Mulai Hidup Bersama

1085 Words
Edrea masih berdiri di tengah kamar, yang kini harus dia sebut milik mereka, matanya mengedar di ruangan yang masih memancarkan kehadiran Oz di setiap sudutnya. Kopernya tergeletak tak terbuka di lantai. "Satahun," bisiknya pada diri sendiri. "Hanya setahun saja sampai keuanganku tertata dan stabil." Edrea menarik napas dalam-dalam. "Baiklah," gumamnya, membuka koper. "Jika ini harus terjadi, setidaknya aku yang mengatur kamar ini agar lebih manusiawi." Dia mulai dengan pakaian. Dengan gerakan cepat, dia melipat semua kaus Oz, beberapa bergambar band-band rock tahun 90-an, beberapa polos dengan noda yang samar, melipatnya menjadi persegi panjang sempurna. Hasil akhirnya rapi seperti di toko pakaian. Celana jeans dia lipat dengan rapi, kaus kaki dipasangkan dan digulung. Saat membuka lemari kayu tua di sudut kamar, Edrea menemukan lebih banyak kekacauan. Beberapa kemeja tergantung berdesakan dengan kemeja flanel, rak bawah penuh dengan pakaian dalam yang terlipat asal-asalan. “Iiiissssh … aku harus melipat pakaian dalamnya juga?” gerutunya. Dia mengeluarkan semuanya, memisahkan berdasarkan jenis dan warna. Semuanya tampak baru dan bersih. “Dia baru membeli ini semua? Katanya pengangguran, masih sempat-sempatnya beli pakaian dalam baru,” gumamnya sambil melipat. Lalu wajahnya memerah ketika melihat detail celana itu. Dia membayangkan yang tidak-tidak, yaitu bentuknya jika dipakai oleh Oz. Edrea menggelengkan kepalanya. “Apa-apaan ini?” Lalu Edrea langsung merapikannya di dalam lemari karena dia harus memindah sekat lemari sebelah kanan untuk pakaiannya sendiri. * * "Keranjang mana yang untuk cucian kotor?" tanyanya pada Oz yang sedang berdiri di dapur, membawa cangkir kopinya. “Untuk apa?” "Kalau aku harus tinggal di sini, aku harus bisa bernapas," jawab Edrea, mengambil cangkir kopi darinya. "Dan aku tidak bisa bernapas dalam kekacauan ini." "Kekacauanku terorganisir," bantah Oz dengan senyum miring. "Aku akan membagi lemari menjadi dua. Sisi kiri untukmu, sisi kanan untukku. Rak paling atas untuk barang musiman, tengah untuk kemeja dan jaket, bawah untuk pakaian sehari-hari." Oz mengamatinya, cukup kagum pada kesigapannya. "Kau seperti komandan yang menyiapkan pasukan untuk perang." "Ini memang perang," Edrea membalikkan badan, matanya serius. "Perang melawan kekacauan yang bisa jadi mengganggu konsentrasiku pekerjaan baruku nanti. Perang melawan keputusasaan finansial. Dan perang ini," dia menunjuk ke kamar, "adalah medan pertempuran pertamaku." Oz mengangkat tangan menyerah. "Aku akan mengambil keranjang cucian kotor. Dan ... terima kasih sudah bekerja keras." “Kau tak bekerja sama membantu untuk memperbaiki sedikit kekacauan di rumah ini?” tanya Edrea. “Sudah kubilang, tunggu mood-ku datang.” “Kau pengangguran, kan? Seharusnya kau punya banyak waktu, tak perlu menunggu mood,” protes Edrea. “Diamlah, dan kerjakan apa yang kau suka, jangan mengusikku,” sahut Oz dengan cuek. Edrea mencebik dan kemudian kembali ke kamar. * * Setelah lemari tertata rapi dengan bagian kiri berisi pakaian Oz yang terlipat sempurna dan bagian kanan kosong menunggu pakaiannya, Edrea beralih ke meja Oz. Dia melihat sketsa setengah jadi, pensil dengan berbagai tingkat kekerasan tersebar, penghapus yang terpotong-potong. “Apakah dia seniman?” gumamnya pelan. Edrea tidak menyentuh karya seni itu, itu adalah garis batas yang tidak akan dia langgar. Tapi dia mengatur alat-alat menggambarnya, pensil diletakkan dalam kaleng logam tua, penghapus disatukan dalam kotak kecil. Di sudut meja, dia menyisakan ruang kosong yang cukup untuk laptopnya. Mereka bahkan harus