Amram melaju menerobos setiap serangan yang ditargetkan oleh musuh, gerakan kedua tanggannya memotong pedang seperti membelah busur menggakibatkan bunyi dentingan hantaman senjata.
Langkahnya yang kini berada setenggah jalan dari titik awal kembali ditahan oleh serangan yang kembali menerjang dari arah jam sepuluh. Tubuhnya yang begitu gigih melemparkan pedang ditanggan kanannya, menimbulkan benturan dua buah benda tajam. Dan dengan begitu gesit dia berlari dalam ayunan kedua pedangnya, memberikan luka pada lengan kanan musuh yang akhirnya menarik senjata dari sarungnya untuk melakukan perlindungan diri.
Senjata saber Amram mendorong ketika mereka kini berada dalam jarak dekat, Dua buah senjata bermata ganda dan tunggal saling menyerang memberikan gejolak pada Jiwanya yang sejak awal memang telah haus akan pertempuran. Ekpresinya yang tersenyum benar-benar menggambarkan suasana hatinya yang dapat dibaca oleh mata biru dalam menahan serangan dari lawannya.
Musuh kembali menggeluarkan proyeksi pedang dari arah jam dua belas ditenggah ketegangan yang ada dimatanya. Disisi lain Amram kembali menarik senjatanya yang terlempar entah kemana, menjadikan senjata itu sebagai tameng dari dua buah pedang yang menerjangnya dari arah atas.
Ia mendorong dan menendang memberikan pukulan jauh pada musuh “Sepertinya kemampuanmu mulai berkurang tuan bermata biru.” Pedangnya di ayunkan siap untuk pertarunggan berikutnya.
Pria itu hanya diam tak memberikan tanggapan apapun pada lawannya, pedang yang tadinya ia gunakan untuk bertarung kini kembali disarunggkan. Ia menghela nafas dan baru memberikan balasan “Aku tidak ada waktu untuk menggurusi balas dendammu.”
“Terbuka.” Pria itu menjetikkan jarinya menyebabkan suara gemuruh terdenggar diseluruh tanah Oasis, lingkungan itu bergetar begitu hebat dengan suara degungan dari arah lereng. Semua orang terkejut saat semua tubuh di tanah Oasis merasakan intimidasi yang sangat kuat.
Suara demi suara berdatangan ke dalam telingga, itu adalah jeritan yang melolong saling bersautan tatkala malapetakan mendatangi pendenggaran kami. Diantaranya berisi suara denggungan yang begitu nyaring disertai badai angin yang begitu bergemuruh.
Tubuh saya menahan diri untuk tidak jatuh kedalam tekanan yang diberikan oleh suara, usaha tersebut menggantarkan pada pembuluh darah yang semakin membesar dan meledak. Kepala saya semakin merasakan rasa sakit yang sangat hebat dari waktu ke waktu.
Saat itulah suara lain memasuki pendenggaran yang tanpa sadar saya menggejanya.
Pemilik belas kasih dan kebijaksanaan
Pencipta awal dan akhir
Penuntun iman
Memohon pada dia maha besar
Langit pun robek memperlihatkan cahaya emas Panjang penuh kemulian namun itu tak lama menghilang digantikan oleh tombak berukuran raksasa. Semua orang di tanah Oasis tak berdaya dihadapannya. Itu tak lain adalah salah satu dari senjata penghukuman milik dewa.
Di tenggah orang-orang yang mencoba bertahan dari tekanan ketuhanan, pria itu menggangkat tangan kanannya. Tombak yang menutupi langit malam itu berdegum siap menghancurkan seluruh lapisan tanah. Tangan kanannya bergerak berayun kebawah, menjatuhkan senjata penghukuman milik pencipta.
Saya mencoba bertahan dengan sisa kesadaran yang kembali ditelan oleh suara yang terus berteriak dikepala. Kembali merapalkan doa.
Pemilik belas kasih dan kebijaksanaan
Pencipta awal dan akhir
Penuntun iman
Memohon pada dia maha besar
Saya tidak akan menerima penghukaman yang tak berasal dari pencipta langsung. Saat itulah tangan saya terangkat mencoba menggingat memori saya di masa lalu tentang ilmu alkimia. Tentang ilmu penciptaan, tentang awal dan akhir.
Itu semua berawal dari setitik cahaya yang begitu cerah layaknya logam.
Begitu tangan saya hampir dihancurkan oleh salah satu kemulian pencipta saat menyentuhnya, senjata itu meledak dengan guncangan yang begitu kuat. Badai angin yang terjadi akibat perubahan energi ketuhanan menjadi materi lain menyapu semua yang berada ditempat tersebut. Cahaya emas yang menyilaukan menerangi seluruh tanah di Oasis.
Saat cahaya itu menciut bongkahan tombak raksasa itu ada di sana dan saya dapat merasakan keheningan menyapu padang pasir. Darah mulai menggalir dari atas kepala dan saya mulai merasakan tangan kanan yang mati rasa. Tubuh saya menjadi lemas, kehilangan tenaganya yang berakhir dengan kejatuhan. Ditenggah kesadaran yang mulai menghilang seseorang menahan tubuh saya.
“Abqary..? ” saya bertanya dalam keadaan setenggah sadar namun tak ada satu pun balasan sampai tubuh saya benar-benar kehilangan kesadarannya.
.
Benua Timur, kekuasaan Kekaisaran Canis. Tepatnya di Gereja Selena penggikut dari Bulan Biru yang baru saja selesai menggadakan kotbah, seorang pria muda berjalan memasuki aula yang diterangi oleh cahaya bulan.
Ia menggenakan setelan kemeja putih dengan rompi hitam dan celana hitam, langkah kakinya berjalan mendekat kearah pastur yang sedang melihat pada jendela ornament gotik.
“Apakah mereka sudah pergi.” Postur pria tua itu begitu tegap seolah tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat menggoyahkan jiwanya.
“Ya.” Pria itu memberikan jawaban yang singkat tanpa melanjutkan sepatah katapun, Suasana digerjea itu pun kembali tenang karena Pastur tak segera memberikan jawaban. Disanalah pandangannya beralih kearah pintu batu yang terbuka, lorong itu menggarah langsung pada ruang bawah tanah milik gereja.
Pria tua itu hanya menghela nafas ditenggah penglihatannya yang melucuti ornament dijendela. “Aku harap semuanya dapat diselesaikan lebih cepat kali ini.”
Ditenggah keheningan itu lagi-lagi suara jeritan terdenggar dari dalam ruang bawah tanah itu seperti lolongan meminta tolong “Tutup pintunya, tidak ada satupun orang yang boleh melihat langsung kearah dewa.”
Pria itu pun mengganggukkan kepalanya tanpa memberikan perlawan sedikitpun, wajahnya yang datar dan tenang menutup pintu ruang bawah tanah seolah tidak terjadi apapun ditempat itu.