Pagi itu, jam 06.15, Aira sudah duduk di meja asisten lantai 22. Matanya masih agak sembab karena semalam hanya tidur tiga jam. Brief proyek setebal 150 halaman yang diberikan Reyhan dua hari lalu sudah ia baca bolak-balik, coret-coret dengan stabilo warna-warni, dan ubah jadi slide presentasi ringkas. Sepuluh menit saja. Jangan lebih. Kata-kata Reyhan terus berga di kepalanya seperti mantra. Ia memakai kemeja biru muda yang baru disetrika malam tadi, blazer krem, dan rok hitam span. Rambut diikat ponytail tinggi supaya tidak ribet. Di depannya sudah tersedia dua flashdisk cadangan, print-out slide, dan secangkir kopi hitam tanpa gula—untuk Reyhan, tentu saja. Ia tahu bosnya selalu minum kopi hitam pagi-pagi. Pukul 06.55, pintu ruang Reyhan terbuka. Pria itu keluar dengan kemeja putih le

