Vielga menggelengkan kepala dengan cepat, dia tak mau menuruti keinginan gila yang diminta oleh Areksa. Benar-benar gila jika Vielga disuruh menari dalam keadaan tanpa busana. Yang benar saja! “Saya tak bisa melakukan itu, Tuan, saya tak bisa menari,” tolak Vielga. Nada bicaranya parau, Areksa menebak kalau Vielga menahan tangis. Tak bisa memaksa jika hanya mengulur waktu, Areksa mulai melepaskan pakaian yang melekat. Sementara Vielga diam, ia hanya merutuki kebodohannya sendiri ketika tangan Areksa mulai melepas penutup tubuhnya. Areksa tak membiarkan bibirnya menganggur. Dia menciumi pundak Vielga yang terpampang jelas, Vielga menahan napas sambil memejamkan mata. Vielga merasa gelenyar aneh dalam tubuhnya ketika Areksa memegang dua d**a miliknya. Mengusapnya sambil meremasnya, memb

