuman dingin yang bisa kalian nikmati, enjoy ya!” pamit Laila sambil menuntun tangan Ajeng agar mengikutinya berkeliling toko. Lara dan Fitri segera mengangguk dan tersenyum lalu berdiri canggung bertiga dengan Bisma setelah ditinggalkan Laila dan Ajeng. “Nah, Ladies … silahkan pilih bunga yang kalian suka, malam ini aku akan traktir kalian buket bunga yang paling cantik yang kalian mau,” ucap Bisma pada Fitri dan Lara. “Benarkah?” tanya Fitri senang. Melihat anggukan Bisma, perempuan itu segera menuju meja yang penuh bunga untuk minta dibuatkan buket bunga untuknya. “Kamu tak ingin sesuatu?” tanya Bisma pada Lara yang hanya diam. Perlahan Lara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, “Tidak terimakasih. Saya pamit berkeliling ya mas,” ucap Lara perlahan lalu segera bergerak meninggalkan Bisma sendirian. Selama acara, Lara hanya sibuk menikmati makanan karena perutnya terasa lapar lalu berkeliling melihat bunga-bunga cantik di sekitarnya. Perlahan Lara kembali melebarkan pandangannya keseluruh ruangan. Diantara keramaian orang-orang ia merasa sendirian dan sepi. Tak ada keinginan di dalam hatinya untuk berkenalan dengan orang-orang baru. Dulu Lara selalu berusaha untuk berteman dengan siapa saja, belajar apapun agar bisa lebih baik dalam keterbatasan ekonomi orang tuanya. Lara beruntung memiliki nenek yang mapan dengan pergaulan kelas atasnya. Ia belajar banyak hal dari Ajeng. Sebagai perempuan ia ingin mengubah nasibnya dari segi pekerjaan, lingkungan juga pasangan. Tapi dalam hidup tak semua orang mendapatkan apa yang ia inginkan. Dalam cerita kehidupan Lara, ia selalu menjadi orang yang dikhianati atau tak dipilih. Entah mengapa sekuat apapun ia mencoba keluar dari cerita cintanya yang apes, tetapi selalu kembali ke lingkaran setan yang sama. Bahkan ia pun kalah dari Fitri yang begitu tangguh berjuang untuk menaikan derajat hidupnya. Lara baru saja memutuskan untuk pulang ketika seseorang memanggilnya dari belakang. “Lara.” Gadis itu pun menoleh dan melihat Bisma datang menghampiri sambil membawa segelas minuman dingin. “Terimakasih,” jawab Lara ketika disodori minuman oleh Bisma. “Tak ada bunga yang kamu suka?” tanya Bisma mencoba membuka pembicaraan. Lara hanya diam. Berdua bersama Bisma membuat Lara teringat akan janjinya pada Ajeng untuk minta maaf pada Bisma akan sikapnya kemarin. “Ohya mas, aku mau minta maaf.” “Maaf?” tanya Bisma datar. “Sikapku kemarin tidak sopan pada mas Bisma.” Bisma tersenyum kecil, tentu saja ia bisa membaca keadaan bahwa sikap Lara kemarin pasti untuk membalas Fitri yang dianggap telah merebut Reno. Untuk Bisma, Lara adalah gadis dengan rasa iri yang besar. “Aku mengerti. Fitri juga sudah cerita apa yang terjadi, dan aku mengerti kenapa kamu bersikap seperti itu, wajar jika merasa iri dan cemburu.” “Iri?” ucap Lara balik bertanya, ia tak menyangka kata itu akan keluar dari mulut Bisma. “Maaf, aku tahu itu bukan urusanku, tapi Fitri sudah cerita sedikit tentang hubungan kalian dengan Reno.” Lara tertawa kecil. Kali ini ia menyadari bahwa Bisma sudah memiliki persepsi sendiri tentang dirinya. Lara segera menatap Bisma dan mereka saling menatap dalam. “Aku hanya ingin minta maaf kalau sikapku tidak sopan, apapun alasannya. Hmm, karena mas Bisma ada disini, sekalian aku mau pamit ya mas,” ucap Lara tenang. “Kamu tidak akan pulang bersama eyang Ajeng?” “Tidak, Eyang sangat menyukai bunga. Aku yakin beliau pasti masih akan lama berada disini. Tolong sampaikan salamku untuk tante Laila, mohon maaf aku tak berpamitan langsung.” “Kita pulang bersama aja, Ra. Eyang pasti sebentar lagi selesai,” ucap Fitri yang ternyata sudah berada dibelakang mereka. Lara menggelengkan kepalanya perlahan. Melihat Fitri rasanya ia ingin marah kembali apalagi teringat ucapan Bisma bahwa dirinya hanyalah gadis iri. “Aku duluan ya, ada satu tempat yang harus aku datangi dulu. Aku pamit, permisi.” Lara segera berjalan meninggalkan Fitri dan Bisma. Fitri memanggil Lara berapa kali, tapi Bisma segera menahan tangan Fitri seolah menandakan bahwa tak perlu membujuk gadis itu lagi. “Sudah, biarkan saja dia pulang sendiri.” “Bukan begitu, aku …” Fitri tak meneruskan bicaranya, melihat Bisma menghampiri Lara, membuatnya spontan datang menghampiri. Tentu saja ia mendengar ucapan Bisma tentang Lara yang iri dan cemburu padanya. Ucapan itu membuat Fitri merasa bersalah pada Lara. Pertengkaran mereka kemarin membekas di hati dan perasaan Fitri. Ucapan Lara terasa tajam tapi benar adanya. Melihat Reno yang tampan dan mapan, membuatnya berharap mendapatkan kekasih yang sama. Kini ia telah mendapatkan semua yg ia inginkan, tetapi entah mengapa ia merasa hampa dan malah terasa hangat dengan kehadiran Bisma. Di dalam hati Fitri, ia menyadari siapa yang sebenarnya gadis iri dan pencemburu. Dirinya sendiri. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD