Pencapaian terbaik gue dalam hidup, gue belum tertarik jatuh cinta.
-Algifary
***
Sebenarnya sangat dianjurkan untuk tidak sok tahu pada kehidupan orang lain. Terlebih jika kamu hanya tahu 'katanya' bukan 'faktanya'.
Diam itu emas. Bicaralah seperlunya, kamu tidak akan melukai perasaan siapapun, juga meminimalisir kebencian orang lain terhadapmu.
Tapi itu tidak demikian terjadi pada Disya. Disya yang kejam, jutek, jahat, sombong, dan Disya yang tidak memiliki belas kasihan.
Dan yang dibicarakan hanya buang muka, lalu mengucapkan kalimat mutiaranya-bodo amat.
"Perasaan, hari ini makeup Lo terlalu tebel, Sya." komentar seorang gadis dengan lipstik merahnya.
"Nih, bagian sudut bibir Lo juga terlalu numpuk sama foundation," sahut gadis yang satu lagi berkulit hitam.
"Mata Lo merah, Sya, kemasukan maskar-"
"Dont touch me!" cegat Disya pada tangan yang bersiap menyentuh pipinya. "Banyak bacot Lo semua!"
Menggebrak meja kemudian berjalan congkak menuju kantin adalah hobi Disya. Diikuti 3 gadis di belakangnya.
Dukh!
"Aduh.. Maaf kak, maaf gak sengaja." lirih seorang gadis membersihkan baju bagian depan Disya.
Penyabar? Disya jauh dari kata itu, kecuali ketika Mamanya memberikan ia tamparan keras. "Kurang ajar! buta Lo?! Itu mata cuma pajangan, hah?!"
Tak butuh waktu lama sampai gadis malang itu tersungkur. "A-aku gak senga-"
"Sengaja atau enggak, itu bukan urusan gue!" Bentak Disya penuh emosi. "Cium kaki gue SE-KA-RANG!"
Gadis yang malang. Ia memilih cari aman dengan menurut untuk mencium kaki Disya. Menahan malu serta tatapan mengejek dari para murid di sana.
Bersamaan dengan itu, Galins berserta Algi dan Naufal melewati Perkumpulan mereka. Melihat dengan sangat jelas atas perlakuan gadis itu. Antara kejam dan tidak punya hati pun menjadi satu.
Galins hanya cuek saja, sedangkan Algi hanya melirik sekilas lalu membuang muka. Naufal pun sama, memilih untuk tidak peduli. Karena bagi mereka, tontonan semacam itu sudah biasa di sekolah Pelita Harapan.
Sekolah berbasis elit dengan rata-rata seluruh muridnya berasal dari kalangan orang berada. Jika ada satu yang lemah, bukannya ditolong malah tertindas.
Seperti pemandangan yang satu ini. Mata Disya Sepertinya hanya terpaku pada Galins. "Tu mata minta dicolok?"
Algi terkekeh maskulin. Menoyor kepala Naufal dari belakang. "Gak usah komen, lu."
Ketiga cowok yang dijuluki Gans di Pelita Harapan. Mereka berjalan angkuh menuju rooftop. "Al, menurut lo, si Disya itu masih virgin, gak?"
"Bukan urusan gue." acuh Algi mengeluarkan sebatang rokok dari saku celana abunya.
"Lo, Ga?" giliran Galins mendapat pertanyaan.
"Au." hanya itu yang Galins lontarkan.
"Kalo menurut gu-"
"Gak nanya!" serempak Galins Algi berniat menistakan Naufal.
"Eleeh... sempak ulet!" maki Naufal melempari Algi dengan puntung rokok.
"Ya elo, sih. Pertanyaan lo unfaedah!" Algi menyesap rokoknya.
"Kek lo pada gak pernah ngomongin ginian aja." Naufal membela diri. "But for me, nih ya, dia masih virgin. Gue perhatiin, pas jalan gak ngangkang-ngangkang amat tuh."
"a*u emang ni anak." umpat Algi geleng-geleng.
"Biarin aja. Dia lagi abis obat. Burungnya belom dikasi makan." timpal Galins santai.
"Govlog! Naufal gak syukak!"
"JIJIK, FAL!"
