Fiona merebahkan diri di atas tempat tidur. Ia baru saja selesai mandi, walaupun jam sudah menunjukkan sembilan lewat dua puluh malam. Tangannya ia panjangkan untuk meraih ponsel di meja kecil sebelah tempat tidur.
'Nggak ada notif, miris banget, anjirr,’ batinya.
"Fiona," panggil suara dari luar kamar kemudian pintu terbuka. Meghan masuk dan ikut berbaring di samping Fiona.
"Kenapa?" Fiona menoleh dan menatap kakaknya.
"Nggak. Emang kenapa?" Meghan balik bertanya.
"Apaan sih lo, gaje!" Fiona membalikkan badannya, membelakangi Meghan.
"Na, gue lagi gabut nih, lo nggak mau curhat apa gitu ke gue?" tawar Meghan. Ia telah berbaring di sisi lain kasur. Tangannya mengotak-atik ponsel.
Fiona berpikir sejenak lalu berbalik. Ia mendudukkan dirinya. "Lo tau nggak, kalo gue sekarang dalam menjalankan misi yang baik?"
Meghan menautkan alisnnya, "apa?"
Kemudian, Fiona mulai menceritakan kronologi apa yang terjadi beberapa hari ini, mulai dari Bryan yang dengan sombong mengejek kelasnya, ia yang berencana untuk mengubah watak beberapa temannya, menentukan tiga target utama, sampai cara dia mendekati Melody.
Meghan menatap lekat wajah adiknya, "lo yakin semua bisa berjalan sesuai sama apa yang lo rencanain?" tanyanya ragu.
"Gak semua sesuai sama apa yang gue harepin, tapi gue yakin akhirnya pasti sesuai," tekad Fiona.
"Amin."
"Kok, diaminin, sih?"
"Ya, terus? Udah bagus kali gue aminin."
"Ya tapi, tadi itu gue bilang akhirnya aja yang sesuai. Seharusnya, lo itu aminin kalimat gue yang 'semua sesuai sama harapan gue'."
"Yaudah terserah, yang penting gue udah aminin," kata Meghan setelah menarik nafas dalam. "Eh, tapi biasanya ya, apa yang gue aminin tuh, beneran terjadi," bisiknya. Ia beranjak dari ranjang Fiona dan berjalan menuju pintu. Sedangkan Fiona malah memutar matanya.
"Udah, ya. Gue mau bocan dulu," ucap Meghan lagi yang kemudian menutup pintu kamar.
Fiona bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju meja belajarnya yang terletak di pojok ruangan. Ia membuka laci meja, bermaksud mengambil buku tulis. Namun, setelah membongkar-bongkar, yang ia dapat malah sebagian kertas yang sudah lusuh terselip di antara benda-benda yang lain.
1. Melody.
2. Tristan.
3. Richard.
"Ini apaan?" ucapnya bingung. Ia kembali ke tempat tidur.
Fiona sangat yakin kalau tulisan ini adalah tulisannya, dan mencoba mengingat-ngingat hal apa yang membuatnya menulis ini. Ia membulatkan matanya setelah berpikir beberapa saat dan akhirnya mendapat jawaban.
Dulu, saat awal masuk, Fiona hanya iseng menulis tiga nama ini. Karena waktu itu, hanya mereka bertigalah yang paling unik dan menarik menurutnya untuk dijadikan teman. Tetapi, itu cuma bualan sesaat dan rencananya yang tidak pernah dipikirkan lagi, sampai saat ia kembali menuliskan ketiga nama ini.
Fiona terkekeh pelan. Kemudian, ia teringat akan tugas sejarahnya yang diberikan Pak Ahmad minggu lalu. Ia sudah mengerjakannya tadi dan buku itu masih ada di atas meja belajar, belum sempat ia masukkan ke dalam tas. Lantas, ia menyeringai dan mendapat sebuah rencana licik, ia akan pura-pura lupa dengan tugasnya tersebut.
Fiona menarik napas dan kembali tersenyum. Ia menutup mata dan mengatupkan tangannya.
Ya Tuhan, Fiona tahu kalo ini semua udah diatur dan merupakan hal yang baik. Fiona mohon bantuan Tuhan untuk menjalankan semua ini. Walaupun nanti nggak semuanya sesuai sama harapan Fiona, Fiona yakin kalau akhirnya pasti bakalan sesuai. Dan kalopun gak sesuai, Fiona percaya kalo itu emang udah direncanain sama Tuhan. Fiona hanya pengen semoga apa yang Fiona lakuin, bisa berguna bagi orang-orang di sekitar Fiona, juga bagi diri Fiona sendiri. Dan yang terakhir, Fiona minta maaf buat segala kesalahan Fiona dan terimakasih atas berkat dan penyertaan-Mu. Semoga semuanya baik-baik, aja. Amin.
Fiona membuka matanya. Kertas lusuh tadi telah ia simpan di laci meja kecil di sebelah tempat tidur. Ia memakai selimut lantas menutup mata, sedikit berharap agar dia tidak terlambat dan dihukum besok pagi.
"Siapa yang tidak mengerjakan tugas?" suara Pak Ahmad melengking di kelas XII IPA 2.
