Malam itu, daratan gurun menjadi lebih tenang dibandingkan malam-malam sebelumnya. Amram, menikmati ketenangan tersebut membiarkan pikirannya melayang, dan angin gurun menyapu setiap puing-puing yang tersisa akibat pertempuran. Bau kayu terbakar dan darah sisa-sisa manusia masuk kedalam indra penciumannya.
Setelah mendengar ocehan Sang Pencipta, tubuhnya masih terkapar disana, bahkan setelah dia melihat langsung senjata penghakiman, sejujurnya dia tidak menyangka dirinya akan selamat dari bencana turunnya senjata ketuhanan.
"Haha.." Setelah menyaksikan semua yang ada di hadapannya, ia terkekeh, seolah rasa penasaran di hatinya telah terjawab. "Hahaha.." tawa itu menjadi racau karena emosi yang tak bisa diungkapkan setelah sekian lama "Jadi ini yang dirahasiakan oleh para tetua." Amram hanya kembali diam.
Dari kejauhan sebuah langkah tapak kuda mendekat ke arahnya, itu adalah Abqary yang baru sampai setelah mengamati pertempuran dari tempat yang jauh, tubuhnya yang begitu tegak diatas kuda dengan jubah putihnya miliknya berpadu begitu sempurna pada kulit tembaga miliknya. Memperlihatkan otoritas ideologinya yang begitu tegak meski tanah kelahirannya telah terbakar habis "Bangunlah, mau sampai kapan kau menjadi satu dengan mayat di sekitarmu."
"Bau mayat adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap hidup." Tubuh Amram tetap terdiam disana, tak ingin pergi dari tanah Oasis.
"Kalau begitu berdirilah, kita masih memiliki pekerjaan untuk dilakukan." Ia pergi begitu saja seakan tidak ada hal besar yang terjadi ditanah tersebut.
Amram hanya kembali diam dan membangunkan tubuhnya yang baru saja selesai melakukan penyembuhan sendiri.
.
Seperti pada malam yang lain dataran dipadang gurun itu diterangi oleh sinar rembulan berwarna biru sempurna, tanah yang begitu sunyi dengan puing-puing bangunan yang ditinggalkan tak seorang pun berkeliaran di pemukiman tersebut.
Zahab yang baru saja tersadar melihat ke segala arah dan mengetahui bahwa tuan ahli pedang ada ditempat tersebut, pandangannya menatap keluar padang pasir hanya untuk mendapati kesunyian ditempat itu.
Rasa sakit di tubuhnya kembali terasa dengan tambahan perban di bagian kepala dan lengan "Sepertinya kau telah benar-benar sadar, berdirilah ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu." Pria bertubuh tinggi itu menuntun jalan melewati Lorong yang diterangi api biru.
Tempat itu memiliki struktur bangunan yang disusun oleh batuan kali yang sepertinya berasal dari aliran sungai Fidel yang membentang dari bagian utara pegunungan Amasius. Menandakan bahwa saat ini dirinya sedang berada dekat dengan Piramida milik dewa Primordial.
Tanpa adanya penolakan dia hanya diam mengikuti langkah orang yang di depannya, awalnya dia berpikir bahwa dirinya akan dibawa ke perkemahan milik musuh dan diinterogasi tentang hal-hal yang tidak dirinya ketahui. Syukurlah itu tidak terjadi, ekspektasinya begitu berlebihan. Bukankah orang didepannya cukup baik juga, bahkan orang tersebut mau menyembuhkan luka walaupun orang tersebut juga yang menyebabkan luka tersebut. Mari kita anggap itu bentuk pertanggung jawaban.
"Ngomong-ngomong jika boleh tau sebenarnya untuk apa kalian berperang." Tuan ahli pedang itu melirik sekilas seolah mencoba memastikan sesuatu, saat itulah dirinya berpikir memberikan pertanyaan yang salah.
"Itu sudah sangat lama." Dia menghentikan perkataan dan menarik nafasnya siap memberikan cerita yang berat "Pada dasarnya berperang memang sudah menjadi bagian sifat dasar dari makhluk hidup."
"Apa kau tau penyebab perang antar para bangsawan ?" Zahab terdiam untuk sesaat, ia kebingungan harus bagaimana menjawab pertanyaan tersebut. Dirinya tidak mengerti pertanyaannya akan dijawab oleh pertanyaan lain juga.
Ia terdiam dan berpikir untuk memberikan jawaban terbaiknya, namun yang keluar dari dalam mulutnya hanyalah sebuah kejujuran yang begitu mendalam "Aku tidak tahu.."
Ahli pedang itu tersentak sesaat mendengar jawaban yang sesederhana itu, sesaat ia mengharapkan jawaban yang sedikit mengesankan dari lawan bicaranya. "Seorang alchemist seperti dirimu bagaimana bisa tidak mengetahuinya." Zahab hanya bisa memberikan senyum yang sangat lebar 'Tuan saya baru saja mengalami hilang ingatan dan mendapati diri saya di tengah konflik, mengetahui tubuh saya masih hidup sampai sekarang merupakan rasa syukur'
"Kau berkata seolah lebih mengenal diriku." Saya hanya bisa tersenyum sebagai sebuah respon dari diri saya yang masih menjunjung kesopanan.
"Lupakan." Tuan ahli pedang itu pun berakhir mengganti topik "Peperangan di tanah ini sudah ada sejak zaman ke-3."
"Ah, maksudmu zaman kegelapan." Tuan ahli pedang melirik saya sedikit jengkel ketika saya dapat memberi tanggapan dari apa yang dia ucapkan.
"Bukankah tadinya kau bilang tidak tau." Saya hanya diam dengan wajah tersenyum dan mengangkat Pundak saya sebagai respon ditengah langkah kami.
Dia kembali menghirup nafas Lelah melihat saya yang seolah tahu banyak hal namun tak tahu apa pun sama sekali "Perang ini akan terus terjadi sampai dewa kembali."
"Lalu apakah rencana penculikan kalian ini untuk kebangkitannya." Ahli pedang itu menghentikan langkahnya dan melihat saya dengan wajah yang begitu serius. Tidak itu lebih seperti ekspresi wajah kebingungan.
"Menculikmu, sejak awal merekalah yang memanfaatkanmu." Tunggu sebentar, Amran memanfaatkan saya. Itu terdengar masuk akal dengan dirinya yang ingin melarikan diri dari Oasis, dia memanfaatkan kekacauan ini dengan begitu dia bisa terbebas dari tanggung jawab Pemimpin dan mencari keberadaan Dewa Primordial.
Tapi apakah hanya itu, dia sempat berkata tentang balas dendam, Saya belum tau lebih detail tentang rencana itu. Jika berpikir lebih mendalam saya akan menarik benang ini dengan dia menculik dan memanfaatkan saya dengan begitu dia bebas dan bisa melancarkan balas dendamnya kemudian jika saya berada di pihak mereka kemenangan adalah hal mutlak dengan begitu mereka bisa membangkitan dewa primordial.
"Marilah kita sudah sampai." Pada saat itu tuan ahli pedang menarik tirai yang menutupi ruangan yang penerangannya menggunakan obor api biru. Menciptakan cahaya redup yang cukup untuk menghalau dinginnya angin malam gurun yang masuk melalui celah.
Zahab mengikuti langkah memasuki ruangan tersebut, kepalanya sedikit membungkuk ketika tangannya menyibak tirai yang menutupi ruangan. Saat itulah kedua bola matanya melihat puluhan orang yang bertahan dari penyakit yang dirinya tak tau.
Gelombang pikirannya kembali mengingat kembali tanah Oasis. Kehidupan padang Gurun lebih kejam dari apa yang dibayangkan. Ia ingin bertanya tentang sebenarnya apa penyebab wabah yang terjadi namun bisikan di dalam otaknya berkata untuk mencegah hal itu.
"Apa kau tak tau atau kau hanya benar-benar lupa." Saat itu Tuan sang ahli pedang mengamati saya dengan wajah begitu tegas.