Jaman sekarang, susah bedain mana yang beneran baik sama yang cuma pake casing!
-Ladisya-
¶¶¶
Scrolls scrolls dan… scrolls. Hingga yang terpampang di depan mata Disya adalah sebuah pengumuman dari akun resmi sekolahnya. Bahwa malam ini, akan ada balap liar antar Galins versus Tillo.
"Galins pasti menang. Kehebatannya gak pernah gue ragukan." gumam Disya memandang lama foto cowok ber-iris coklat terang di dalam layar.
"Pokoknya malam ini, gue harus nonton!" Disya menggebu dengan semua wacana yang ada di otaknya. Memangnya kapan? Seorang Ladisya Isabelle absen untuk hanya sekedar memperhatikan Argalins dari jauh.
¶¶¶
Jika yang di dalamnya terdapat perkumpulan geng Gans, maka situasi padat di lokasi itu sudah bukan hal aneh. Terlebih Galins yang memang diyakini sebagai most wanted Pelita Harapan.
Banyak siswa lain dengan paras di atas rata-rata yang juga mengajukan diri untuk menjadi anggota geng Gans. Tetapi, Galins terlalu masa bodoh kepada orang baru. Menghabiskan sisa kenyamanan dalam dirinya hanya untuk Algi dan Naufal saja.
"GALINS! YUHUUU!!"
"LO PASTI MENANG, GA!"
Itu hanya sebagian dari jeritan histeris para gadis yang mengecap diri mereka sebagai fans Argalins Mahardika.
Algi melirik Naufal. Tidak. Lebih tepatnya meneliti temannya yang dinilai kurang waras. "Itu rambut lo apain?"
Naufal berlagak bak model papan atas. "Udah mirip Brent Rivera, belom? Jabrik jabrik ahoy!"
Reaksi Algi? Seperti biasa, menoyor kepala Naufal hingga terhuyung. "Gak usah aneh-aneh deh, lo, pe'a!"
"Anjing lo!" maki Naufal jengkel. "Betewe, udah ngegas aja si tai!"
"Menang lagi gak, nih?" Algi meminta pendapat.
"Gue rela disunat lagi, deh, kalo misalnya Galins kalah!" riuh Naufal. Belum juga selesai berdebat, garis finish sudah dipenuhi oleh Galins.
Tampak dari kejauhan Algi dan Naufal melihat Tillo melemparkan amplop berwarna coklat kepada Galins, yang langsung ditangkap sigap. Tillo pun pergi. "Udah gue duga, Gal! Kalo lo itu pasti bakal menang dari Tillo."
"Gak perlu duga, gue yang terbaik!" seru Galins pongah.
"Si anjing! Nyesel gua muji lu!" umpat Naufal mendorong bahu Galins agak kasar.
Algi terkekeh. "Lo muji dia atau enggak, itu gak ngaruh! Tingkat pede ni bocah udah overdosis, Fal."
Naufal geleng-geleng kepala sambil berkacak pinggang, "Lo bener, Gi. Ini bocah kelewat pede!"
"Emang nyatanya gitu!" sela Galins yang kemudian tancap gas begitu saja meninggalkan Algi dan Naufal.
Gerimis sudah mulai berubah menjadi hujan. "Ngapain cengo? Kejar!" semprot Algi menoyor Naufal.
Mereka menaiki motor masing-masing. Namun tepat ketika Algi memutar kuda besinya, tak sengaja ia menyenggol lampu depan sebuah sedan putih. Mampus!
Naufal sudah cukup jauh. Teman macam apa sebenarnya Naufal itu? Meninggalkan Algi yang mungkin sebentar lagi akan mendapat masalah. "Woi!"
Habislah Algi kala pemilik mobil keluar dari dalamnya. Hell! Algi memutar bola mata malas melihat Disya yang memberinya tatapan maut. "Lo buta? Gak liat di sini ada mobil?!"
"Sorry, gak senga—"
"Sengaja atau enggak, itu bukan urusan gue!" Disya tidak memberi Algi celah untuk bicara.
Algi tidak punya keinginan untuk turun dari motornya. Cowok itu lantas menstarterkan motor. "Well, ini bukan sekolah tempat lo biasa bully orang. Dan gue? Gue bukan sasaran yang tepat."
Ajari Algi untuk berterimakasih nanti kepada sang gerimis, karena dengan itu Disya tidak jadi mengomel. Atau dia akan membeku di tempat itu. "Awas lo!"
"Gila! Bisa-bisanya ada orang kek dia!" oceh Algi melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Baru kena gerimis aja, bibirnya udah ungu. Manja!
???
"Aw! Anjing!"
Seluruh atensi berpusat pada Galins dan dua temannya. Umpatan nyaring yang berasal dari cowok jangkung itu seperti sebuah alarm yang mengharuskan semua siswa untuk memperhatikan. Percayalah, jika itu Gans, maka pastilah menarik.
Gadis yang tak mereka ketahui namanya. Gadis yang beberapa hari lalu tak sengaja bertabrakan dengan Algi di koridor. Dan … gadis ini berani menarik telinga Galins tanpa rasa takut.
Terjadilah keributan antara mereka. Membuat Galins mengeluarkan kebun binatang dari mulutnya. Sampai Algi berinisiatif untuk menengahi.
"Pergi aja ya, neng. Ntar ada singa ngamuk kalo lo kelamaan di sini. Nanti gua deh yang ganti seragam, lo." niat Algi ialah membujuk, namun gadis yang kemarin Algi tabrak itu menolak mentah-mentah.
Bersitegang dengan Galins rupanya bukan hal mengerikan bagi gadis ini. Mengharuskan Algi untuk mundur karena instruksi Galins. See, nasib baik tak berpihak pada si gadis. Terbukti dari guyuran jus mangga yang masih belum tersentuh.
Gadis bernama Inara itu mulai menangis. Mengundang rasa iba pada Algi. Entahlah kenapa rasa iba itu mengusik. Makin menyedihkan mendengar tawa dari semua orang.
Tak lama setelahnya, guru pun datang sebagai penyelamat Inara. Galins yang jauh dari kata peduli, melangkah acuh diikuti Naufal serta Algi.
Tiba sampai Algi merasa tersentak akan keberanian gadis yang mengatai Galins 'banci'. Reaksi Galins sudah siap hantam.
"Jangan, Ga, please. Untuk saat ini jangan cari masalah." tahan Algi membuat Galins urung mengambil tindakan. Disya meradang, bisa-bisanya ada yang memiliki keberanian melakukan hal barusan terhadap Argalins.
Berguru di mana tu cewek cupu?
Kembali pada ketiga cowok itu. Sesampainya di rooftop, Galins menendang kasar bangku yang biasanya mereka duduki. "Anjing!"
"Tahan, bosquee~~" Naufal bergurau.
"Udah nyet! Lagian lo udah mempermalukan anak orang. Belom puas?" Algi menyalakan rokok.
"Belom! Ini masih awal peperangan!" sengit Galins berapi-api.
"Etdah! Gaya lu perang. Ditimpuk panci mak gue, kicep lo." mulut Naufal butuh selotip, itu yang dipikirkan Algi.
"Diem lo, bulu babi!" delik Algi. "Serah lo dah mau ngelakuin apa. Selama itu masih wajar aja."
¶¶¶
Wajar? Baiklah, ini wajar. Setidaknya hanya sepeda gadis itu yang remuk, bukan tulangnya. Naufal dan Algi hanya menjadi penonton setia melihat Galins mengoyak sepeda butut itu menjadi penyok.
"Udah puas, masnya?" itu suara Naufal.
Tanpa menjawab, Galins melenggang tak peduli.
•••••••
"Menurut kalian, siapa cewek yang udah berani narik telinga Galins?" Disya bertanya pada teman-temannya.
"Inara. Anak sebelas IPA dua." jawab Elin ringkas.
Sebelah alis Disya terangkat. "Gue gak pernah denger nama itu."
"Dia emang bukan anak hits, Sya. Sekolah di sini aja cuman modal beasiswa doang." Shinta meremehkan.
"Oh." hanya itu respon Disya. Gadis itu memilih sibuk dengan ponselnya lagi.
"Lo beneran gak gimana-gimana gitu, Sya?" Shinta memancing. "Tu cewek udah berani ngusik cowok incaran lo."
"Kalo dia bertingkah lebih dari ini, baru gue turun tangan." putus Disya serius.
¶¶¶
Merebahkan tubuhnya. Mengistirahatkan diri sejenak setelah seharian menghadapi Galins yang mengamuk di apartemen. Pikiran Algi mulai melayang.
"Tumben ada yang berani kek gitu ke Galins." Algi bergumam memutar-mutar ponselnya di udara.
"Emang dia gak tau Galins, atau beneran gak takut." Algi terus berpikir. Senyumnya terbit, membuka ponsel dan dugaannya benar. Akun resmi Pelita Harapan memposting video dimana gadis itu menarik telinga Galins. "Cewek unik."
???
Harus dengan apa menghadapi seorang Tillo. Setelah mengajukan taruhan 'satu bibir limabelas juta' kemudian menyebutkan nama Disya yang menjadi bahan taruhan.
Saat sedang asiknya latihan cheers, jantung Disya berdegup kencang melihat Galins berjalan santai ke arahnya.
Sebagai bentuk solidaritas, Algi dan Naufal pun bersorak melihat temannya yang ia duga pasti akan memenangkan taruhan kali ini. Meskipun rasanya aneh, mengingat Algi pernah mencium— ah! Bodo amat.
"Hai, lagi latihan ya?" Galins berbasa-basi.
Disya ingin teriak sekarang juga. "Eh! Iya. Ada apa, ya?"
"Gapapa. Cuma pengen bilang, gak tau kenapa, lo keliatan cantik hari ini." kalimat Galins seolah membuat Disya ingin terbang.
Disya membenarkan letak rambutnya. "Oh ya? Um... Gue—"
Cup.
Disya tertegun merasakan pipinya dikecup oleh Galins. Ingin rasanya teman-temannya juga ikut berseru. "May i kiss you?"
Semoga saja Disya tidak mengalami serangan jantung setelah ini. Merasakan Galins mulai mengecup bibirnya, melumatnya dengan amat lembut. Yang di pikiran Disya hanya bagaimana cara membalas ciuman dengan benar.
Tunggu, entah kenapa Disya malah teringat ciuman dadakan dengan cowok yang tak dikenal malam itu. Hingga tautan bibirnya dan Galins terlepas, Disya hanya mematung merasakan Galins mengacak rambutnya. "Bye sweetie."
Punggung Galins yang kian menjauh hanya menyisakan tatapan nanar dari Disya. Hingga seruan heboh teman-temannya menginterupsi. "Ya ampun, Sya! Kak Galins cium lo!" Elin sudah persis cacing kepanasan.
Disya menyentuh bibirnya sendiri. Melihat Galins yang kembali ke kumpulan temannya serta Tillo. Antara senang dan ... Bingung.
Apa perasaan gue terbalas?
Ejekan demi ejekan terus terlontar. Galins merasa puas karena selalu menang dari Tillo. Namun sepertinya dewi Fortuna tak berpihak ketika Tillo memberi tantangan untuk mencium Inara.
Ditampar. Mampus, anjir!
Algi terbelalak tak menyangka. Menghampiri Galins yang mematung setelah pipinya diberi hadiah berupa cap lima jari. "Ga,"
"Bubar lo semua, f**k!" Naufal berteriak membubarkan siswa siswi lain yang tengah asik menonton.
Suara tawa Tillo seperti isyarat untuk bergelut dengan cowok itu. Melayangkan ledekan demi ledekan yang terdengar menyebalkan. Yang pastinya lagi itu memancing keributan.
Tillo berlalu pergi setelah puas berseteru. Algi membuang muka, berkacak pinggang. "Gue kan udah kasi tau lo, Ga! Gue bilang jangan, JANGAN!"
Galins meradang. "LO GAK PERLU NGEBENTAK GUE, BABI!"
"Kok jadi lo pada yang ribut?" Naufal menengahi. "Ini masalah bareng-bareng, tai!"
"Sekarang apa? Uang duapuluh lima juta emang gak seberapa. Tapi harga diri lo beneran jatuh sekarang, ARGALINS! Tillo gak akan puas cuma bikin ulah sampai si—"
"Cewek b***h itu bakal rasain akibatnya!" ujar Galins geram.
"Maksud, lo?" Algi merasa terpancing. "Ga, denger gue, ini pure kesalahan, lo! Lo gak bisa nyalahin orang lain. Cewek itu cuma bahan taruhan. Di—"
"Gue gak butuh ceramah!" Galins pergi begitu saja.
"Emang setan!" umpat Algi menghembuskan napas kasar.
"Menurut lo, rasa bibir cewek yang namanya Inara itu gimana, ya?" Naufal seolah menerawang.
"Ini bukan saatnya bayangin rasa bibir, bangke!" Algi menoyor kepala Naufal hingga terhuyung.
"HEI KALIAN! MASUK KE KELAS, SEKARANG!" teriakan seorang guru bertubuh tambun dengan rambut disanggul. Sukses membuat Algi dan Naufal terbirit-b***t.
"Mampus! Buk faedah dateng!" Naufal menggerutu sebelum mengambil langkah cepat.
•••••••
Disya memandangi dirinya di depan cermin besar toilet. "Galins, cium gue?"
Rasanya masih tidak kunjung percaya. Apakah ini terlalu mendadak? Tetapi setelahnya Disya tersenyum lebar. "Lo harus jadi milik gue. Anggap aja ini sebuah persetujuan kalo lo itu, mengijinkan gue untuk masuk ke hidup lo."
Memilih keluar karena sudah merasa terlalu lama di toilet, Disya memperbaiki letak rambutnya yang sedikit berantakan.
Baru saja Disya sampai di ambang pintu---
Bruk!
---Disya bertabrakan dengan seseorang. Sampai-sampai gadis berambut pirang itu jatuh terduduk ke lantai. "Aw!"
Mendongak, mendapati Algi yang berdiri. Memandang sinis dengan alis terangkat sebelah. Sebelum akhirnya mengulurkan tangan untuk Disya. "Sorry."
Menyepak tangan di depannya. Bangkit sendiri, lalu melotot tanda murka. Itulah Disya saat ini. "Lo lagi, lo lagi! Lo punya mata gak, sih?!"
"Nih, mata gue dua." sahut Algi santai memasukkan dua tangannya ke saku celana, kemudian memajukan kepalanya hingga Disya sedikit memundurkan kepala. "Lo yang ceroboh, bukan gue."
"Bacot!" ketus Disya. "Lo aja yang buta!"
Algi mendengus. "Dasar gampangan." balasnya kemudian pergi.
Mulut Disya menganga lebar. "Kurang ajar banget itu mulut! Gue benci lo, b******k!"