berbagi meja kerja. Tiga jam kemudian, kamar itu mengalami perubahan. Sekarang ada keteraturan, kerapian, dan sentuhan wanita. Tak lama, Oz kembali dengan keranjang cucian kosong, berhenti di ambang pintu. "Wow." "Kau tidak suka?" tanya Edrea, suaranya datar meski sedikit penasaran dengan reaksi Oz. "Tidak, maksudku ... wow." Oz melangkah masuk, matanya mengedar di dalam ruangan. "Ini versi terbaik kamar kita." Dia berjalan ke lemari, membuka pintu. "Kau bahkan mengatur celana dalamku." Wajah Edrea memerah. “Aku hanya tak suka berantakan.” "Thanks,” sahut Oz. “Ini sangat rapi.” "Kau harus terbiasa dengan kerapian. Dan kau akan menemukan bahwa hidup lebih efisien ketika segala sesuatu ada di tempatnya." Edrea membuka kopernya, mulai mengeluarkan pakaiannya sendiri, blus sederhana, jeans, beberapa pakaian hangat. Lalu dia lipat dengan cara yang sama, menempatkannya di sisi kanan lemari. “Aku pasti terbiasa, ada kau di sini yang merapikan semuanya,” ujar Oz. Edrea menoleh dan mengangkat wajahnya. Matanya menatap tajam pada pria itu. “Aku bukan pelayanmu.” Oz mengedikkan bahunya seperti biasa, dan kemudian berbalik pergi. * * Malam harinya, Edrea memasak makan malam dengan bahan seadanya di kulkas. Bahan itu dibeli oleh Oz sehari sebelumnya. “Besok aku yang belanja,” kata Edrea setelah mengunyah makanannya. “Kita harus berbagi masalah pengeluaran makanan juga kan? Aku harap kau sportif dalam hal ini. Jangan curang. Aku akan membuat masakan yang murah tapi sehat.” Oz tertawa pelan dan kemudian meminum airnya. “Kau sangat tersistematis. Aku beruntung tinggal denganmu. Kau punya perencanaan yang matang.” “Itu pujian? Thanks.” Edrea kembali mengunyah makanannya. “Di mana kau bekerja? Dan bagaimana kau bisa kemari? Apakah karena pekerjaan juga?” tanya Oz. “Ya. Sebelumnya aku bekerja di kantor cabang. Sekarang aku naik jabatan dan dipanggil kemari. Aku bekerja di Verious Corp. Kau pasti tahu, kan? Itu perusahaan yang sangat besar dan bonafit.” Oz terdiam sejenak. Dia bahkan meletakkan sendok dan garpunya. “Hmm … perusahaan yang bagus. Bukankah seharusnya gajimu besar? Kenapa kau mencari rumah sewa murah dan hidup prihatin?” Edrea menghela napas, meletakkan peralatan makannnya. “Situasiku sedang dalam fase tidak ideal. Hutang kuliahku tidak peduli dengan idealisme. Tagihan tidak peduli dengan kenyamanan. Jadi ya, aku harus beradaptasi dengan ini semua untuk sementara." "Kenapa hutangnya begitu besar? Keluargamu tak membiayaimu?" Edrea ragu sejenak, lalu mengangkat bahu. "Orang tuaku bercerai di tahun terakhir kuliahku. Dana pendidikan yang mereka tabung habis untuk biaya pengacara dan pembagian aset. Aku tidak mau membebani ibuku yang sudah berjuang sendiri, jadi aku mengambil pinjaman untuk menyelesaikan semester terakhir." "Lalu sekarang mereka sudah tak menyokongmu lagi?” “Mereka sudah menikah dengan orang lain. Dan mereka terlihat bahagia. Aku tak ingin merusak kebahagiaan mereka. Mereka baik padaku, tapi aku tak pernah menampakkan kesedihan atau masalahku. Aku hanya ingin melihat mereka bahagia.” “Mereka tak peduli padamu, tapi kau masih memiliki pemikiran positif tentang mereka,” kata Oz. “Hei, mereka tak sejahat itu. Mereka peduli padaku, hanya saja …” Kalimat itu tak selesai. Edrea terdiam. “Sudahlah, habiskan makananmu cepat. Aku sudah habis,” ucap Oz dan beranjak dari duduknya. “Dan yang terakhir makan, dia lah yang membereskan piring kotor dan semuanya di sini.” Edrea melebarkan matanya. “Apaaa? Enak saja kau!” Oz sudah berbalik pergi dan menuju ke kamar. Edrea menggeram kesal. “Dia selalu curang. Dasar pemalas!” * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD