Prolog

452 Words
Selina membuka matanya perlahan, namun kehangatan yang ia rasakan justru menyentaknya pada kenyataan pahit. Ia tersadar dirinya berada dalam pelukan kekasihnya—tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar. Dengan sisa tenaga yang gemetar, ia mendorong tubuh laki-laki itu menjauh. “Apa ini? Kenapa aku bisa seperti ini?” batinnya menjerit pedih. Matanya nanar menatap sosok yang masih tertidur pulas di sampingnya, seolah tak terjadi apa-apa. "Bangun!" seru Selina parau, mengguncang bahu laki-laki itu. Laki-laki itu melenguh, perlahan membuka mata dan menyunggingkan senyum tipis yang terasa begitu menyakitkan bagi Selina. "Hei, Sayang..." sapa laki-laki itu dengan nada santai. "Kenapa kamu lakukan ini?!" teriak Selina. Suaranya pecah, matanya mulai berkaca-kaca menahan luapan emosi yang menyesakkan d**a. Laki-laki itu tertegun, raut wajahnya berubah sedikit panik. "Maaf, Sayang. Aku... aku kemarin khilaf," jawabnya terbata, mencoba mencari pembelaan. "Kamu gila! Kamu nggak sayang sama aku!" Isak tangis Selina pecah. Air matanya menetes begitu saja, membasahi pipinya yang pucat. Ia merasa dikhianati oleh orang yang paling ia percayai. "Aku sayang sama kamu. Lagian, kita bakal nikah, kan?" Laki-laki itu berusaha mendekat, mencoba meraih Selina. "Tapi nanti! Harusnya nanti saat kita sudah sah!" sahut Selina sambil kasar mengusap air matanya, namun lelehan itu seolah tak mau berhenti. "Sama saja, Selina. Aku akan tanggung jawab," ucap laki-laki itu lembut. Ia mengecup kening Selina dan mengelus rambutnya, berusaha menenangkan. Namun bagi Selina, sentuhan itu kini terasa seperti duri. Selina terus menangis tersedu-sedu. Hatinya hancur; kesucian yang selama ini ia jaga dengan penuh kehormatan direnggut begitu saja sebelum ikatan suci pernikahan itu tiba. Tanpa sepatah kata lagi, Selina bangkit dengan gerakan kasar dan bergegas masuk ke kamar mandi, meninggalkan kekasihnya dalam keheningan yang mencekam. Di bawah guyuran shower, Selina menangis sejadi-jadinya. Suara air yang jatuh beradu dengan jerit batinnya yang pilu. “Gimana kalau aku hamil?” Pikirannya kalut, membayangkan masa depan yang tiba-tiba terasa gelap. Tubuhnya terasa nyeri, bekas perlakuan kekasihnya semalam yang melakukan hubungan tanpa ia sadari karena ia telah terlelap. Rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan rasa jijik yang kini menggerogoti jiwanya. "Sial!" umpatnya kesal. Ia terus menggosok kulitnya dengan kasar, seolah ingin menguliti rasa kotor yang menempel di tubuhnya. "b******k!" Setiap jengkal kulit yang disentuhnya terasa asing dan menjijikkan. Usai mandi, dengan gerakan kaku dan wajah yang sembap, Selina bersiap untuk pulang. Ia mengunci mulut rapat-rapat, tak memberikan satu patah kata pun atau bahkan satu lirikan pada laki-laki yang kini hanya ia anggap sebagai orang asing yang telah menghancurkan hidupnya. °°°°°°°°° Hay ini baru prolognya ya kita mulai kisah Selina dari akhir sekolah SMA dan berlanjut ke kuliah so pantengin ya. jangan lupa tinggalkan jejak komen dan kasih love 😘😘😘 thanks.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD