Bab 7: 4 jalan ketuhanan

805 Words
"Ini adalah sisi lain dari keindahan padang gurun yang harus kau lihat." Saya masih diam melihat orang sakit disekitar saya. "Apa yang sebenarnya terjadi." Saya melihat kearah orang orang yang bertahan hanya dengan menggunakan pakaian mereka adapun anak kecil dan perempuan mereka mendapatkan tambahan kain untuk menghalau dinginnya malam yang dapat memperparah kondisi mereka. "Ini adalah efek dari korosi dewa yang tidak dapat ditahan oleh manusia." Jadi ini efek dari dewa primordial yang telah menghilang dari dunia ini yang menyebabkan manusia biasa tidak dapat menahan energi ketuhanan. "Tuan apa kau tau dimana dewa primordial berada." Aku memberikan pertanyaan yang tentu saja tidak dia tahu. "Entahlah Aku pengikut Bulan Biru." Hati kecil saya tertusuk. Sejujurnya sebuah kebebasan untuk orang menentukan keyakinan mereka tapi jawaban ini bukankah terlalu kejam, saya memberikan senyum yang begitu lebar sebagai sebuah respon saya. "Jadi itu alasan yang membuatmu tidak terkena korosi." Intuisi saya memberikan pencerahan atas apa yang dia katakana. "Kau benar." Wajahnya tenang dan menjelaskan "Seberapa banyak kau tahu tentang jalan ketuhanan" Saya berpikir sesaat ini sedikit tabu tapi beberapa orang yakin semua bencana dan wabah datang dari pencipta itu sendiri begitu pula saya yang baru mengetahuinya. "Aku Tidak tahu banyak tapi batu peninggalan dalam penghukuman menjelaskan orang akan selamat setelah mengikuti 4 jalan ketuhanan." 4 jalan ketuhanan adalah bentuk berkat kepada manusia yang pada masa kegelapan dari perang di zaman kedua setelah dewa menciptakan makhluk hidup. Diantaranya adalah Alkemis, Naga, Pendeta, dan Ahli Pedang. Mereka mengalirkan keilahian pencipta yang memegang Tiap pilar kekuatan manusia. Alkemis dengan kemampuan Alkimia dimiliki oleh satu keluarga bangsawan. Naga yang diteruskan oleh para penyihir. Pendeta yang mengalirkan berkat pencipta di gereja. Dan Ahli Pedang yang mengajarkan ilmunya di puncak gunung. Itu awalnya saling berkesinambungan sampai ke 4 utusan menghilang dan kembali menciptakan perang di zaman keempat. Alkemis yang setia pada kekaisaran, Gereja yang bermusuhan dengan para penyihir yang dianggap salah menggunakan kekuatan pencipta dan Ahli Pedang yang memihak para penyihir. "Itu sedikit rumit." Saya menambahkan setelah mengingat kembali beberapa informasi meski kepala saya kembali berdenyut. "Sayangnya tidak semua manusia bisa menampung berkat ketuhanan." Dia menyambungkan yang seperti biasa bisa membaca jalan berpikir saya. "Bencana dan wabah hanyalah salah satu bentuk dalam dunia menuju akhir." Ia memperjelas seolah ia telah tahu ke arah mana semesta berjalan "Tidak ada hal yang dapat kita lakukan selain melindungi diri kita sendiri." Saya mengangguk setuju, tak begitu lama saya ingat sesuatu "Benar juga jika kau bukan bagian dari musuh lalu siapa dirimu." Saat itulah mata berwarna biru itu terdiam mencoba mengolah kata. wajahnya terdiam memikirkan sebuah jawaban. Mencoba menerangkan pada saya sebuah kebenaran. Namun pada akhirnya dia hanya menjawab tak lebih dari satu kata "Yilbegan." "Hah aku tidak mendengarnya." wajah saya menjadi kikuk setelah mendengarkan jawaban yang ia berikan. Itu bukan dikarenakan saya tidak mendengarkan, itu lebih seperti wajah yang memastikan. pikiran saya menjadi teringat sesuatu yang saya lupakan saat dia menyebut namanya. Kenangan itu mengarah ketika saya masih kecil dimana saya mendapat hadiah ulang tahun yang berisi syal. Dengan seorang pelayan pria dan wanita di sisi kiri saya. Ekspresi wajah saya menunjukkan kebahagian dan memanggil nama mereka. "Nama mereka..." saya tidak bisa mengingatnya. Tak lama setelahnya saya mendengar sebuah objek menghantam dinding.Di tengah sedikit ingatan saya yang mulai muncul, saya mendengar jeritan putus asa para korban perang. Beberapa diantaranya saya melihat seorang ibu yang memeluk anaknya. Dan orang tua yang menyerah terhadap nasibnya. Tapi ketika saya menatap kearah Yilbegan yang sepertinya sudah terbiasa dengan semua masalah ini. Dia melihat ke atap dan berkata "Mereka sudah datang." "Mereka?" saya bertanya apakah yang dia maksud adalah Amram tapi sepertinya dia tidak memberikan respon. "Kau diamlah di sini dan menjaga yang lain." Dia berdiri dengan tubuh tegapnya dan berjalan ke arah padang pasir yang sunyi. Melihat ke arah sekitar dan suasana tempat itu masih sama "Kami semua telah merasakan keadaan seperti ini berkali-kali." Seorang kakek tua berkata saat rasa khawatir terlihat diwajah saya. "Kami selalu berdoa kepada pencipta yang tak pernah kembali, hanya dengan begitu saja kami bisa merasakan ketenangan." dia mengatakan sesuatu yang mengejutkan saya, sepertinya mereka juga telah tidak takut pada kematian yang menunggu diri mereka. "Jika boleh saya tahu, setidaknya dari dirimu." "Apakah kau yakin pencipta primordial akan kembali." Pria tua itu mengeluarkan nafas lelah dan memegang tongkatnya, sesekali dia meraba tongkat dari ranting kayu hanya untuk menambah indranya yang mulai pudar "Setidaknya itu yang dikatakan pria itu." "Yilbegan?" "Dia adalah lelaki yang gigih dibalik wajah datarnya, untuk kami para orang yang tak berdaya dia adalah harapan." "Apa kau tidak khawatir." Pria tua itu menghirup udara yang bercampur dengan debu bangunan "Aku hanya makhluk kecil di alam semesta yang luas ini meski begitu tanah gurun ini begitu indah untuk diingat begitu pula keinginan terakhirku." Setitik air mata membasahi hati saya yang rapuh "Semoga pencipta mengabulkan permintaanmu." Untuk kedua kalinya saya mendengar suara dentuman di antara nafas yang menghilang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD