Bab 3: Janji

1064 Words
Lereng bebatuan itu berbentuk melingkar memusat pada jurang dalam tanpa ujung. Di tiap sisinya terdapat 6 batu melayang dengan cahaya keunguan yang mengalir ke arah bintang 4 sudut. Cahaya dari sinar matahari yang terkuras di waktu itu semakin memancar dari bintang yang berkobar. Amram menatap pada cahaya bintang yang menerangi senja begitu dalam “Mereka berkata bahwa bintang inilah satu-satunya berkah yang ditinggalkan oleh dewa kepada kami saat malam datang.” Saya terdiam mengamati keindahan yang terasa hampa itu saat kegelapan sedikit demi-sedikit mewarnai penglihatan kami, saya berpikir kemah perginya para dewa ketika khutbah dan doa masih tersanjung untuknya. Bagaimanapun tanah ini tidak akan bertahan lama, sedikit demi sedikit kejayaan dan kemakmuran tanah perdamaian hanya akan menjadi kisah bagi umat manusia yang masih bisa bertahan tanpa adanya perlindungan dewa primordial disisinya. “Apa mereka mengatakan hal lain selain itu.” Jujur saja saya penasaran dengan cahaya bintang yang bersinar itu, tidak ada catatan dari para penjelajah yang mengatakan tentang bintang dan 6 batu melayang. Amram menggelengkan kepalanya seolah tidak banyak hal yang dia dapat dari para tetua “Mereka hanya mengatakan dewa menciptakan tanah ini untuk seluruh makhluknya.” Angin padang pasir malam itu mendesir, masuk kedalam lubang jurang membawa suara-suara kehidupan gurun. Semua mahluk melihat kearah sumbernya yang selalu membawa pertanda untuk mereka. Amram melihat kearah kemah-kemah dimana api mulai dinyalakan untuk menghindari gelapnya malam hari. Ditempat yang lebih jauh dari perkemahan dia melihat orang tua yang bergantian untuk mengawasi dari atas bukit. Dan dari arah yang lebih jauh dia melihat kelompok prajurit perang menuju arah Oasis. Lagi-lagi tanah yang damai akan dijajah oleh mereka. Hatinya kembali mendesis seperti padang gurun yang selalu membawakan pertanda. Ia berjalan menuruni bebatuan dan kembali menuju ke perkemahan “Ayo kembali, angin memberikan pertanda buruk akan segera terjadi.” . Tanpa mengucapkan sepatah kata pun saya mengikuti Amram dari belakang, Meskipun menjadi tanah perdamaian yang diliputi berkat oleh dewa tetap saja Oasis selalu menyimpan rahasia yang diketahui banyak orang sebagai wilayah jarahan perang yang tak bisa dihindari oleh penduduk. Hati saya ikut mendesis saat mengingat fakta itu, tanah yang dipenuhi oleh keindahan ini menyimpan banyak perjuangan dan air mata penduduknya. Saat itulah kami berdua berlari ke arah perkemahan dan melihat para tetua berdiri disini untuk menyampaikan sesuatu “Kami telah hidup lama ditanah ini, merawatnya seperti menjaga diri kami sendiri sebagai bentuk syukur atas pemberian pencipta.” Wajahnya terlihat tegas meski beberapa kerutan muncul di sana, tubuhnya yang tertutupi oleh jubah berwarna abu-abu semakin memperlihatkan rentan usianya yang telah melewati lebih dari setengah abad. “Meski begitu kau tetaplah pemimpin kami, berkatnya mengalir di nadimu untuk melindungi tanah Oasis.” Tetua itu berkata di dalam jiwanya yang telah berserah pada kehidupan dan kematian. “Saya mengerti, saya akan bertindak seperti yang telah diajarkan ayah saya tentang tanah Oasis ini kepada kami.” Kata-katanya tanpa penuh penekanan dan dikelilingi oleh rasa hormat dengan senyum kebijaksanaan. Saat itulah Amram memandang saya “Saudaraku Zahab tanah ini akan segera diserang saya sangat senang jika kau menemani anak-anak dan wanita untuk menuju ke tempat yang lebih aman.” Wajah saya ikut tersenyum saat melihat sisi bijaksananya “Aku akan mengantar mereka dan kembali padamu karena aku telah berjanji agar doa kalian kembali terdengar oleh dewa.” Lagipula masih banyak pertanyaan dalam diri saya entah pada diri saya sendiri atau kepada sang pencipta yang membuat saya harus tetap tinggal. “Kalau begitu aku akan menunggumu digaris paling depan.” Kepala saya mengganggu memberikan persetujuan dan secepatnya pergi menuju perkemahan untuk meminta para wanita dan anak-anak berpindah ketempat yang lebih aman. Langkah saya mendekat ke seorang ibu yang sedang mengangkat gerabah berisi air, saya mendekatinya dan mengatakan tentang apa yang sebentar lagi terjadi ditanah Oasis ini “Tolong katakan pada yang lainya sekelompok suku yang berperang akan menuju kemari.” Dia diam untuk beberapa saat namun ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan “Sepertinya tanah ini akan diserang lagi.” Mata saya berkedip terkejut mendengar perkataan wanita yang dibalut dengan pakaian berwarna gelap. “Lagi..” sepertinya ini bukan pertama kalinya tanah Oasis diserang, apakah ini yang menyebabkan kematian ayah Amram. Entah mengapa saya menjadi mengerti, mengingat dia menjadi pemimpin di rentang usia yang masih muda. “Tanah ini dulunya dicintai oleh dewa bahkan berkatnya mengalir dalam hembusan angin yang menjawab setiap doa.” “Tapi sayangnya bumi tak tahu bersyukur bahkan penduduknya masih mencari kebenaran tentang penciptanya.” Saya terdiam memperhatikan perkataan Ibu pembawa gerabah, apakah yang dia maksud mereka ingin menghidupkan dewa yang telah mati. Tunggu saya merasakan tumpang tindih sejarah di sekitar sini. Apa yang sebenarnya terjadi pada dewa setelah zaman kegelapan. Rongga otak saya terus berpikir dan saat itulah saya teringat tentang ukiran di reruntuhan kuil yang menerangkan tentang tombak penghakiman, itu sedikit dari memori saya yang kembali sebelum saya mengalami hilang ingatan. “Ibu apa yang kau lakukan disana.” Seorang gadis berambut merah dengan ikatan kuda mendekat ke arah kami, ia memiliki tinggi setara dengan rata-rata tinggi lelaki yang membuat posturnya penuh otoritas. Wajahnya terlihat begitu tegas sehingga dapat dipastikan semua orang akan mengikuti arahannya. Mungkin wanita inilah yang menuntun orang-orang yang berada di kemah tanpa saya sadari “Ohh anakku apa kau akan ikut menemani adikmu untuk menghentikan para penghasut itu.” Gadis itu hanya balas menatap kebingungan sebelum melihat kearah saya dalam balutan pakaian berjubah dengan celana Panjang gelap. “Wahai ibuku saya akan melindungi tanah seperti yang telah beliau amanatkan kepada saya.” Ia kembali mengatakan sesuatu yang telah menjadi bentengan hidupnya. Kemudian ia kembali melanjutkan kepada saya “Aku akan mengurus yang ada disini jadi tolong jaga adik laki-lakiku professor.” Wajah saya semakin menciut, apakah kita pernah bertemu sebelumnya. Ini akan terasa canggung jika aku tidak menyapanya ketika pandangan kami bertemu. “Maaf sebelumnya, tapi bolehkah saya tau siapa namamu.” Gadis itu menatap saya dalam mata berwarna coklat dengan senyuman yang begitu dalam. “Panggil saya Noa professor.” Saya terdiam seolah mengingat sesuatu dimasa lalu yang tak bisa saya lanjutkan saat ribuan panah mulai menyerbu perkemahan. “Profesor di belakang anda.” Noa memperingatkan salah satu panah mencoba menusuk tubuh belakang saya, dengan cepat saya memberikan putaran pada kaki kiri saya ke arah belakang untuk menghindari benda yang dibalut dengan api tersebut. “Ini.” Wajah saya begitu terdistorsi melihat pemandangan di depan saya, apakah mereka benar-benar ingin menghancurkan tanah Oasis dan melahapnya ke dalam nyala api tanpa menyisakan apapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD