"Terbentuk." Puluhan pedang pun tercipta dan mulai menyerang amram satu persatu untuk menariknya mundur dari medan pertempuran.
Yilbegan dengan gesit bergerak mendekat kearah Zahab "Jam itu bisa membantu menyalurkan kekuatanmu dan menghentikan serangan musuh."
"Sekarang rapalkan doa mu tadi dan lakukan seperti yang musuh lakukan." Zahab memberikan persetujuan. Jarinya memegang jam astrologi dengan begitu erat, kedua matanya tertutup dan dengan khidmat mulai mengulang merapalkan doa.
Pemilik belas kasih dan kebijaksanaan
Pencipta awal dan akhir
Penuntun iman
Memohon pada dia maha besar
"Menggubah.." keajaiban lain pun kembali terbentuk, cahaya emas berkilau menerangi tempat itu di antara birunya cahaya bulan, butiran demi butiran pasir terangkat melawan gaya Tarik alam dan menyatukan ikatan satu dengan yang lain menjadi sebuah bulatan-bulatan pasir.
Doa itu berhasil dipanjatkan tapi belum sempat pasir itu berubah menjadi emas pedang itu lebih cepat dalam menusuk tubuhnya, membuat darah merembes pada pakaian birunya dan menyayat organ dalamnya.
Abqary pun menarik pedangnya sontak zahab terjatuh, darah segar ia memuntahkan dari mulutnya. Luka baru pun bertambah di tubuhnya dengan dirinya yang semakin terlihat tak berdaya di pertempuran ini.
Yilbegan yang keberadaannya tidak jauh dari tempat itu kembali mengayunkan pedang miliknya, kali ini pertempuran menjadi dua lawan satu sayangnya Zahab tidak berhenti di situ "Menggubah." dia mencoba kembali merapalkan doa yang membuat pasir-pasir itu berubah menjadi besi dan menyerang Abqary.
"Jadi kau sudah memilih siapa lawanmu." Abqary menatap dingin dengan matanya yang berwarna kuning pada orang didepannya.
Ia berusaha berdiri dengan badan yang berpegangan dengan pedang perak yang dia ciptakan dari pasir. Kemudian dia mengangkatnya siap untuk memulai pertempuran meski jemari kanan nya masih melepuh akibat api yang diciptakan Amram.
"Mengubah." Kata itu merupakan mantra yang melesat menyerang menuju orang yang telah ditargetkan layaknya ujung busur tajam. Tiga buah busur pun melayang mengarah tepat ke tubuh musuh.
Zahab mempertahankan tubuhnya, jarinya menggenggam pedang dan mengayunkan kebawah. Serangan yang dia berikan ia pantulkan balik ke arah lain, kemudian ia memberikan serangan lurus horizontal untuk membalikkan keadaan.
Sayangnya tiga serangan awal sudah cukup memperluas rasa sakit di tubuhnya, ia kembali terjatuh dan terbatuk beberapa darah segar membuatnya tak berdaya.
Serangan berikutnya kembali datang diarahkan pada dirinya yang kini memiliki tubuh yang tak berdaya "Emas." Ucapnya memberikan serangan balik pada musuh yang terlihat begitu tenang namun penuh oleh emosi yang begitu ditahan.
Dua logam mulia berbentuk ujung busur saling bertemu dan melemparkan satu sama lain.
"Kenapa kau masih bertahan." Pertanyaan itu dikeluarkan dan mengguncangkan hati anak muda yang tak berada di sana.
"Aku pun tak tau.." Zahab hanya tertawa getir menahan setiap rasa sakit, ia benar benar ingin mengumpat. Dirinya begitu terlihat seperti seorang pecundang saat ini.
"Kematian yang menghantuimu terus berdatangan namun visimu masih ingin hidup bahkan ketika kau terdampar di padang gurun." Abqary berkata penuh tanda tanya.
Zahab kembali dibuat ingin tertawa, pikirannya dan hatinya mulai berkata.
