Suara dentuman itu berasal dari atap bangunan, sepertinya Amram mengarahkan serangannya menuju atap bangunan untuk meruntuhkan tempat ini "Semuanya tolong berpindah ketempat yang lebih aman." ucap saya menggiring semua orang untuk keluar dari ruangan. Semua orang pun berlari dengan tergesa-gesa meninggalkan banggunan tersebut menuju pegunungan amasius tempat tak berpenghuni yang aman dari konflik antar suku selain oasis.
Semua orang pun berlari keluar ruangan sampai tidak ada satupun yang tersisa selain tongkat kakek tua yang ditinggalkan, saya pun mengambil tongkat tersebut dan mengamatinya. Ingatan saya kembali bergejolak dan sebuah gambaran pohon berbentuk naga terlintas di benak saya. Tongkat ini, artefak tua peninggalan naga yang menjadi salah satu utusan dewa primordial. Bagaimana kakek tua itu bisa memilikinya.
Saat saya mengamati tingkat dari pohon naga pertama sebuah siluet mengejutkan saya, tanpa berpikir panjang saya pun menghindar dan masuk kedalam ruangan lain untuk menghindari panah yang menyerang saya.
"Mengubah." kalimat itu terdengar tapi sepertinya kata ini bukan terdengar dari Yilbegan maupun amram. Jika demikian pasti ini orang lain. Apakah itu Abqary ?
Sebuah besi tajam kembali menyerang saya, dengan tegap saya mengangkat tongkat dari pohon naga dan kembali merapalkan doa pada dewa primordial.
Pemilik belas kasih dan kebijaksanaan
Pencipta awal dan akhir
Penuntun iman
Memohon pada dia maha besar
Berharap doa saya dapat terjawab namun sayangnya belahan besi berjumlah empat buah tersebut lebih cepat menyerang saya, sontak saya membelahnya dengan tongkat milik kakek tua tersebut yang tentu saja tongkat tersebut terbelah menjadi dua yang membuat saya mau tak mau kembali menghindar.
Mengambil kesempatan ini saya pun berlari ke arah padang pasir untuk menemui yilbegan yang merupakan penyihir yang mungkin saja dia mengetahui sesuatu tentang cara menggunakan tongkat ini. melompat melewati dinding yang berlubang saya berlari menuju ke arah padang pasir yang masih diterangi oleh bulan berwarna biru.
Dari kejauhan saya melihat Amram yang menyerang dengan bola api dan Yilbegan yang menahannya dengan pedang pedang buatan miliknya. Saya pun berteriak ke arahnya "YILBEGAN.." dan saat itulah dia melihat kearah saya dengan mata terbelalak.
"Bodoh kenapa kau berlari menuju medan perang." dia memarahi saya dengan wajah kesalnya.
"Api.." cahaya api merah pun menyerang ke arah saya, Yilbegan yang terlihat begitu kesal pun melepas kain yang menutupi wajahnya untuk menghalau kobaran api yang menyerang ke arah tenggara.
Disitulah saya bisa melihat siluet wajahnya yang tegas dan begitu dingin seperti bulan dilangit malam "Terbentuk." pedang buatannya menyerang ke arah timur pada besi tajam yang terus diarahkan kepada saya.
"Lemparkan tongkat itu kepadaku." ujarnya kepada saya dan tongkat itu saya lemparkan sesuai keinginan.
"Terbakar." dengan sigap api membakar tongkat tersebut yng berakhir membuatnya terbelah menjadi 2 sebelum Yilbegan menerimanya.
"Kau.." Yilbegan pun kembali menyerang ke arah Amram yang membuat pedang dilemparkan ke arahnya. Dia pun memberikan serangan Vertikal dari arah bawah untuk melemparkan pedang tersebut.
"Terbentuk." tiga buah pedang pun diarahkan ke sisi amram untuk menghentikan pergerakannya.
"Trik lama." Pedang yang dilemparkan itu kembali ditarik dan memberikan serangan balik.
Ia pun berlari ke arah Yilbegan untuk memutuskan pertarungan jarak jauh antar keduanya, Amram pun menyerang dari arah atas untuk memotong pertahanan Yilbegan "Terbakar." pedang yang berpadu dengan api itu pun menarik pergerakan Yilbegan mundur.
Dan dari arah belakang saya pun sebuah butiran pasir terangkat memutuskan gaya gravitasi "Menggubah." dan dengan bertahap butiran pasir itu berubah menjadi bongkahan besi tajam.
"Alkimia." ujar saya terkejut, jadi Abqary adalah pengikut dari sayap pertama.
Beberapa bongkahan besi itupun dilemparkan ke arah saya yang masih terkejut dengan kenyataan yang saya terima, apakah dia memiliki keterkaitan dengan diri saya dimasa lalu.
Saya pun membalikkan tubuh saya ke kiri untuk menghindari bongkahan besi tajam yang berakhir menyobek separuh wajah saya.
"Kau tuan alkimia." Yilbegan memanggil saya yang mau tak mau saya melihat ke arahnya yang sangat disayangkan fokus saya kembali terbagi dengan besi tajam yang kembali dilemparkan ke arah saya.
"Ambil tongkat itu sebelum benar-benar terbakar dan ikuti perkataanku." saya pun memberikan persetujuan di tengah menghindari serangan dari Abqary.
Mengambil tindakan yang saya bisa saya pun terus menghindar di tengah medan pertempuran yang tiada hentinya. Ketika saya mencoba menggapai tongkat tersebut di antara tumpukan pasir gurun membentuk sebuah tubuh dan Abqary pun muncul mencoba mengambil tongkat yang mulai berubah menghitam "Terbentuk." sebuah pedang dilemparkan diantara bebatuan yang berjarak 15 meter dari tempat kami berdiri dan tubuh itu pun kembali hancur menjadi butiran pasir.
Dengan cepat saya pun mengambil tongkat dengan menahan rasa perih arang dari kobaran api "Aku sudah mendapatkannya." saya berteriak di tengah pertarungan antara Yilbegan dengan Amram.
"Dengarkan baik-baik, dia yang terlahir dari api." Amram pun menarik serangan untuk mengacaukan pikiran Yilbegan.
"Dia yang terlahir dari api." saya mencoba mengulang perkataan Yilbegan di tengah telapak tangan saya yang menahan rasa perih dengan nyeri yang begitu hebat dari pertarungan sebelumnya. Tapi pertarungan dua orang itu tak pernah usai dengan Amram yang terus menguras tenaga Yilbegan.
"Tuan dari malam biru." Dia kembali memberikan kalimat berikutnya saat kedua tangannya memperkuat pegangan pedang dalam menahan serangan amram yang mencoba membelah Pundak kirinya.
"Tuan dari malam biru." Saat kalimat kedua diucapkan api itu berubah menjadi api biru dingin dan mulai menumbuhkan cabang baru diantaranya.
"Ini akan menjadi kalimat terakhir setelah itu ubahlah besi menjadi emas." Kalimat berikutnya pun dikeluarkan saat yilbegan mulai mendapatkan ruang untuk menyerang "Bagian dari empat kebijaksanaan pencipta".
Tanpa menunggu lama saya pun mengulangi kalimat tersebut, api biru pun membakar tongkat dari ranting kayu menjadi butiran abu dan meninggalkan sebuah jam astrologi.