Gurun itu bergemuruh menunjukan kebesaran, menjalankan alam dari yang kecil dan yang besar. Menghembuskan debu dan menggerakkan awan-awan di udara. Menghidupkan yang sudah mati dan mematikan yang hidup. Menunjukan kehebatan untuk menundukkan semua makhluk yang menginjak tanah berwarna timah tersebut.
Namun Abqary tidak akan pernah takut dengan gurun bahkan dengan gemuruh yang menyapu semua kehidupan sampai yang terjauh di ujung sana. Bahkan jika ia melihat lebih jauh dari apa yang dilihat padang pasir. Ia melihat pada mimpi-mimpi, ia melihat pada keyakinan di jiwanya dan akan mengikutinya sampai akhir hayatnya.
“Faaz katakan padaku, bagaimana perkembangan kondisi musuh.” Dengan tunggannya dia berjalan mendekat dengan pelan.
Faaz yang sedari tadi melihat ke bawah tebing pada kemah-kemah yang didirikan untuk menjadi tempat bersinggah dan bernaung, dia melihat balik pada pimpinan pasukannya. Dengan wajah yang tersenyum lembut dia berkata “Seperti yang kau lihat saudaraku tidak ada banyak yang berubah sejak semalam tiba.” Kalimatnya begitu lembut yang bahkan dapat menghilangkan dahaga makhluk di gurun.
“Awasi mereka baik-baik Faaz, kita tidak akan pernah tau apa yang mereka lakukan bahkan pada tanah perdamaian pun.” Dengan tubuh yang masih duduk di atas tunggangan hitamnya ia melihat jauh dengan mata emas pada tenda-tenda yang berjumlah melebihi seluruh jarinya. Mereka yang berasal dari gurun pada akhirnya hanya bisa hidup layaknya padang gurun itu sendiri.
“FAAZ, FAAZZ.” Suara itu menggelegar dengan seorang pria berwajah kusut mendekati mereka dengan seekor kuda dan saat melihat Abqary ada di depannya ia menunduk “Tuan Abqary maaf saya tidak menyadari keberadaan anda.”
“Tak masalah, katakana apa keperluanmu.” Dia menatap pria yang mendekati mereka itu, pria tersebut memiliki tinggi yang berada pada rata-ratanya dengan rambut keabuan.
“Pasukan di timur diserang.” Dia menjelaskan, wajahnya yang dapat menjawab semua rasa ingin tahu kedua orang yang berdiri diatas bukit tersebut, tentang bagaimana keadaan pasukan di timur yang akan mempersiapkan diri untuk pertempuran di tengah teriknya matahari nanti.
“Mereka meng hujani kami dengan panah, itu berawal dengan satu buah mata tembakan. Namun, berubah menjadi puluhan dan ratusan. Beberapa dari kami masih dapat bertahan meski mendapat luka-luka.” Ia menghentikan perkataanya di sana, menunggu perintah yang diberikan Abqary pada mereka.
“Panggil beberapa pasukan di kemah, bagaimanapun kita harus meningkatkan pertahanan di sisi timur. Jangan pernah lenggah untuk pasukan di utara.” Abqary memberikan perintah. Mereka mengambil tindakan lebih cepat dari dugaan awalnya. Dari apa yang dia lihat pasti mereka telah menunggu momen ini sebelum dirinya mengambil tindakan, bagaimanapun ia tidak akan membiarkan tanah Oasis menjadi tempat pertumpahan darah untuk kedua kalinya “Faaz, Kirimkan beberapa orang untuk pergi ke tanah Oasis.”
Abqary mengangkat punggungnya, pijakan kuda itu ia tekan untuk memacu kecepatannya, ia pergi dengan rasa resah atas bangsanya dan saudaranya. Tanah yang telah ia tinggalkan 15 tahun lalu karena perpecahan perang antar suku menimbulkan keributan di tanah Oasis yang dulunya damai dan masyhur. Dia meninggalkannya setelah kematian kepala suku dan kini menjadi pejuang untuk melawan para pencari utusan.
.
Tirai terbuka dan dari sana saya dapat melihat keindahan tanah Oasis yang selalu dikisahkan dalam buku-buku petualangan milik benua timur. Mereka selalu berkata bahwa tanah pasir adalah tempat bertahan hidup dari kehendak alam yang mutlak. Semuanya dikisahkan dalam relik kuno yang tersimpan di dalam piramida yang terbagi menjadi 3 kepercayaan, salah satu diantaranya berada pada pemerintahan awal suku Eilam sebelum pada akhirnya runtuh karena konflik internal di antara mereka yang bertahan sampai sekarang.
