Chapter 4

1467 Words
Fiona menatap wajah Bu Linda yang sedang menerangkan materi di depan kelas dengan lesu. Jujur, ia mengantuk. Semalam ia dan kakaknya, Meghan, movie marathon sampai jam setengah tiga pagi. Apalagi cara gurunya mengajar dengan sangat pelan dan suaran yang kecil, membuat Fiona entah sudah yang keberapa kali menguap lebar. Ia menoleh ke samping kiri berharapa ada penangkal bagi matanya yang mungkin beberapa saat lagi akan terpejam. Sayang sekali, tidak ada jam pelajaran olahraga saat ini. Fiona lalu melihat kesekelilingnya. Bahkan hanya beberapa anak saja yang bisa dihitung menggunakan satu tangan yang benar-benar memperhatikan apa yang sedang diterangkan oleh guru tua itu. Fiona menaruh kepala di atas meja lalu menutup matanya. Ia bersenandung pelan untuk beberapa saat, berusaha untuk tetap terjaga walaupun matanya ditutup, hingga Carol menggoyang-goyangkan lengannya.  "Na, Na, bangun, ih," bisik Carol. "Ck, apa sih, Car?" Fiona mengangkat kepala sembari mengucak matanya. "Jangan molor mulu, entar ketahuan, tahu rasa lo," omel Carol. Fiona menarik napas dalam. Kini, ia harus benar-benar membuka lebar matanya yang tadi sempat tertutup.  Omelan Carol sedikit mengingatkannya, kalau Bu Linda ini termasuk salah satu guru killer yang mengajar di kelasnya. Konon, Ia adalah guru yang matanya sangat jeli, walaupun cara mengajarnya membuat hampir seluruh siswa mengantuk. Jika ia menangkap ada murid yang melakukan sesuatu di luar kehendaknya, maka ia tak ragu untuk mengurangi nilai murid tersebut setengah dari nilai aslinya. Dan Fiona tak ingin nilainya yang memang lumayan selalu tinggi harus dikurangi setengah, karena tertangkap tidur di jam pelajarannya. "Baiklah anak-anak, sebelum kita mengakhiri pelajaran, silahkan kumpulkan tugas yang saya berikan minggu lalu."  Bu Linda menghapus papan tulis dan berjalan ke meja guru untuk membereskan buku-bukunya. Sudah menjadi kebiasaanya mengumpulkan tugas murid di akhir pelajaran. Jadi, jangan heran. Fiona meraih buku bersampul hijau muda di bawah buku paket dan menyusul Carol yang sudah berjalan duluan. Ia menyelipkan bukunya di tengah-tengah buku lain, tak ingin Bu Linda memeriksa pekerjaanya terlebih dahulu.  "Siapa yang tidak mengerjakannya?" tanya Bu Linda setelah selesai menghitung jumlah setumpuk buku di mejanya. Refleks, Fiona langsung berbalik ke belakang. Ia tahu. Bahkan seluruh murid di kelas ini juga tahu bahkan hafal, siapa yang selalu absen tidak mengerjakan tugas rumah. Dan hanya Fiona yang berbalik. Murid yang lain bahkan sudah sangat bosan untuk melihat ekspresi cowok itu yang selalu sama saat akan menerima hukuman. Berbeda dengan Fiona, yang sampai kapanpun tak pernah bosan melihat wajah manisnya. Ya, dia Richard. Cowok yang sekarang tengah menatap lurus ke arah Bu Linda yang juga sedang menatapnya dengan tatapan meremehkan. "Kamu lagi?" Bu Linda melipat kedua tangannya di depan d**a kemudian melanjutkan, "selalu saja kamu. Saya tahu kamu selalu mendapat nilai tinggi di ulangan harian. Tapi tugas rumah?" Ia menggeleng. "Mau jadi apa kamu nanti? Kewajiban sekecil ini saja kamu tidak dapat memegangnya. Lihat saja, jika kamu mengabaikan terus tugas yang diberikan, saya sangat yakin, kamu tidak akan menjadi orang sukses nanti," tukas Bu Linda. "Setelah pelajaran selesai, bersihkan seluruh toilet yang ada di sekokah ini. Itu hukumanmu." "Baik, Bu," ucap Richard kalem. "Pelajaran selesai."  Setelah itu, Bu Linda keluar dan mengundang sorak-sorai murid-murid di kelas. Akhirnya, penantian mereka berakhir.  Ben menoleh ke belakang, melihat Fiona. “Apa?” ketus Fiona. Ia tengah merapikan buku-bukunya. “Gebetan lo, tuh,” ejek Ben dengan mengarahkan dagu pada Richard membuat Fiona memutar matanya. Arah pandang Ben beralih pada Carol yang sudah siap dengan tasnya. Carol membalas dengan tatapan datarnya sehingga Ben menunjukkan cengiran andalannya.     “Na, lo gak pergi?” tanya Carol pura-pura heran. Di tangannya ada sapu. Ia, Fiona dan tiga siswa lainnya sedang menjalankan jadwa piket kelas.     “Pergi ke mana?” Fiona balik bertanya tanpa menghentikkan aktivitas membersihkan debu di meja.     “Ke toilet.”     Tangan Fiona berhenti bergerak, menoleh ke arah Carol. “Hah? Ngapain gue ke sana?”     “Ya, bantuin Richard, lah. Mau ngapain lagi emang,” ledek Carol.     “Ya, kali!”      Fiona dan Carol memang rutin melaksanakan tugas mereka. Sebenarnya Carol saja. Fiona terlalu malas untuk itu, tapi karena dipaksa sahabatnya yang memang super rajin itu mau tak mau ia harus melakukannya. Pandangan mereka berdua memang berbeda. Jika Carol berpikir tak mau membuang lima ribu rupiahnya hanya untuk denda karena tidak piket, Fiona malah berpikir sebaliknya. Lebih baik ia membayar lima ribu rupiah daripada harus membersihkan sampah teman-teman sekelasnya yang dibuang sembarangan. Begitu katanya saat hari pertama menjadi siswa SMA.      Namun kini berbeda sejak menjadi murid kelas tiga, dan mendapat jadwal piket yang sama dengan Carol. Sahabatnya itu selalu melarangnya pulang lebih dulu dan memaksanya untuk ikut andil dalam membersihkan kelas. Carol memang sangat berpotensi untuk menjadikannya anak yang baik.     Mereka menyapu, membersihkan meja lalu menaikkan kursi, mengelap jendela, dan mengepel lantai.  Lima siswa itu lalu berjalan keluar bersama. Sesekali tertawa karena lelucon garing yang dibuat Fiona. Ia memang tidak seperti Ben yang ahli dalam membuat candaan. Mengingat sesuatu, Fiona refleks menghentikan langkahnya. “Car, lo pulang duluan aja, ya, gak usah tungguin gue,” tukas Fiona. Ia berbalik dan berlari pergi. Carol yang melihat itu hanya bisa menggeleng-gelengnya kepalanya. Aksi Fiona memang mudah sekali ditebak.     Beruntung, kantin masih buka sehingga Fiona dapat membeli dua botol minuman dingin. Ia menatap botol berwarna biru tua itu dan tersenyum. Kemudian ia berjalan cepat keluar dari kantin. Sepuluh menit dihabiskan Fiona untuk berlari mengelilingi sekolahnya. Ia mengecek tiap-tiap toilet tetapi tidak sekali pun menemukan yang ia cari. Peluh mulai membasahi keningnya.     “Fiona? Lo ngapain?” suara itu berasal tak jauh dari samping kanan Fiona. Ia mneoleh, mendapati Davin dengan beberapa kertas di tangannya.      Fiona mengatur napasnya dan tersenyum. “Gak, gak ngapa-ngapain. Lo sendiri?”     Davin rasanya ingin mengelap peluh di kening Fiona menggunakan tangannya. Tapi ia cukup sadar diri untuk tidak melakukan hal bodoh itu. Bisa-bisa Fiona menganggapnya aneh. Yang lebih parahnya, gadis itu akan mengetahui perasannya dan menjaga jarak dengannya. Davin menggerakkan tangannya yang memegang kumpulan kertas. “Biasalah, berkas Osis.”     “Mau pulang bareng gue?”     “Eh, gak usah, gak papa, kok. Gue masih ada urusan bentar.”     “Bisa gue tungguin, kok.”     “Nggak usah, ah. Takutnya lama. Lain kali, aja, deh,” ucap Fiona, terlihat canggung.     Davin mengerti ia pun mengangguk dan pamit pada gadis itu. Cowok itu berjalan, tapi ia kembali menoleh dan menatap Fiona yang melangkah ke arah yang berlawanan dengannyaa. Di tangan gadis itu ada sebotol minuman.  