Zulfa menghempaskan pantatnya di kursi yang ada di pantry. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa. Ia tengah kesal pada Zul sejak kemarin, karena terpaksa ikut menemani Zul dan Maura. "Mukamu jelek banget, Fa. Dapet sih dapet saja, tapi tidak harus ditekuk sejelek itu juga dong!" Ani mencubit kedua pipi Zulfa dengan gemas. "Ada apa sih, Fa?" Een menatap wajah Zulfa yang masih saja cemberut. "Si boss tua, masa kemaren siang aku dipaksa jadi obat nyamuk dia sama Bu Maura," sungut Zulfa tanpa merubah ekspresi cemberutnya. "Maksudmu?" serempak kedua temannya bertanya. "Bu Maura kemarin siang datang ke rumah boss tua, terus ngajakin boss tua makan siang di luar. Boss tua itu sepertinya takut sama perempuan, makanya dia minta aku ikut untuk memaninya." "Masa sih Pak Zul takut sama perempuan,

