Semua itu terjadi dengan tiba-tiba, cahaya yang dengan begitu cepat menerangi Yilbegan dan doa yang dirapalkan tanpa saya tau apa tujuan dari doa tersebut menambah keterkejutan saya.
Bahkan saya tidak benar-benar mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi ditempat ini. Semua berkata tentang konflik antar suku, namun yang lain mengatakan tentang kebangkitan dewa primordial.
Sayangnya yang saya lihat tepat didepan mata saya hanyalah Yilbegan yang berubah menjadi monster. Sebenarnya apa mimpi-mimpi dari semua orang ditanah Oasis ini "Ada yang tidak beres diantara semua ini." Saya berkata singkat mencoba kembali membenarkan sebuah benang yang telah kusut.
"Kau benar, tapi ini adalah takdir dari penebusan yang diberikan kepada kami." Saya kembali terdiam, kali ini hal baru menambah pikiran saya yang sudah cukup racau.
"Dendam telah terbalaskan dan pengorbanan telah dibuat, kini di depan kami dewa akan benar-benar turun." Abqary mencoba meninggalkan saya yang benar benar telah tak berdaya menahan dentuman suara yang dilolongkan dari monster Yilbegan.
"Ini bermula dari dia yang ingin memahami hati yang dikatakan oleh gadis gereja yang berada di puncak gunung ia pun memulai jalannya dan dia melihat begitu banyak emosi bahkan dari yang terkecil dan dia bertemu dengan pemimpin Oasis yang meminta untuk membunuhnya karena telah mengetahui kebenaran pencipta dan di sanalah dia mengetahui tentang semuanya."
"Kebenaran Pencipta." Saya bertanya dengan tubuh yang mulai mencoba untuk berdiri.
"Minumlah, cairan ini terbuat dari penyulingan bulu burung phoenix." Dia memberikan saya sebotol cairan tanpa mempedulikan pertanyaan saya. Tanpa berpikir Panjang pun akhirnya saya meminumnya dan luka di tubuh saya beregenerasi dengan cepat "Jika keadaanmu sudah membaik bangunlah, ada dewa jahat yang akan turun dan kita perlu menghentikannya."
"Bagaimana dengan Yilbegan." Saya melihat ke arah Abqary, dia hanya terdiam dan memilih memalingkan pandangannya.
"Kau seharusnya telah mengetahui apa yang akan terjadi jika tubuh seseorang telah dirasuki oleh dewa jahat."
Saya pun hanya diam dan berdiri, sepertinya Yilbegan memilih mengorbankan dirinya sebagai bentuk pengorbanannya atas sesuatu yang belum saya ketahui, saya melihat ke arah jam arkeologi dan kemudian menyadari sesuatu. Tatapan saya melihat kearah langit yang membentuk rasi bintang "Ini.."
"Apa kau menemukan sesuatu." Abqary melihat kearah saya yang kebingungan.
Tidak, ini tidak mungkin dia tidak ingin membangkitkan dewa primordial atau pun mengorbankan dirinya untuk dewa jahat tapi menunggu kebangkitannya untuk menjadi dewa jahat itu "Ini gila." Apa sebenarnya tujuan dari Yilbegan dan siapa dia sebenarnya.
"Jika aku membaca wajahmu sepertinya kita harus segera menghentikan monster itu." Abqary dengan cepat bisa membaca apa yang saya rasakan saat melihat rasi bintang di langit.
Saya hanya mengangguk sebagai satu-satunya respon yang dapat saya berikan kepada Abqary dan kami pun dengan cepat berlari menuju arah Amran berada yang sedang bertarung menghentikan kebangkitan Yilbegan.
"Oh saudaraku senang sekali kalian bisa membantu." Amram melihat ke arah kami setelah menghindari serangan dari monster di depan kami. Sepertinya emosinya tidak begitu terpengaruhi oleh pertarungan mereka sebelumnya.
"Kau berhutang banyak cerita kepadaku." Saya berkata sebelum menghunuskan serangan dengan pedang ke arah tubuh monster.
Abqary dari arah belakang kami membentuk belahan besi tajam untuk menghentikan pergerakan musuh.
"Aku akan memberitahumu nanti tapi sebelum itu mari kita hentikan guru terlebih dahulu." Saya sedikit terkejut tapi saya menahan diri untuk mengajukan pertanyaan lebih lanjut mengingat kondisi kami yang sedang mencoba menghentikan kebangkitan dewa di diri Yilbegan.
Pertarungan pun berlangsung dengan kami bertiga menahan ocehan dan amukan dari Yilbegan yang mencoba melakukan pendewaannya.
Saya mencoba memberikan pukulan pada bagian tubuhnya namun itu tidak dapat tergores sedangkan luka yang dibuat oleh Abqary mengalami regenerasi yang sangat cepat itu membuat kami berpikir mencari titik terlemah dari musuh yang menyerang.
Monster itu berteriak dan memunculkan beberapa pedang dari langit yang berjatuhan seperti hujan, Saya pun mulai merapalkan doa dan kembali menggubah pasir di sekitar saya menjadi emas dan melemparkannya ke arah pedang yang berjatuhan.
Amran hanya bisa menghindar menggunakan kedua pedang miliknya dan memanfaatkan pedang tersebut dan melemparkannya ke arah monster.
Yilbegan pun kembali menjerit setelah mendapat luka di tubuhnya dari senjata yang dirinya buat sendiri. Kami berdua pun menyimpulkan mungkin bukan sesuatu yang terbuat secara fisik yang dapat menghentikan Yilbegan tapi kemampuan Keilahian yang dapat menghentikannya seperti pedang yang dimilikinya dari belokan kekuatan milik pencipta primordial.
"Terbakar." Amram mengeluarkan doa pertama untuk menghentikan pergerakan musuh sebelum kami benar benar mengetahui titik lemahnya.
Tubuh monster itu pun terbakar pada beberapa bagian di tubuhnya yang menyebabkannya kembali menjerit dan menjatuhkan beberapa pedang dari arah langit, saya dan Abqary pun kembali mengubah pasir menjadi logam mulia dan memantulkan pedang-pedang itu kembali ke arah tubuh monster yang membuatnya tergeletak tak berdaya.
Sayangnya belum selesai disitu kami kembali mendengar suara dentuman yang sontak membuat kami bertiga terpental berakhir terkapar di padang pasir, indra pernafasan saya mengeluarkan darah sedangkan Amram yang berada paling dekat dengan musuh mengalami beberapa luka dan tak sadarkan diri.
Saya melihat kearah Abqary yang masih berusaha berdiri dari ketidak sadaran dirinya, saya bahkan dapat melihat darah mengalir dari lengan kanan nya yang sepertinya mulai mati rasa akibat dari dentuman tadi.
Suara dentuman seperti apa yang dapat dengan cepat melumpuhkan manusia. Semua orang selalu memperingatkan dewa memiliki tingkat yang bahkan tidak dapat manusia lihat secara langsung, lalu apakah didepan saya bukan makhluk yang ingin menjadi dewa. Meski begitu, melihat semua ini kita telah berada di tingkat yang berbeda.