Dengan percaya diri dan sudut bibir yang tertarik, Fiona mengangkat tangannya. Sontak, semua mata tertuju padanya, tak terkecuali Carol.
"Lo beneran, Na? Demi apa?" ucap Carol heran, menggoyang-goyangkan tangan temannya itu.
"Demi Doi," bisik Fiona lantas terkikik.
Merasa ada yang ganjal, Fiona menoleh ke belakang, ke arah Richard dan mendapati cowok itu yang juga sedang melihatnya datar dan sama sekali tidak mengangkat tangannya.
Fiona panik. Ia pikir, rencananya akan berhasil dan dihukum bersama Richard. Namun, hari ini entah mendapat mimpi apa, cowok itu malah mengerjakkan tugasnya. Dan bagaimanapun juga, Fiona tak bisa melakukan apa-apa. Buku tugasnya sudah terlanjur ia tinggalkan di rumah dengan sengaja.
"Ada lagi?" tanya Pak Ahmad. Setelah beberapa saat, ia kembali berucap, "Fiona, silahkan keluar dari sini, dan bersihkan gudang sekolah," perintahnya.
"Lo beneran, Na?" tanya Carol lagi karena tak puas dengan jawaban Fiona tadi.
"Gue kerja," jawab Fiona.
"Ya, terus?"
Fiona hanya menggeleng dan berjalan keluar kelas dengan lesu.
"Kenapa gue bodoh banget, sih?" marah Fiona pada dirinya sendiri saat berjalan di koridor belakang.
Matanya tak sengaja menangkap Tristan yang sedang merokok.
"Anjir, ngapain lo ngerokok di sini? Bukannya ke kelas!" pekik Fiona dan langsung merebut rokok yang sisa setengah di tangan Tristan.
"Apaan sih lo!" bentak Tristan.
"Lo yang apa-paan. Bukannya belajar malah ngerokok. Udah sana ke kelas!"
"Eh, tapi kayaknya kita jodoh deh, buktinya kita ketemu mulu," ucap Tristan kemudian dengan wajah songongnya yang menjengkelkan.
"Apaan jodoh! Tiap hari di kelas juga kita ketemu, kali," ralat Fiona dan kembali berjalan.
"Lo sendiri ngapain di luar?" tanya Tristan membuat langkah Fiona terhenti dan ia berbalik.
"Gue dihukum disuruh bersihin gudang gegara gak ngerjain pr. Gue pikir bakalan sama Richarad, eh taunya dia malah ngerjain. Hancur kan, rencana gue biar bareng dia. Tau kayak gini, tadi gue bawa aja prnya," cerocos Fiona seperti ia berbicara pada Carol, padahal di depannya adalah Tristan.
Krik... Krik... Krik…
Mata Fiona membulat saat menyadari kecerobohannya. Namun, terlambat karena Tristan malah lebih dulu berteriak.
"Lo suka sama Richarad?!"
Fiona refleks membekap mulut Tristan. "Toa banget, sih!" Ia melirik di sekitarnya, berharap tak ada orang yang mendengar teriakan cowok itu.
"Tapi beneran, lo suka sama dia?" tanya Tristan lagi dengan penasaran.
"Hush! Udah, diem." Tristan mengedikkan bahunya.
"Kalo gitu, sini biar gue bantuin ngebersihin gudangnya." Tristan merangkul pundak Fiona. Sedangkan gadis itu malah menatapnya horror. "Kok, lo aneh?"
Fiona kemudian mendorong-dorong pundak Tristan "Udah sana ke kelas, belajar, biar pinter," dan kembali berjalan.
"Kalo gue udah pinter dan sukses, mau kan lo ngedampingin gue?" teriak Tristan yang sudah beberapa langkah di belakang Fiona.
Fiona malah menampakan ekspresi jijik, namun terus berjalan tanpa berbalik. "Itu anak kenapa sih, kok jadi horror gini? Butuh psikiater kayaknya," gumam Fiona. Di belakangnya, Tristan malah tersenyum, ia merasa geli sendiri dengan ucapannya barusan pada Fiona.
Setahu Fiona, Tristan bukan tipe orang seperti itu. Cowok itu malah terlalu malas untuk berurusan dengan orang-orang di sekitarnya, bukannya malah mengajak bercanda seperti yang ia lakukan padanya barusan.
Saat sampai di gudang, Fiona langsung bersin-bersin karena banyaknya debu. Ia mengangkat kertas-kertas yang berceceran di bawah dan menaruhnya di atas tumpukan kardus. Kemudian mengambil sapu di pojok ruangan dan mulai menyapu.
Belum sampai lima belas menit, hidung Fiona sudah memerah karena terus bersin. Dan sedetik kemudian, ketika gadis itu berbalik, ia mendapati wajah Richard tepat di hadapannya. Fiona langsung cepat-cepat mundur, juga berusaha menetralkan detak jantungnya, agar tak terdengar Richard.
"Ngapain lo?" tanya Fiona.
"Menurut lo?" tanya Richard balik sembari mulai merapikan kardus-kardus yang berserakan.
"Bukannya lo ngerjain pr?" tanya Fiona. Lagi.
"Nggak, pr gue ketinggalan."
Fiona hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah itu keduanya mulai terdiam dan membersihkan gudang. Mungkin bagi Richard, tak ada hal yang special terjadi, tapi bagi Fiona ada. Seperti, tidak sengaja bersentuhan, saling menatap, Richard yang membantu Fiona sama-sama mengangkat kardus yang berat, Fiona yang berusaha mencuri pandang pada Richard dan hal-hal kecil lainnya yang membuat jantungnya kembali berdebar.
3 jam kemudian...
Kertas-kertas tak lagi berceceran, kardus-kardus juga telah disusun rapi, lantaipun juga sudah bersih. Tadi, keduanya sempat berdebat sedikit tentang kardus yang diatur di sebelah mana. Tetapi, untungnya Richard mau mengalah dan membiarkan apa yang Fiona inginkan. Juga, karena pintu gudang, yang entah mengapa terkunci, membut keduanya terperangkap di sini.
Dan sekarang, mereka berdua duduk bersebelahan, tengah tertidur lelap dengan kepala Fiona yang disandar di pundak Richard. Beberapa saat kemudian, Fiona mengucak matanya dan mengangkat kepala dari pundak Richard.
Entah untuk yang keberapa kali dalam hari ini, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Dan penyebabnya cuma satu, cowok yang saat ini sedang tertidur pulas. Fiona sedikit memperbaiki duduknya, dan itu menyebabkan kepala Richard jatuh ke pundaknya.
Fiona kaget dan sudah bisa dipastikan apa yang terjadi dengan jantungnya sekarang. Untuk beberapa saat ia diam, sama sekali berusaha agar tidak bergerak. Kapan lagi coba hal ini terjadi, pikirnya. Beberapa menit kemudian, ia seperti teringat sesuatu dan dengan gerakan pelan tetapi gesit, ia meraih ponselnya dan mengabadikan momen langka ini.
Ia berulang kali mengambil fotonya dan Richard, mulai dari yang tersenyum, duck face, candid, dan ala-ala tumblr lainnya. Juga foto cowok itu beberapa kali. Dan terakhir, ia membuat video dengan durasi lima menit lebih.
Bertepatan dengan selesainya ia membuat video, Richard terbangun. Fiona bersyukur karen cowok itu bangun setelah dia selesai dengan kegiatannya. Dan seperti sudah diatur, pintu gudang terbuka dan memperlihatkan Pak Udin, penjaga sekolah. Lantas, keduanya pun berterimakasih pada Pak Udin kemudian berjalan pulang.
Fiona berjalan bersisian dengan Richard di sepanjang koridor. Dalam hati terus berbunga-bunga walau ekspresinya sekarang sengaja ia buat datar. Lama mengenal Richard tapi rasanya ia belum pernah berjalan berdampingan seperti ini. Atau mungkin sudah pernah namun ia yang melupakannya. Fiona menggeleng, ia tidak pernah melupakan setiap momennya dengan Richard.
Fiona sedikit kecewa karena sepanjang perjalanan ke luar dari gedung, mereka sama sekali tidak berbicara. Walaupun begitu ia tetap bersyukur mendapat kesempatan ini. Mereka berdua kini sudah sampai di halaman depan gedung sekolah.
Richard akan berbelok ke arah lapangan parker, tetapi sebelumnya ia berbalik menatap Fiona. Seolah mengerti, Fiona langsung membuka suara. “Duluan aja, gue dijemput.”
Meghan memang telah berjanji akan menjemputnya hari ini. Tetapi entah kenapa ia sangat ingin membatalkan itu dan berharap bisa pulang bersama dengan cowok di depannya ini.
Bukannya melanjutkan langkah, Richard malah mengikuti |Fiona yang duduk di salah satu bangku besi panjang. “Kenapa?” tanya Fiona.
“Jemputan lo udah sampe mana?”
“Di jalan, katanya.” Fiona menjawab dengan kedua tangan yang memain-mainkan ponselnya, terlalu gugup.
Lagi, sepasang remaja itu dihampiri keheningan.
Tak berapa lama, Fiona mendapat pesan dari Meghan kalau ia sudah sampai di depan sekolahnya. Fiona lantas berdiri, diikuti Richard. “Kakak gue udah di depan. Makasih, ya. Gue duluan”
Richard mengangguk lantas Fiona berjalan pergi. Belum lima langkah, cowok itu memanggilnya. “Fiona!”
Yang dipanggil menoleh,
“Hati-hati.”
Fiona tersenyum dan mengangguk lalu benar-benar meninggalkan sekolahnya.
“Kenapa lo?” tanya Meghan ketus, pasalnya ia sudah menunggu gadis itu di teriknya siang hari, dan Fiona datang dengan senyum yang terasa menyebalkan. Bukannya menjawab, Fiona malah semakin tersenyum dengan malu-malu.
“Lo gila ya?!”
***
Halo halo!
Aku kembali!
Jangan lupa tap lovenya dan tulis pendapat kalian tentang cerita ini di kolom komentar. Terima kasih<3
Dan mohon tetap dukung kami dengan cinta!