¶¶¶
"Ladisya Isabelle, ini undangan buat lo. Gue harap, lo bisa dateng ke party gue malam ini." seorang cowok berkulit putih pucat memberikan selembar undangan.
Sebelah alis Disya terangkat. Menatap seolah meneliti lawan bicaranya. "Apa yang gue dapet dateng ke party, lo? Perasaan, geng lo semua gak terlalu hits. Terlalu pas-pasan untuk dibilang ganteng. Ya... Kecuali lo, sih, Reyga."
Cowok yang dipanggil Reyga itu tersenyum sinis. "Akan ada banyak kejutan di sana, honey. Gue tunggu kedatangan, lo."
"Keknya dateng ke party-nya Reyga bakal seru, deh, Sya." gadis berkulit gelap berseru.
"Ayolah Sya, akhir-akhir ini lo keliatan boring. Lo pastinya butuh hiburan." gadis berambut pendek menimpali.
Disya memicing. Tampaknya tak begitu terusik. "Tanpa kalian sarankan, pun, gue bakal datang ke party itu. Kita liat, kejutan apa yang dimaksud seorang Areyga Fantolix."
"Mungkin juga si Reyga mau nembak lo di depan banyak orang, pas ultahnya nanti."
Gadis berambut pendek menyahut. "Bisa jadi si Shinta bener."
"Iya dong, Lin. Secara gitu, si Reyga udah dari lama naksir, ke Disya." duga Shinta sepihak.
Elin merapikan poninya. "Yap, betul lo, Shin."
Riri berujar, sembari mengunyah kentang goreng di mulut. "Tapi incarannya si Disya itu, kak Galins. Jadi, keknya si Reyga gak ngaruh deh."
"Ah, berisik lo semua!" acuh Disya menyilangkan kakinya acuh.
???
"Jadi dateng gak, nih?" Naufal melemparkan tiga undangan ke meja. Di sana sudah ada Algi yang sibuk dengan game online. Galins yang asik melihat-lihat foto hasil pemotretannya hari ini.
"Gue sih mau-mau aja. Lo, Ga?" Algi melempar tanya terhadap Galins.
"Hm. Kita berangkat bareng."
"Aciyappp..." Naufal berseru heboh. "Gini dong, yang kompak! Kan asik tuh."
"Gue denger, lokasi ultahnya Reyga di club biasa tempat kita nongkrong." Algi memperbaiki letak duduknya.
"Gue tau." sahut Galins. "Pasti lo berdua ke sana gak lupa bawa kondom."
"a*u!" umpat Naufal melemparkan kulit kacang ke laptop Galins. "Untuk malem ini, kagak deh. Kasian anak-anak gue."
Senyum Algi sinis. "Gue juga lagi males. Dehidrasi ntar."
"Lah, hubungannya apa?" cetus Naufal.
"Kekurangan cairan." santai Algi, yang cepat ditanggapi bibir mencebik ala Naufal.
"Berarti fix, malem ini, kita party!"
Siapa lagi memang yang lebih heboh daripada mahluk bernama Naufal?
¶¶¶
Andaikan cermin besar di depannya bisa bicara, atau setidaknya mampu mengeluarkan pendapat, mungkin hanya satu kata yang akan terucap-sempurna!
Itulah kalimat gambaran untuk penampilan Disya saat ini. Dres merah hati melekat di tubuhnya yang ramping. Memperlihatkan lekuk badan yang memang proporsional.
Jemari Disya bergerak meraih lipstik merah di meja riasnya. Mengoles bibir mungil itu dengan begitu rapi.
"Perfect!" gumam Disya.
Kaki jenjangnya menuruni anak tangga. Langkahnya tercegat ketika seorang ART muncul di hadapannya. "Permisi nona, sebelum saya pulang, saya ingin menyampaikan bahwa nyo-"
"Nyonya udah pergi, dan akan kembali dua minggu lagi? Disya udah hafal, mbak. Jadi, gak usah diulang terus, ya. Pusing." imbuh Disya tenang.
"Maaf nona." cicit pembantu itu, "Saya permisi."
"Silakan." tutup Disya membiarkan asisten tersebut pergi. Disya masuk ke dalam mobil, memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di tempat tujuan, Disya disambut riuh oleh ketiga gengnya. "Omaygat! Lo cantik banget, Sya."
"You looks so perfect!" sambut Reyga penuh penghayatan. Cowok itu mendekat, mengulurkan tangan yang kemudian disambut baik oleh Disya.
"Happy birthday, Areyga." ucap Disya menyerahkan kotak kado.
Pesta dimulai. Dentuman musik khas klub malam menggema, disertai lampu kelap-kelip yang menyilaukan mata. Meskipun ada banyak kaum adam dengan paras menghanyutkan, mata Disya hanya terfokus kepada Galins yang sedang mencecap minumannya.
Diikuti dua sahabatnya yang juga sedang asik merayu para gadis. Hingga fokus Disya beralih pada suara Reyga. "Are you ready for surprise?!"
"APA? Lo bilang apa? Gue gak denger!" Disya setengah berteriak.
Reyga memutar bola mata malas. "Lo siap untuk kejutan yang bakal gue kasi?!"
"Apapun kejutan yang lo maksud, gue gak tertarik, Rey. Apalagi kalo itu menyangkut urusan hati lo. Gue gak peduli!" teriak Disya angkuh.
Terluka. Harga diri Reyga seperti di injak oleh gadis ini. Reyga menarik lengan Disya secara posesif. "Lo terlalu angkuh, Sya, tapi itu yang menjadi daya tarik lo di mata gue!"
Pusing menyambar begitu leher Disya dicium paksa oleh Reyga, berubah menjadi gigitan kecil menyisakan bercak merah. "Dont dare to touch me! Jauhin diri lo!"
Tak terima di tolak mentah, Reyga menyeret Disya ke ruangan khusus di klub tersebut. Algi yang sedang mengepulkan asap rokoknya ke arah gadis berpakaian seksi, melirik setengah tertarik kala Disya tampak sempoyongan di dalam cekalan Reyga.
Tak ada yang memperhatikan. Semua orang sibuk berlenggak-lenggok menikmati suasana dunia malam. Naufal yang sedang asik di dance floor bersama gadis berambut merah.
"Apa yang lo masukin ke minuman gue!?" jerit Disya. Punggungnya menempel di dinding, dengan tangan yang ditahan.
"Ini yang gue maksud surprise, sayang." bisik Reyga mengerikan. "Nikmati malam ini bareng gue. Puasin gue malam ini!"
"Rey, keknya ada yang ricuh di luar. Lo liat gih." salah seorang cowok menghampiri. Disusul dua lainnya.
"Lo tahan Disya di sini. Gue keluar sebentar." pungkas Reyga mengambil langkah pergi.
Ketiga cowok itu menatap Disya seperti menelanjangi. "Wajar aja Reyga segitunya, tubuh lo terlalu menggiurkan, Sya."
"Lepasin gue, jerk!" berontak Disya mencoba melepaskan diri.
"Jangan mimpi, Sya. Pasrah aja nanti saat Reyga 'ngabisin' lo di ranjang." lalu mereka tertawa puas.
Kepala Disya makin pusing. Merasakan sensasi aneh sekaligus panas. Pandangan gadis itu ikutan mengabur seiring detik berlalu. "Lo pantes lagi, diginiin sama Reyga."
"Cewek sombong, bagi kami itu cuma sampah!" serempak mereka layaknya paduan suara.
"Ah... Panash~ badan gue~" Disya mendesah tidak jelas. Membangkitkan fantasi nakal cowok-cowok di sekitarnya.
Cowok berambut jabrik menggoda, meraba paha Disya dengan gerakan lamban. "Apa yang bisa kita lakuin buat ngilangin rasa panas lo, cantik?"
"Ah~ ja--jangan kurang ajar lo." Disya benar-benar tidak bisa mengendalikan diri.
"Ini bantuan. Dengan senang hati gue lakukan." ujarnya menikmati paha mulus tersebut.
"Win, jangan macem-macem deh, lo. Dia punyanya Reyga, sob." yang satunya mengingatkan.
"Dia pantesnya dinikmati bareng-bareng." Erwin kekuh tak peduli.
"Ah~ please~ gu-gue gak tahan." desah Disya terus-menerus.
"Lepasin dia."
Hingga suara asing nan tenang di ujung lorong, menginterupsi kegiatan perkumpulan remaja kurang ajar tersebut.