Saya berkali kali hampir mati baik sejak saya sadar bahkan di tempat yang jauh seperti ini namun keinginan saya bertahan begitu kuat.
"Kau benar seharusnya aku telah mati berkali-kali bahkan ketika Yilbegan menjatuhkan tombak penghukuman." Saya mengolah kata untuk menemukan kalimat yang tepat untuk mengungkapkan isi hati saya, setidaknya itu dapat membungkam emosi yang dimiliki Abqary "tapi aku mengetahui cerita tentang anak muda yang mencari harta karun di puncak-puncak piramida dan aku pun akan mencari harta karun dari ingatan-ingatanku."
"Jalan yang kau lewati akan begitu sulit dan dengan keberadaanku sebagai batu yang akan kau lalui." Abqary mengangkat tangannya dan kembali mengucapkan mantra "Mengubah."
"Emas." saya menggunakan doa kepada pencipta primordial untuk mengurangi kerusakan tubuh saya yang disebabkan oleh pertarungan.
Emas dan besi pun Saling bertemu dan dari arah belakang saya mendengar sebuah serangan pedang saya pun berbalik dengan tubuh setengah berdiri untuk menahan serangan yang diberikan oleh Abqary.
Tubuh saya pun terlempar mundur dan berguling diantara butiran debu pasir meski begitu saya masih mencoba untuk berdiri dengan sisa kemampuan ditubuh saya.
Melihat ketidak berdayaan yang saya miliki itu tak membuat abqary menghentikan serangan nya sepertinya pertempuran ini akan terus berlangsung sampai saya tak sadarkan diri.
Tubuh saya berdiri menahan serangan yang diberikan dalam pertarungan jarak dekat yang kami lakukan, Abqary memimpin pertempuran dengan memberikan serangan pada Pundak kiri saya yang hanya bisa pertahankan dengan pedang perak di tangan kiri saya. Kemudian dia menariknya mundur dn memberikan serangan menyerang dari arah bawah. Pertarungan itu hanya bisa membuat saya bertahan tanpa memimpin pertempuran sama sekali.
Sampai saya merasakan yang tidak beres dan saya melihat ke arah Yilbegan dan yang benar saja sebuah pedang menusuk tepat di arahnya dan itu berasal dari senjata saber milik Amran "Yilbegan." Saya berteriak memanggil namun yang saya lihat hanyalah Amram yang melihat saya sekilas dan menarik pedang saber miliknya. Dan tak lama cahaya bulan menjadi begitu terang dilangit yang biru.
Dengan lirih sebuah suara pun terdengar dengan kepala saya yang berguncang seolah ingatan saya akan kembali lagi namun firasat saya mengatakan bahwa sebuah keberadaan yang tinggi akan mendatangi kami tidak. Saya memikirkan bagaimana itu bisa terjadi, Tunggu bagaimana itu tidak turun namun merasuki diri seseorang.
Saya pun merasakan sesuatu yang sangat tinggi menindas kami nuansa ditempat pun terasa begitu berat. Kepala saya kembali berdenyut dengan beberapa potongan memeri seperti ombak memasuki ingatan saya.
'Apakah kamu takut' hanya kata itu yang memasuki ingatan saya sebelum kesadaran saya mulai terkelupas sedikit demi sedikit, Dari kejauhan saya mendengarkan Yilbegan seperti merapalkan sesuatu.
Saya berdoa pada kesetiaan yang abadi.
Yang tidak pernah berpisah dengan terkasih.
Pengampun dan pemaaf dari setiap kesalahan.
Dan pemberi kasih dari setiap yang bukan miliknya.
Saat itulah Saya melihat tubuh Yilbegan yang dengan lambat berubah menjadi binatang buas dengan tinggi 4 meter dan diantara tubuhnya menumbuhkan 6 buah kaki binatang layaknya serigala dengan kepala berwajah tengkorak dan tanduk naga yang begitu tajam.