Jika di ingat konflik antar suku sudah dikisahkan dalam relik piramida kepercayaan dewa primordial tapi itu masih menjadi misteri bagaimana bisa terjadi. Mereka hanya menjelaskan sang dewa yang tak kuasa melihat kematian akhirnya menajamkan sehelai rambut dan menancapkan ke dalam tanah gurun ini yang akhirnya tanah perdamaian lahir dengan kehidupan untuk mereka yang ingin selamat dari bencana.
“Ku denggar saat ini benua daerah timur sedang menggembangkan mesin uap.” Dia menanyakan sesuatu yang sebenarnya telah terjadi sejak 10 tahun yang lalu dimana Kerajaan Canis memenangkan peperangan dan memimpin revolusi untuk mengembalikkan nama baik mereka atas kematian umat manusia akibat perang.
“Seperti yang kau lihat saat ini tiap negara sedang ingin memimpin perekonomian dikarenakan kerugian peperangan yang melanda diantara mereka.” Tubuhku berjalan mendekat untuk membantu Amram menaikan hasil alam milik tanah Oasis kedalam gerobak, beberapa diantaranya terdapat buah kurma dan zaitun. Jika dilihat sepertinya penduduk Oasis telah menggembangkan system irigasi yang menjadikan hasil alam tidak menjadi kebutuhan pokok namun dapat dijadikan pendapatan penduduk mereka. Diantara hasil alam itu sepertinya mereka juga menggembangkan peternakan untuk bertahan hidup dari kerasnya padang pasir. Segelintir senyum tergambar saat saya menyaksikan keajaiban tanah Oasis, begitu diberkatinya tanah perdamain.
“Yah seperti yang kau lihat, terkadang aku bermimpi untuk melihat dunia luar tapi aku tidak bisa meninggalkan tanah Oasis ini.” Ia tersenyum lebar ke arahku dengan kepribadiannya yang begitu bersemangat menepuk tumpukan kurma.
“Aku yakin menjaga tanah Oasis ini adalah langkah awal menuju mimpi-mimpimu.” Amram terdiam saat saya mengatakan itu.
Sesaat wajahnya terlihat berpikir dan sebuah kalimat bernada tinggi keluar dari mulutnya “Ah, kau benar. Kau benar sekali Zahab, di tengah para dewa tidak mendengar doa-doa kami kau mengatakan kalimat yang dapat menyejukkan hati.”
Saya terdiam sesaat ketika mendengar Amram berkata bahwa dewa tidak lagi mendengar doa mereka apakah terjadi sesuatu, itu mengingatkan saya pada pertanda sebelum terbanggun ditenggah padang gurun yang luas “Amram, bagaimana jika aku membantumu agar dewa kembali mendengar doa-doamu.” Saya tanpa sadar berkata saat mendengar kalimat Amram tadi.
Tak memberikan jawaban Amram tersenyum seolah dia teringat sesuatu setelah mendengar jawaban saya “Ikuti aku, akan kutunjukkan padamu sesuatu yang membuatmu tidak percaya ada tempat seperti ini juga di antara keindahan gurun.” Amram berjalan memimpin dan saya mengikuti di belakangnya.
“Seperti yang kau lihat kami para penduduk Oasis bertahan hidup dengan mengolah hasil alam, para wanita akan berkebun dan anak-anak mengurus gembala.” Kami berjalan melewati kebun kurma yang menjulang tinggi, di sana mengalir aliran irigasi dari sungai dalam tanah yang terhubung dengan Laut Sirius dengan benua Utara “Para pria dewasa akan berperang membela ideologi mereka dan ke kota untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.”
Beberapa kali kami bertemu dengan gadis kebun dan para ibu yang mengambil air dari sumur untuk mengisi gerabah-gerabah mereka, dan anak-anak yang bermain di antara gembala mereka. Para tetua mengawasi gurun dari bukit yang tinggi waspada akan perang antar suku “Kami berlindung dari badai pasir dan panasnya matahari namun diantara semua itu kami lebih takut pada dewa yang menghukum kami dari dosa-dosa yang tak pernah kami lakukan.”
Disanalah saya melihat sebuah jurang raksasa dengan bebatuan yang memusat ke dalam.