Lara duduk termenung di ranjang. Sudah hampir dua bulan ia tidak kembali ke Bandung. Rasanya ia masih tak sanggup untuk bertemu sang ayah. Rasa marah dan kecewa membuatnya ingin terus menghindari untuk bertemu Ega–ayahnya.
“Kapan kamu pulang? “ tanya Ega dalam pesannya.
Lara hanya diam tak menjawab. Tiba - tiba sebuah pesan masuk kembali ke dalam handphone Lara dan lagi - lagi dari Ega.
“Minggu depan papa dan mama ke Jakarta untuk menghadiri acara pertunangan Rico, kita bertemu di rumah Eyang ya, ada yang ingin papa jelaskan sama kamu.”
Membaca pesan Ega, Lara segera menghubungi ayahnya dengan gusar.
“Assalamualaikum sayangnya papa,” sapa Ega terdengar senang karena Lara langsung menghubunginya setelah sekian lama.
“Waalaikumsalam. Papa dan mama gak usah ke Jakarta!” ucap Lara dingin.
“Lara–”
“Jangan pernah datang dan menginap di rumah Eyang kalau papa gak mau aku bilang sama mama, kalau papa selingkuh!”
“Lara, kamu salah paham!”
Lara mengepalkan tangannya saat mendengar jawaban sang ayah. Salah paham?! Tandanya Ega sudah tahu kalau Lara mengetahui hubungannya dengan Frida. Pasti dari CCTV.
“Nggak pa! Gak ada yang salah paham! Papa gak boleh ketemu tante Frida lagi! Lara benci sama papa! Kalau papa berani datang, Lara akan hancurkan tante Frida dan akan bilang semuanya sama mama!” ancam Laga dengan suara geram.
Saking marahnya, gadis itu sampai mengepalkan tangannya sekuat mungkin dan air matanya menetes tanpa terasa. Lara segera mematikan handphonenya tak menunggu jawaban dari sang ayah atas ancamannya. Ia tak kuasa menahan rasa sedihnya dan berteriak tanpa suara sebelum akhirnya ia menangis tersedu-sedu. Dadanya terasa sangat sakit sampai membuatnya sesak.
***
Bisma menoleh ke arah profile picture yang tampak familiar untuknya. Profile picture itu milik Lara. Tiba-tiba saja gadis itu membuat status di wa berupa quotes sedih ketika Bisma iseng untuk membacanya.
Bisma termenung sesaat, sudah dua minggu berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan Lara. Apakabar gadis itu? Kesibukannya bekerja membuatnya tak pernah memikirkan kembali apa yang terjadi pada Lara dan Fitri.
Fitri pun tampak sibuk dengan pekerjaannya dan mereka masih sering menghabiskan waktu bersama tetapi kali ini lebih banyak dengan tim, karena mereka benar-benar fokus untuk bisa mendealkan project besar ini.
Walau tak lagi pulang bersama karena Reno yang selalu menjemput Fitri saat lembur, tak membuat Bisma patah hati karena gadis itu masih cukup perhatian padanya sehingga ia tak merasakan kehilangan. Dan juga fokusnya saat ini juga sudah tidak lagi pada perasaan pada Fitri, karena ia sadar hubungan mereka tak memiliki masa depan.
Melihat status Lara, membuat Bisma iseng untuk melihat profile picture Lara lebih jelas.
Gadis itu hanya memajang foto wajahnya hitam putih, tampak menunduk dengan rambut berantakan tertiup angin. Sederhana tapi cantik, hanya saja Bisma merasa foto itu terlalu sendu.
“Lagi lihat apa pak?” tanya Fitri yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Bisma tanpa ia sadari.
Bisma tersentak dari lamunannya lalu tersenyum dan menerima file yang diberikan Fitri tanpa menjawab pertanyaan asistennya itu.
“Apakabar Lara?” celetuk Bisma tiba-tiba sambil asik memeriksa file.
“Lara?” ucap Fitri balik bertanya.
“Iya, Lara.”
Fitri menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi dan melipat tangannya erat.
“Dia mau pindah pak, katanya dia mau nge kost.”
“Kost?”
“Iya. Aku gak ngerti sama Lara. Aku tahu mungkin dia masih marah akan hubunganku dan mas Reno, tapi dia gak perlu sampai bertingkah sejauh ini bahkan ingin pindah. Dulu dia dekat sekali denganku dan mama Frida, tapi kali ini ia tampak sangat membenci kami. Bahkan Eyang pun tak berhasil untuk membujuknya untuk pindah ke apartemen saja, bukan tempat kost.”
Bisma hanya diam mendengarkan sambil menghabiskan sisa makanan di dalam kotak bento. Mendengar nama Frida disebut Bisma jadi teringat nama Frida yang sampai diucapkan dua kali oleh Lara. Tampaknya ini bukan hanya tentang Fitri dan Reno, tapi lebih dari itu.
“Tante Frida, setia sekali ya pada alm Om Sonny,” celetuk Bisma teringat akan suami dari Frida yang juga kakak ipar Om nya.
Fitri mengangguk lalu menghela nafas panjang,
“Iya, mama gak pernah menikah lagi dan tetap setia pada papa Sonny. Bahkan mama yang mengurus semua kebutuhan eyang Ajeng dan menemaninya kemana pun . Urusan saham dan usaha eyang pun sekarang mama Frida yang mengurus. Padahal, dia sangat cantik dan bisa menikah dengan pria manapun kalau dia mau,” ucap Fitri mengagumi ibu angkatnya itu. Bisma hanya mengangguk angguk tanpa mengomentari ucapan Fitri.
Fitri tiba-tiba teringat akan sesuatu dan menatap Bisma dalam.
“Ohya, bapak akan datang ke acara pertunangan Rico, kan?” tanya Fitri perlahan.
“Tentu saja! Dia juga sepupu dekatku. Kamu juga akan hadir?” Bisma balik bertanya.
Fitri hanya mengangguk sambil tersenyum senang karena akan kembali bertemu Bisma, walau nanti ia pasti akan datang bersama Reno dan keluarga Ajeng, termasuk Lara.
***
Bisma merapikan pakaiannya, ia terlihat tampan dengan pakaian batik dan celana kainnya. Pagi ini mereka sudah berkumpul tak jauh dari rumah kekasih Rico yang akan dilamar oleh keluarga besar mereka.
Dari jauh Bisma bisa melihat keluarga sepupunya sudah berkumpul, ibu dan ayahnya juga sudah tiba. Ia pun segera berjalan mendekat.
“Kamu sudah datang Bis,” sapa Anita ketika melihat keponakannya. Sang tante tampak gelisah dan celingak celinguk ke belakang.
“Cari siapa tante?” tanya Bisma.
“Keluarga mamanya tante belum datang, padahal sebentar lagi kita sudah menuju kerumah Arina,” gumam Anita.
Baru saja selesai ia bicara, terdengar suara mobil berhenti dibelakang mereka. Mobil hitam besar itu berhenti tak jauh dan tak lama keluar orang -orang dari dalam. Ada Ajeng, Frida dan juga Lara.
Bisma tampak tertegun ketika melihat Lara yang tampak anggun dengan kebaya modern dan rambut yang disanggul sendiri. Perempuan itu jika sedang tenang dan diam terlihat sangat cantik.
Bisma berdeham sesaat mencoba mengendalikan dirinya sendiri ketika mengingat ‘kegilaan’ Lara. Gadis itu menoleh ke arah Bisma yang baru saja menyapa nenek dan tantenya. Mereka beradu pandang tapi tak saling menyapa, hanya saja Bisma berjalan mendekati Lara agar bisa berjalan bersama karena semua orang berjalan berdampingan sedangkan hanya mereka berdua yang tak berpasangan.
Saat mereka tengah berjalan menuju rumah calon pengantin perempuan, Bisma mendengar suara yang familiar dan membuatnya menoleh ke belakang. Ada Fitri dan Reno yang berjalan bersama tak jauh dibelakang mereka.
Keluarga Arina segera menyambut keluarga besar Rico, dan tanpa Bisma sadar, Lara berjalan perlahan sehingga ia berada diposisi paling belakang karena melihat kucing yang tampak meringkuk tidur sudut halaman rumah Arina lalu berjalan menghampiri kucing itu.
Setelah memeluk dan mengusapnya beberapa kali, Lara segera kembali berjalan menuju dalam rumah.
“Dari mana kamu?” tanya Bisma yang ternyata mencarinya.
Belum sempat Lara menjawab Bisma langsung bersin- bersin tak berhenti.
“Duh, jorok ah!” ucap Lara kesal setengah berbisik karena terkena hembusan angin bersih Bisma.
Melihat Bisma yang terus bersin tiba-tiba tanpa berhenti membuat Lara mulai khawatir dan mengikuti pria itu keluar rumah agar acara di dalam tak terganggu dengan suara bersinnya yang keras.
Wajah Bisma tampak memerah dan tak sanggup berkata-kata karena sibuk bersin tanpa henti.
“Kenapa mas?” tanya pak Yunus supir keluarga Bisma yang menunggu di halaman depan.
“Gak tahu nih pak, mendadak bersin-bersin begitu. Mukanya sampe merah kaya orang sekarat,” jawab Lara memperhatikan Bisma dan memberikan beberapa helai tissue pada Bisma.
“Kucing!” pekik Bisma diantara bersinnya ketika ia melihat ada kucing di sudut taman.
Kini ia mengerti mengapa alerginya kambuh mendadak. Ia memiliki alergi terhadap bulu binatang. Tapi kucing itu sebenarnya berada cukup jauh, seharusnya ia tak langsung bersin begini.
“Pak, tolong antar pulang,” suruh Lara melihat Bisma semakin memerah dan mulai membuka kancing kemeja batiknya menandakan ia mulai sesak.
“Ayo mbak ditemani! Takut ada apa-apa!” ucap pak Yunus sambil mengambil kunci mobil dari tangan Bisma dan berjalan tergesa-gesa lebih dahulu.
Lara yang awalnya ingin menolak terpaksa urung karena melihat Bisma tampak kepayahan. Ia terpaksa berjalan terburu-buru karena mengejar langkah Bisma yang ingin segera pulang.
“Duh, kenapa sih ah,” gumam Lara sedikit merengut ketika masuk ke dalam mobil Bisma dan duduk dengan pria itu dibangku belakang.
“Mas, sudah jauh dari kucingnya kok masih bersin sih?” tanya Lara bingung.
“Mas Bisma memang gitu mbak, harus benar-benar bersih dari bulu baru bisa tenang,” ucap pak Yunus sambil mengendarai mobil Bisma.
Lara terdiam seribu bahasa, teringat bahwa dirinya baru saja mengelus dan menggendong kucing yang ada dirumah Arina. Jangan-jangan dirinya lah yang membuat Bisma kambuh alerginya, karena Bisma langsung bersin ketika berada di dekat Lara.
“Ohhh … ehhh… aku jadi inget tadi aku pegang-pegang kucing itu sih,” ucap Lara berusaha jujur dan bersikap tenang seolah bukan hal yang besar, walau di dalam hatinya ia ketakutan setengah mati Bisma akan marah padanya.
Benar saja, mendengar ucapan Lara, raut wajah Bisma yang sudah merah semakin merah dan berubah.
“Buka baju!” ucap Bisma sambil mencoba untuk bernafas dan mengendalikan bersinnya.
“Enak aja! Mas ah!” tolak Lara sambil mendorong Bisma yang menyambar kebayanya untuk ia lepas.
“Aku bisa mati!” pekik Bisma kesal sambil mencoba bernafas menatap Lara sambil melotot. Melihat mata Bisma yang mulai berair, Lara menyadari bahwa pria ini benar-benar memiliki alergi yang parah.
“Lihat nih! Aku buka kebayanya!” ucap Lara gusar dan segera membuka kebayanya sehingga ia hanya mengenakan dalaman satin yang menutupi pakaian dalam dan menggulung kebaya sebelum melemparnya ke kursi di samping pengemudi dan membuat pak Yunus istighfar ketika melihat ada gulungan kebaya melayang.
Tapi Bisma masih bersin dan sesak, tandanya masih ada bulu yang tersisa. Mata pria itu menatap kain yang digunakan Lara. Melihat pandangan Bisma, Lara segera melotot kesal.
“Masa kainnya harus dilepas juga?! Gak ah! Telanjang dong aku jadinya!”
Bisma segera melepas kemeja batiknya dan kini terlihat ia hanya mengenakan kaos oblong dengan celana kain.
“Tutup pake ini,” ucapnya dengan suara serak dan nafas yang mulai ngik ngik.
“Hadap sana!” ucap Lara merengut dan segera melepas kain yang ia pakai dan menutupnya tubuh bawahnya dengan kemeja batik milik Bisma.
Pak Yunus hanya bisa mengelus d**a, ketika melihat Lara kembali melempar gulungan kain ke depan. Ia tak habis pikir dan tak berani menoleh kebelakang, karena ia membayangkan Lara yang melepas pakaian kebaya dan kainnya padahal gadis itu bisa saja minta memberhentikan mobil dan turun dipinggir jalan.
Hening.
Tak ada pembicaraan diantara Bisma dan Lara yang ada hanyalah suara derit nafas Bisma yang berat dan minta segera diberi obat.
Bersambung.