Sabtu pagi, kantor kembali sepi seperti akhir pekan sebelumnya. Aira datang pukul 07.00 tepat, bawa tumbler kopi besar dan kue pisang buatan ibunya yang dikirim lewat paket kemarin. Ia ingin mood baik hari ini—gosip kantor kemarin masih terasa menyakitkan, tapi dukungan Reyhan membuatnya lebih kuat. Reyhan sudah di ruangan, pintu terbuka sedikit. Ia pakai kemeja hitam lengan digulung, rambut masih agak basah. Di mejanya sudah tumpukan print-out kontrak revisi dan laptop menyala. "Pagi, Pak," sapa Aira sambil letakkan kue pisang di meja kecil pantry sebelah. "Saya bawa kue pisang dari ibu. Mau coba nanti?" Reyhan melirik kotak kue, angguk kecil. "Pagi. Terima kasih. Kita mulai jam 07.30. Revisi kontrak tahap dua harus selesai siang ini." Mereka kerja seperti biasa: Aira input data, Reyh

