Bab 3. Pikiran Buruk

1097 Words
Mendengar wanita muda di belakangnya bersedia menjadi seorang pengasuh membuat Areksa lekas menatapnya dengan tatapan remeh. Dilihat dari penampilannya, Areksa seakan-akan tidak percaya kalau Vielga bisa mengurus anak kecil. Terlebih lagi anaknya kembar dan sangat aktif. Areksa tidak mau asal merekrut pekerja di rumahnya, apalagi ini untuk ia tugaskan menjaga anak-anaknya. Areksa bersedekap d**a, bibirnya menyunggingkan senyum remeh pada Vielga. “Gadis sepertimu?” Areksa bertanya diiringi tawa samar, dia ingin tertawa keras karena Vielga mau jadi pengasuh anaknya. “Apa ada yang salah, Tuan? Saya benar-benar bisa mengurus anak kecil. Jika tidak percaya, Anda bisa menguji saya dulu. Tolong, Tuan, saya sangat membutuhkan pekerjaan itu.” Meski diremehkan oleh Areksa, Vielga berusaha meyakinkan karena dia sangat membutuhkan pekerjaan itu. Baginya, lebih tenang menjalankan pekerjaan sebagai babysitter daripada seperti yang dilakukan sekarang. Itulah alasan kenapa Vielga bersikeras memohon pada Areksa. “Maaf, tapi saya nggak bisa mempekerjakan wanita muda sepertimu.” “Saya mohon, Tuan, kasih saya kesempatan.” Areksa tampak berpikir sejenak. Memindai penampilan Vielga dari ujung rambut sampai ke ujung kepala. “Baiklah … jika kamu bersedia menanggung konsekuensinya, saya akan mempertimbangkannya,” kata Areksa berubah pikiran, yang tadinya enggan menerima, kini bersedia memberi kesempatan. Dia tidak mengerti, kenapa Vielga mau menjadi babysitter, sementara kerja menjadi wanita malam gajinya jauh lebih menggiurkan. “Saya siap, Tuan, saya akan menanggung konsekuensinya. Apakah Tuan memperbolehkan saya bekerja di rumah Anda?” Vielga mendongak, menatap pria tampan di hadapannya yang menatapnya dengan datar. Vielga meremas dress yang ia kenakan, penasaran akan jawaban Areksa. “Kenapa kamu ingin jadi babysitter di rumah saya? Bukannya di sini gajinya lebih besar?” Vielga menunduk dalam. “Saya terpaksa kerja di sini karena butuh uang, Tuan. Saya hanya lulusan SMA dan bingung mau cari kerja apa.” Areksa mendengarkan cerita Vielga dengan seksama. Namun, karena hari sudah semakin malam, Areksa pun tak ingin ambil pusing dan langsung memberikan alamat rumahnya pada Vielga. “Ini ambil, ini alamat rumah saya. Datanglah besok!” Bibir Vielga terangkat, ia bagai menemukan secercah harapan untuk meninggalkan pekerjaan yang haram itu dan berganti ke pekerjaan lain yang pastinya tidak akan mengecewakan sang ibu jika mengetahuinya. “Terima kasih, Tuan, saya akan datang besok.” Entah kenapa Areksa merasa iba pada gadis itu, padahal selama ini, Areksa tak pernah sekalipun mempekerjakan wanita muda. Meski ada pun, wanita itu pasti sudah menikah dan berumah tangga. Tanpa menjawab rasa terima kasih Vielga, Areksa pun pergi begitu saja. Meski menganggap pria itu terlalu dingin padanya. Namun, Vielga merasa sangat senang karena kesempatan yang diberikan Areksa akan membuatnya lepas dari tempat ini. Tanpa ragu, Vielga pun langsung mengundurkan diri dan pamit pada sahabatnya. Pukul satu dini hari, Vielga baru tiba di kontrakannya. Raut wajah benar-benar terlihat letih karena sejak tadi menahan kantuk. Melangkah perlahan, wanita itu menenteng high heels yang tadi ia pakai dan berjalan gontai menuju kamar agar tak terendus oleh sang ibu. *** Keesokan paginya, selesai sarapan, Vielga berpamitan pada ibunya untuk berangkat ke rumah Areksa karena takut kesiangan. Dia mulai mencari tahu pada warga setempat tentang di mana tempat tinggal Areksa berada. Setibanya di sana, pandangannya menatap takjub rumah Areksa yang terlihat luas dan megah menurutnya. “Wow, ini sih bukan rumah, tapi istana!” pekiknya. “Maaf, dengan siapa? Ada keperluan apa Anda kemari?” Sampai di gerbang, Vielga langsung dihadang oleh satpam. “Saya Vielga, Pak. Jadi, saya sudah ada janji sama Tuan Areksa buat datang hari ini. Saya calon babysitter yang akan mulai bekerja di rumah ini,” jawab Vielga dengan sopan. Satpam tersebut terheran-heran, dia sudah bekerja lama di sini dan tahu kalau majikannya tak pernah menerima pelayan muda. “Salah alamat kali, Neng.” “Loh, kok salah alamat? Ini rumah Tuan Areksa 'kan, Pak? Nggak mungkin saya salah alamat. Tuan Areksa sendiri yang memberikan alamat ini ke saya. Kalau Bapak nggak percaya, nih, lihat saja.” Kesal tak diizinkan masuk, Vielga memberikan secarik kertas pada penjaga itu. “Persilakan masuk saja, saya yang menyuruhnya datang,” sahut seorang pria yang tak lain adalah Areksa. Pria itu baru saja turun dari sepeda, menatap Vielga yang merasa lega dengan kedatangan Areksa. “Masuklah! Kita bicara di dalam!” Vielga tersenyum lega. Sebelum masuk, ia menyala ramah satpam yang tadi menghadangnya. Dalam hati, ia bertekad akan berusaha lulus dalam ujian yang diberikan Areksa agar bisa menjadi babysitter di rumah itu. Namun, seketika ingatannya tertarik ke belakang tepat saat pria itu mengatakan bahwa ia harus menanggung konsekuensi yang bisa saja terjadi saat ia menjadi babysitter di rumah itu. “Tapi apa maksud ucapannya semalam, ya? Apa jangan-jangan dia punya niat menodaiku?” Vielga seketika terbayang saat Areksa sempat menyentuh kedua pahanya sewaktu ia menemaninya minum. Tubuh Vielga pun meremang. Langkah penuh keyakinan itu perlahan melambat. Namun, saat Areksa memanggilnya untuk masuk setelah tiba di ambang pintu, Vielga yang tak punya pilihan pun menampik semua pikiran buruk itu dan meyakinkan diri untuk masuk mengikuti langkah Areksa. Kedatangan Vielga rupanya banyak disambut berbagai macam tatapan dari para pekerja lain. Setidaknya, ia berasa merasa tenang karena ternyata di rumah itu banyak yang orang dan Areksa tidak mungkin akan bersikap macam-macam padanya. Vielga masih terus membuntuti Areksa sampai masuk ke dalam rumah. Ketakutannya yang sempat ada seketika hilang, berganti rasa kagum saat melihat seisi rumah yang begitu elegan dan mewah. Tanpa sadar, rasa takjub Vielga disadari oleh Areksa yang langsung memberhentikan langkahnya. “Ehem!” Areksa berdehem, membuat Vielga yang sedang menatap penjuru rumah pun tersentak kaget. Malu kepergok memperhatikan, Vielga menundukkan pandangan. Saking bagus dan mewahnya rumah Areksa, sampai Vielga tak mampu berkata-kata. Di rumah besar ini, pastinya ada banyak pekerja. “Saya ingin lihat bagaimana kinerjamu dalam mengurus dua anak saya selama beberapa hari ke depan. Setelah itu, saya akan menentukan diterima atau tidaknya kamu di sini. Mereka hartaku yang berharga, saya nggak boleh sembarangan milih babysitter yang akan menjaga anak saya,” kata Areksa. Pria itu memang sangat selektif dalam memilih pengasuh untuk anaknya. “Baik, Tuan, saya akan melakukan yang terbaik.” Jawaban Vielga hanya dibalas deheman singkat oleh Areksa yang kembali melanjutkan langkah kakinya menuju lantai atas di kamar anak-anaknya berada. “Tunggu, akan saya panggilkan anak-anak saya!” ujar Areksa menyuruh Vielga menunggu setelah mereka tiba di depan kamar. Karena mereka baru saling kenal, Areksa tak mengizinkan Vielga masuk. Baginya, Vielga hanya orang asing dan belum resmi juga bekerja di rumahnya. Areksa pun masuk ke kamar, di dalam, anak kembarnya–Mattheo dan Zanetta sedang bermain bersama. Menunggu kemunculan dua anak Areksa, Vielga sendiri sebenarnya merasa sangat gugup. Ia takut jika nantinya sampai gagal, sementara hanya pekerjaan ini satu-satunya yang diandalkan untuk bisa bertahan hidup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD