Bab 11: Penyegelan

807 Words
Suara dentuman tadi berhasil membuat Amran tak sadarkan diri dan terlempar ke arah bongkahan gunung batu di sisi barat dan saya yang berada di sisi reruntuhan bangunan yang telah monter tersebut hancurkan. Seolah memiliki kesadaran monster tersebut mendekat kearah saya, dengan cepat saya merapalkan doa kemudian melemparkan bongkahan emas pada indra penglihatan monster. Suara jeritan pun kembali terdengar dan pedang pun kembali terbentuk, saya pun sontak menarik senjata saya dan kembali membentuk bongkahan emas untuk melemparkan pedang ilusi kearah monster. Pedang ilusi menancap kembali pada pemiliknya, suara jeritan berikutnya datang yang tak dapat ditolak sayangnya di tengah tubuh saya yang menahan rasa sakit suara gemuruh angin menghantam saya dan membuat diri saya terlempar semakin jauh. Darah segar saya muntahkan akibat dari rasa sakit di punggung saya yang terhantam reruntuhan dan semakin memperparah keadaan diri saya saat ini. Di tengah tubuh saya yang menahan semua rasa sakit dari darah yang mengalir pikiran saya mulai terdiam memikirkan cara untuk mengingat banyak hal sebagai diri seorang ahli alchemist. Tak berhenti disana monster tersebut mencoba menghantamkan kaki depannya kepada saya yang tak berdaya, sontak dengan cepat saya berkata "Terselimuti." Untuk menghentikan pergerakan monster dengan menggunakan tiang-tiang dari emas yang menghentak kedalaman pasir. Memikirkan cara, apakah penyegelan dapat dilakukan pada monster yang sedang dalam proses pendewaan. Jika demikian akan sangat berguna jika saya dapat mengingat metode tersebut. "Apa kau sudah menyerah??" Abqary mendekat kearah saya dengan memegangi tangannya yang mati rasa, dari tempat saya dapat melihat aliran darah yang keluar dan menetes melalui jari-jarinya. "Aku hanya sedang mencari cara untuk menghentikannya." Saya melihat dengan senyum sedikit tersinggung. Dan darah segar kembali saya muntahkan saat kata-kata tersebut keluar dari mulut saya. Tubuh ini sepertinya sebentar lagi akan mencapai batasnya "Apa kau tidak ingin memberitahuku bagaimana caranya." Singgung saya ditengah monster tersebut yang kembali mencoba melarikan diri. "Dia tidak bisa dihentikannya hanya dengan apa yang kalian lakukan tadi." Dari kedua bola mata saya terpantul gambaran dari wajah abqary yang mendongakkan kepalanya menatap monster yang begitu besar. "Di Depan mata kalian saat ini bukanlah kebangkitan dewa jahat ataupun pencipta yang satu, itu adalah kembalinya sayap pertama Bulan Biru. Salah satu dari tiga makhluk besar yang berhasil ditundukkan pencipta malam, selama ein sof terus mengalir melalui cahaya bulan biru kau tidak akan bisa menghentikannya." Saya menarik nafas dalam-dalam mendengar penjelasan dari Abqary, mencoba mengumpulkan pikiran saya saat ini saat saya kembali berdiri untuk melawan monster Yilbegan. Saya tahu ini akan menjadi pertarungan terberat dalam hidup saya, namun saya harus menghadapinya secara langsung. Kata-kata Abqary bergema di benak saya, mengingatkanku bahwa aku tidak bisa menghentikannya hanya dengan menggunakan taktik yang sama seperti sebelumnya. Saya harus menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang memungkinkan saya memanfaatkan kekuatan ein sof dan menggunakannya untuk keuntungan saya. "Bagaimana dengan penyegelan jiwa." Abqary menatap saya seolah tak percaya dengan apa yang saya maksud dengan itu. "Apakah yang kau maksud penyegelan dengan berkah sang pencipta yang satu??" Dia bertanya. Aku mengangguk, merasakan secercah harapan di hatiku. Penyegelan jiwa adalah teknik ampuh yang dapat memenjarakan jiwa seseorang di dalam tubuhnya, mencegahnya menyebabkan kerugian pada orang lain. Itu adalah teknik kuno yang telah digunakan oleh para penyihir dan ahli sihir yang kuat selama berabad-abad. Namun, itu diperlukan pengorbanan dalam melakukannya. "Aku tidak akan melakukan metode tersebut jika aku masih mencintai jiwaku yang mengejar mimpi." Saya kali ini hanya memberikan senyum tipis pada orang yang baru saja menusuk saya dari belakang. Kau juga baru saja mencoba mengakhiri hidup saya. Tak lama dari kejauhan suara dentuman mengalihkan perhatian kami. Pilar-pilar yang saya gunakan untuk menahan tubuh monster tersebut telah berhasil dihancurkan dan kini suara dentuman berikutnya akan dikeluarkan dengan cepat kami berdua menghafalkan doa dan mengarahkan serangan pada monster yang mencoba untuk kembali membangkitkan kekuatannya. Saya saat itu juga, saya mempersiapkan diri untuk pertempuran melawan monster Yilbegan. Rencana kami adalah untuk menyegel jiwanya, Yilbegan bukanlah monster biasa; dia adalah kekuatan yang harus diperhitungkan. Dengan pedang di tangan saya mengangkatnya begitu tinggi pada cahaya rembulan dimalam hari dan merapalkan doa seperti yang saya lakukan sebelumnya. "Apa kau bisa membantuku dengan rencana ini." Tanya saya mencoba menyakinkan Abqary sebelum saya benar-benar tumbang akibat menahan semua dentuman dan jeritan yang mencoba menghancurkan pikiran saya sedari tadi. "Aku akan membantumu, namun ingatlah untuk semua pilihan yang kau buat." Abqary memperingatkan saya untuk kedua kalinya. "Percayalah mimpiku akan selalu menemaniku." Saat itulah Abqary yang saya lihat dengan tubuhnya tiba-tiba hancur menjadi pasir saya pun terkejut namun kembali mencoba memfokuskan pikiran pada pertarungan. Kami pun menyerbu monster tersebut dengan bongkahan besi dan emas dari langit untuk menghancurkan sistem regenerasi pada tubuh monster. Disisi lain monster tersebut mencoba memberikan serangan kembali dengan menghempaskan kami dari enam kakinya. Saya pun mencoba menghindari serangannya dan menyerang balik dengan sekuat tenaga. Saat pertempuran berlangsung, kami dapat melihat bahwa Yilbegan semakin lemah. Serangan kami mulai berdampak buruk padanya, dan dia kesulitan untuk mengimbanginya. Itu adalah kesempatan sempurna untuk menghentikannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD