1
“Mbak Dita...! Bangun...! Mbak…! Mbak Dita…! ”tok tok tok” mbak Dita, bangun Mbak..! Sekarang udah jam enam pagi lo..! Nanti Mbak telat!”
Terdengar suara teriakan dan ketukan pintu berkali-kali dari depan pintu kamar Dita. Dita yang masih enggan beranjak dari tempat tidur segera meraih guling disisinya dan segera menutupi telinganya dengan guling tersebut.
“Mbak Dita..! Bangun mbak! “tok tok tok” Mbak Dita..!” ujar seseorang kembali di depan pintu kamar Dita dengan suara yang lebih keras.
Seseorang terus saja mengetuk pintu kamar Dita dan terus memanggil-manggil Dita. Orang itu adalah Bu Retno, Dia seorang asisten rumah tangga di rumah Dita, tepatnya di rumah pasangan alm.Bapak Suseno Pranaja dan Ibu Niken Handayani yang merupakan orang tua dari Dita.
Alm.Bapak Suseno dan Ibu Niken memiliki seorang putra bernama Reza Hadyan Pranaja dan seorang putri bernama Meggi Anandita. Alm.Bapak Suseno adalah seorang pejabat tinggi di salah satu instansi pemerintahan, sedangkan Bu Niken adalah seorang pengusaha sukses di bidang busana yang memiliki beberapa butik di berbagai kota. Dengan kesuksesan kedua orang tuanya tentu Reza dan Dita tidak pernah kekurangan apapun dari sisi materi. Dengan gelimangan materi tersebut tak lantas mambuat Reza dan Dita menjadi orang yang sombong dan angkuh. Reza dan Dita tumbuh besar dengan sikap dan perilaku yang baik dan sederhana. Baik Reza maupun Dita, mereka tak pernah mengenakan pakaian yang terlalu glamor ataupun terkesan mahal dan wah. Reza dan Dita tidak pernah memberikan kesan bahwa mereka adalah anak-anak dari kalangan atas. Reza dan Dita hidup dengan sederhana, berpenampilan sederhana dan selalu sesuai pada tempatnya. Di mata teman-temannya, Dita dikenal sebagai seorang yang periang, ramah, baik, cantik dan pemberani. Demikian pula dengan Reza, Dia dikenal sebagai laki-laki yang bertanggung jawab, pintar, ramah, bijaksana dan baik hati.
Pagi itu setelah Bu Retno mengetuk pintu kamarnya, Dita pun perlahan-lahan mulai beranjak dari tempat tidurnya dengan perasaan enggan dan malas. Dita sebenarnya masih enggan beranjak dari tempat tidurnya itu, karena hari itu adalah hari pertamanya masuk ke perguruan tinggi. Dita yakin bahwa hari itu pasti akan terasa sangat panjang dan melelahkan. Masa dimana menjadi anak baru di instansi pendidikan merupakan hal yang tidak terlalu disukai oleh Dita. Dengan berbagai macam namanya seperti MAPAWARU (Masa Pengenalan Mahasiswa Baru), OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus), PKK (Pengenalan Kehidupan Kampus) atau di saat SMP dan SMA dikenal dengan istilah MOS (Masa Orientasi Siswa). Menurut Dita, dengan berbagai nama apapun itu, semua kegiatan itu intinya hanyalah wadah para senior untuk menuangkan kreativitas mereka untuk menjahili para juniornya.
Pagi itu Dita mengenakan baju kemeja berwarna putih dan celana dasar berwarna hitam. Pakaian itu merupakan pakaian yang telah ditetapkan oleh panitia penyelenggara kegiatan Ospek di kampusnya. Selain itu, para Mahasiswa baru juga diharuskan mengikat rambut mereka dan memakai pita rambut yang terbuat dari tali rafia. Mahasiswa baru juga diwajibkan menggunakan tas yang terbuat dari kantong plastik berwarna hitam yang berisikan alat tulis menulis.
Dita yang sedari awal sudah bermalas-malasan untuk bangun, tidak menyadari bahwa waktu terus berlalu. Saat itu jam di dinding kamar Dita telah menunjukkan pukul 07.00 pagi.
“Ya ampun, udah jam tujuh” ujar Dita saat melirik ke arah jam dindingnya.
Dita kemudian bergegas membereskan perlengkapan yang harus dibawanya untuk kegiatan Ospek hari itu. Setelah semuanya selesai Dita pun kemudian segera pergi ke dapur untuk sarapan. Dengan tergesa-gesa Dita mengambil Roti tawar dan mengolesinya dengan selai serta tak lupa Dita menuangkan s**u coklat kedalam sebuah botol.
“Pelan-pelan Dita..! Nanti tumpah! Kan kasian sama Bu Retno yang ngeberesinnya” ujar mama Dita dengan nada yang sedikit kasar, yang kebetulan saat itu sedang lewat di dapur.
“Buru-buru ni Ma! Jam setengah delapan udah harus ada di kampus” jawab Dita sambil terus menuangkan s**u kedalam botol.
“Dita sarapannya di mobil aja, hmmm” ujar Dita lagi sambil tersenyum terkulum.
Tapi Mamanya tampak tak menghiraukan Dita. Mamanya terus saja berjalan menuju kulkas yang berada di tepi meja makan.
“Kamu sih! Males-malesan bangunnya. Dari tadi Mama denger bu Retno terik-teriak bangunin Kamu. Kamu masih.. aja nggak bangun-bangun. Coba tadi kalau kamu langsung bangun, pasti nggak keburu-buru kayak gini!” oceh Mama Dita sambil membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol yogurt.
“Kamu berangkatnya bareng Reza?” tanya Mamanya acuh tak acuh.
“Oh iya.. Reza mana? Kok dari tadi enggak keliatan” tambah Mama sambil membuka yogurt ditangannya.
“Dita ke kampusnya dianter mamang Ajam aja Ma. Dita juga belum liat Kak Reza pagi ini” jawab Dita singkat.
“Dita berangkat dulu ya Ma” ujar Dita sambil meraih tangan Mamanya untuk bersalaman.
“Mmmm, iya” jawab Mamanya tanpa bergeming.
Setelah berpamitan pada Mamanya, Dita pun kemudian bergegas berangkat ke kampus untuk memulai hari pertamanya sebagai seorang Mahasiswi.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mandiri adalah tempat dimana Dita akan menimba ilmu untuk beberapa tahun kedepan. Sebenarnya Dita tidak pernah berharap bisa masuk Universitas tersebut, apalagi sampai masuk Fakultas yang sama dengan Reza yang tidak lain adalah Kakaknya sendiri. Saat dimana Dita menamatkan sekolahnya dan mulai memilih perguruan tinggi, Reza sudah wanti-wanti agar Dita tidak masuk Fakultas yang sama dengan dirinya. Dan bila sampai Dita masuk Fakultas yang sama dengan dirinya, Reza pun meminta Dita untuk merahasiakan status hubungan mereka sebagai Kakak dan Adik. Reza meminta agar jangan sampai ada satupun teman-teman di kampus yang tahu bahwa mereka bersaudara.
Dita tidak tahu apa alasan Kakaknya itu menyembunyikan identitas mereka di kampus. Dita tidak mengerti apa alasan Reza menjauhi dirinya, hingga Reza meminta dirinya untuk merahasiakan kebenaran bahwa mereka bersaudara dari teman-teman kampusnya. Seiring berjalannya waktu Dita merasakan ada banyak hal yang berubah dari sikap Kakaknya itu. Semakin beranjak dewasa Reza semakin menjaga jarak dan terkesan menjauh dari Dita, bahkan dari cara berperilaku dan tutur katanya Reza terkesan membenci Dita. Reza yang dulu begitu hangat dan perhatian berubah menjadi begitu acuh dan dingin terhadap Dita. Perilaku Reza yang demikian menimbulkan banyak pertanyaan di benak Dita, yang tak mampu diutarakannya dan kepada Reza. Setiap hari Dita terbebani oleh pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul di benaknya. Dita selalu berusaha keras berpikir untuk mengingat kejadian di masa lalunya, Dita berusaha menemukan kesalahan yang pernah dilakukannya kepada Reza, yang membuat Reza kini tampak begitu membenci dirinya, Namu Dita tak kunjung menemukan jawabanya.
Dita sebenarnya telah berusaha agar tidak masuk Universitas Mandiri, Universitas dimana tempat Kakaknya menimba ilmu. Setelah tamat SMA Dita telah mendaftarkan dirinya di Universitas Globe. Tapi sayangnya Dita gagal untuk masuk Universitas Globe, karena Dita tidak bisa mengikuti tes seleksi penerimaan Mahasiswa baru di Universitas tersebut. Pada saat hari dimana tes penerimaan Mahasiswa baru diselenggarakan, pada saat itu pula Dita sedang terbaring dirumah sakit karena demam tinggi yang menimpanya. Andai saja saat itu Dita tidak sakit, pasti Dita tidak akan pernah berada di kampus dan bahkan di Fakultas yang sama dengan Kakaknya. Di saat Dita sembuh dari sakit, hanya Universitas Mandirilah yang masih membuka dan menerima pendaftaran untuk Mahasiswa baru. Maka dengan berat hati Dita pun terpaksa masuk ke Universitas tersebut.
XXX XXX XXX