Tahun 2100. Angka ini bukan lagi sebuah target teknologi, melainkan sebuah simfoni kesadaran. Peradaban manusia telah sampai pada sebuah titik di mana mereka tidak lagi membutuhkan pemimpin eksternal, hukum tertulis yang memaksa, atau dogma-dogma yang menghakimi. Mengapa? Karena setiap individu telah menjadi "Lumière yang Berdaulat". Di sebuah tempat yang dulunya dikenal sebagai hiruk-pikuk kota, kini terdapat sebuah taman hening yang disebut sebagai "Ruang Kehadiran". Di sana, tidak ada patung Aira, tidak ada monumen Reyhan, dan tidak ada kutipan-kutipan dari saga ini yang terpampang. Yang ada hanyalah sebuah kolam air yang sangat tenang, mencerminkan langit yang jernih. Seorang pemuda bernama Eka duduk di tepi kolam itu. Eka adalah representasi dari kemanusiaan yang baru. Ia tidak la

