“Profesor sepertinya anda harus segera menemui adik saya.” Noa yang sepertinya telah menyatu dengan suasa ini memperinggatkan sebelum hal yang lebih buruk terjadi “Tolong bawa pedang ini bersama anda saya yakin dia pasti membutuhkannya.”
Saya menerima pedang yang diberikan oleh noa, pada dasarnya itu adalah pedang bermata satu dengan bentuk sedikit melekung yang merupakan cirikhas pedang dari benua ini. “Ku pastikan pedang ini akan sampai padanya.”
Noa hanya menggangguk dan menggajak ibunya meninggalkan perkemahan yang mulai kacau oleh api.
Saya menunggu untuk memastikan bahwa mereka telah pergi ketempat yang lebih aman dan kemudian kembali ke titik awal saya mengginjak tanah Oasis yang sudah dipenuhi oleh kekacauan.
Diantara pertempuran sengit yang terjadi Amram menjadi focus perhatian saya namun itu terhalang oleh banyaknya orang yang beradu pedang. Dan saya menjadi terlibat diantaranya saat seseorang dari arah belakang mencoba menikam tubuh saya.
Pedang yang masih terbungkus oleh sarung itupun dengan cepat saya tarik menyebabkan bunyi nyaring dari gesekan dua belah senjata untuk menghindari serangan yang di berikan. Akibat perbedaan kekuatan tubuh milik saya tertarik mundur beberapa langkah.
“Di luar dugaan meski ingatan anda menghilang insting berlindung anda masih sangat kuat tuan Alchemist.” Pria itu memandang pantulan wajahnya kedalam sebuah pedang, memperlihatkan matanya yang berwarna sebiru langit siang. Wajahnya yang ditutup lembaran kain membuatnya sulit dibaca oleh musuh.
Dan kata-katanya yang menyiratkan beberapa hal membuat saya terdiam “Entahlah, aku sendiri juga tidak tau menggapa bisa begitu.” saya mencoba memancing emosinya yang ternyata berhasil membuatnya tersulut pada akhirnya.
Dengan sigap dia memberikan serangan mencoba menggarahkannya pada Pundak kiri saya yang menyebabkan tumpuhan tubuh saya lebih pada senjata dari sisi bawah untuk menangkis serangannya. Memberikan belokan, tubuh lawan yang mundur menarik saya maju untuk membalas serangan.
Langkah pertama dari serangan berasal dari arah kanan yang menimbulkan deritan dua senjata dan berbagai serangan terus bertambah diantara kami berdua. Kemampuan berpedangnya yang sangat baik membuat saya baru sadar siapa sebenarnya pria ini, awalnya saya berpikir mungkin saja dia bagian dari suku yang memicu peperangan. Tapi jika memang demikian mereka memiliki banyak pengguna pedang yang terampil.
“Kau memiliki ketrampilan berpedang yang sangat luar biasa.” Puji saya yang khawatir akan menimbulkan kesalah pahaman.
“Saya merasa sangat terpuji mendenggarnya.” Dan itu benar terjadi dengan sanggahan yang dibuat berlebihan “Tapi mari kita lihat sampai kapan anda dapat terus memuji.”
“Terbentuk.” Ucapnya dalam Bahasa yang tidak dapat saya ketahui.
Keterkejutan dan rasa waspada menyambut saya saat melihat beberapa pedang di udara. Ilmu sihir, sepertinya dia menciptakan belokan dari pencipta. Padahal saya sangat yakin ilmu sihir sudah banyak ditinggalkan oleh peradaban setelah dewa tak pernah kembali.
Dengan kemampuan sihir yang dimiliki dia mencoba menyerang saya dengan menggarahkan serangan pertama tepat didepan wajah. Kedua mata saya membola penuh keterkejutan, mau tak mau saya menangkis dengan gerakan vertical membuat pedang tersebut terlempar kearah lain. Kemudian tiga buah datang lagi menyerang pada bagian pundak, tubuh saya merespon untuk menghindari serangan yang terjadi begitu cepat.
Serangan terus terjadi dengan saya yang hanya dapat menangkis dengan satu tangan untuk menggikuti kecepatan serangan yang diberikan.
Seandainya diri saya dapat menggingat beberapa hal dimasa lalu dengan begitu tubuh saya dapat menggurangi kelamahan yang penuh celah ini. Memikirkan solusi untuk menggimbanggi pertempuran yang saya dapatkan hanyalah pilihan untuk terus maju menggalahkan lawan didepan saya.
Seranggan kembali datang dengan acak dan sepertinya senggaja dibuat untuk mengguras tenaga, sepertinya memang dia lebih menggenal diri saya bahkan dia tau bahwa saya sedang berada dalam keadaan tubuh yang kelelahan sejak tersadar dipadang gurun.
Di tenggah pertempuran yang penuh celah ini sebenarnya saya sudah tahu bahwa mereka menargetkan saya sebagai salah satu sasaran mereka tapi apakah perlu membuat seseorang sampai bertarung seperti ini. Bukankah mereka hanya perlu membuat saya menyerah, atau mungkin saja mereka juga menggincar sesuatu yang lain dari diri saya.
Saya mulai merasakan kelelahan ditenggah pertempuran yang tidak dapat saya imbanggi ini. Beberapa pedang mulai datang dengan jarak yang lebih dekat untuk menggincar kaki saya yang mengharuskan tubuh kembali melompat untuk menghindar, tanpa menunggu untuk menyelesaikan tumpuhan seranggan kembali datang menggarah ke leher. Sebuah pemikiran terbesit hanya untuk membuktikan apa yang ada di pikirannya, ketika saya sudah menapak tanah tubuh saya bertindak untuk tidak memberikan seranggan balik.
Pedang yang berada ditanggan saya terjatuh ditanah dan seranggan udara yang diberikan pada saya tiba-tiba berhenti. Dapat dipastikan ekspresi wajahnya menjadi semakin tajam saat melihat pemandanggan tersebut, ditambah dengan kedua tanggan saya terangkat sebagai bukti bahwa “Aku menyerah.”
“Tsk.” Kekesalan yang begitu jelas tergambar didalam matanya ditenggah seranggan yang terhenti tepat dileher lawan. Sebuah senyum yang begitu jelas didalam bola mata terlihat menggejeknya penuh kemenangan.
Senjata itu pada akhirnya ditarik mundur oleh pikirannya bahkan pada titik dimana Alchemist itu tidak dapat menggetahui keberadaannya. “Benar-benar diluar dugaan bahwa kau tidak menyerangku.” Kalimat profokativ dibuat didepan wajah tersebut hanya untuk mengggacaukan emosi yang dia miliki. Tapi sayangnya ketenangan dalam bola mata itu begitu jelas hanya untuk menunggu sebuah ombak datang menerpa.
Dengan cepat Alchemist tersebut mencabut pedang yang tertancap ditanah dan melemparkannya untuk menggetahui senjata yang ia bawa dilempar kearah lain oleh pedang milik musuhnya. Tapi kini seranggan berikutnya datang dengan tujuan menghantam punggung musuhnya.
Pria tersebut membalikkan badan untuk menahan seranggan yang diberikan. Hantaman antar pedang menyebabkan bunyi deritan dari gaya dorong yang terjadi. kedua bola matanya meneliti kedalam wajah lawannya yang menggibarkan helaian warna merah, wajahnya yang tersenyum penuh rasa haus akan kematian menyatu kedalam bola mata kuningnya yang menggecil.
Tatapan yang seolah akan menelannya hidup-hidup itu menahan tubuhnya yang berakhir terlempar mundur. Tanpa perlu menunggu lama pedang yang menggetahui siapa tuannya ditarik dengan dorongan dari dua kutub magnet.
Ia kembali menyerang dalam jarak beberapa meter diantara mereka. Mencegah pertempuran jarak dekat terjadi musuh kembali menggeluarkan pedang diudara dan diterbangkannya kearah Amram. Dengan gerakannya yang gesit ke dalam mata kuningnya yang pandai dalam menentukan serangan musuh ia bergerak maju dengan baik.
Hantaman pedang yang dibuat oleh sihir bertemu dengan miliknya, ia menggambil sisi tenggah pedang tersebut dalam gesekan dua buah senjata, mendorongnya menyebabkan pedang tersebut terlempar kesisi lain. Serangan datang dari arah lainnya lagi, gerakan senjata yang cepat tersebut membuat lengan kirinya bergerak untuk menghentikan kecepatan pedang dan menjatuhkannya.
Proyeksi pedang yang lain berdatanggan namun seolah telah terbiasa dengan pertempuran ini menjadikan senjata yang dibuat dari belokan ketuhanan itu dilemparkan diberbagai arah. Tubuhnya yang kini tak bisa dihentikan bergerak maju untuk membunuh musuh dan bergumam “Mari kita selesaikan pertempuran dimasa lalu saudaraku.”