Davin menggeleng, itu bukan urusannya. Lantas kembali berjalan. Ia percaya lain kali itu akan ditemuinya. Akhirnya, batin Fiona. Ia berhenti di depan toilet kelas sebelas. Tampak lega saat mendengar suara-suara dari dalam. Fiona mengintip dari pintu toilet dan benar saja, ia mendapati Richard yang sedang mengepel lantai. Untung, cowok itu menghadap tembok sehingga tidak dapat melihat gadis yang sekarang masih berusaha mengintipnya. Fiona menarik kembali kepalanya dan menarik napas. Sekarang, sudah lebih dari sepuluh menit ia menunggui Richard. Tanpa sepengetahuan cowok itu, tentunya. Ia menatap minuman botol yang tadi dibelinya ketika ponsel yang juga digenggamnya di tangan sebeleh kanan berdering. Fiona melihat caller id lalu menggeser layar hijau dan menempelkan benda pipih itu pada telinganya. "Hm. Apa?" "Dimana, lo?" tanya Meghan, kakaknya. "Masih di sekolah. Kenapa?"  "Ngapain? Pulang sekarang! Gua males sendirian di rumah. Papa sama Mama lagi keluar." "Kemana?" "Gak tahu. Pas pulang udah gak ada. Cepetan pulang sekarang!" "Iya, iya. Ini lagi mau jalan," bohong Fiona. Setelah itu, sambungan telepon dimatikan secara sepihak oleh Meghan. Fiona lagi-lagi mengintip, Richard masih terus mengepel. Ia berpikir sebentar dan mengingat perkataan Ben. Benar juga. Beruntung Meghan meneleponnya. Ia lagi-lagi bertindak bodoh dengan berniat memberikan langsung minuman pada Richard. Itu sama saja dengan menggali lubangnya sendiri. Pada saat Richard masuk ke salah satu bilik toilet, ia dengan cepat masuk dan menaruh minuman botol tadi di dekat wastafel kemudian keluar. Hampir saja ia terjatuh karena terpeleset lantai yang licin. Gadis berambut sebahu yang hari ini mengikat tengah rambutnya itu, memutuskan untuk keluar dari gedung sekolah melewati kelasnya. Siapa tahu, ada yang ketinggalan di lokernya. Tetapi sebelum itu, Fiona mampir sebentar di kantin untuk membeli minuman botol yang sama dengan yang diberikannya tadi pada Richard. Langkah Fiona terhenti, ketika sampai di depan kelasnya dan mendapati Melody yang tengah memperbaiki riasan wajahnya. Perasaan saat ia, Carol, yang lainnya sehabis piket, sudah tidak ada lagi murid kelas mereka di sini. Fiona menyadari botol minuman yang dipegangnya. Ia mmerasa bodoh sendiri karena belum sempat membukanya. Ia sebenanrnya haus tapi tiba-tiba saja sebuah ide melintas. Ia menatap botol itu dengan penuh harap, "semoga minuman ini ada gunanya,' batinnya lantas berjalan masuk kelas dengan kedua tangan yang di sembunyikan di balik tubuhnya. Melody yang menyadari kehadiran Fiona langsung menghentikan aktifitasnya dan bersandar pada kursi dengan kedua tangan yang dilipat. Ia menatapa Fiona dengan tatapan datar. Fiona menaruh botol minuman yang tadi di sembunyikannya di meja Melody. "Buat lo," ujarnya. Melody tak merespon ucapan Fiona. Bahkan bergerak pun tidak. Ia hanya menatap lurus ke arah Fiona. "Nggak gue kasih racun kok, beneran. Tapi, kalo lo gak percaya, ya minum aja, palingan juga ntar mati," ucap Fiona pelan sembari tersenyum manis dan setelah beberapa detik, iapun keluar kelas. Melody hanya memandang kepergian Fiona sampai hilang di balik pintu kemudian tatapannya beralih pada minuman botol di meja. Butuh beberapa menit sebelum akhirnya Melody memutar mata ketika mengingat kata-kata Fiona tadi, lantas membuka tutup botol itu dengan agak kuat dan meneguknya pelan. Setelah itu, ia kembali memandang minuman tersebut lalu mengedikkan bahunya.  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD