“Duduk, El!” Elysa langsung menggeser kursi di depan Ares lalu duduk di hadapan pria itu. Elysa sedikit tersipu melihat senyuman manis Ares padanya siang ini. Wajah pria itu sungguh-sungguh tampan, seperti Nathan. Senyumnya juga indah. Apalagi bentuk tubuhnya yang proporsional, membuat Elysa hampir saja meneteskan air liurnya. Dia begitu tertarik dengan sosok Ares. Seumur hidupnya, baru Areslah satu-satunya pria yang menghargainya sebagai seorang wanita dan juga tulus. Sungguh beruntunglah Nadine yang berhasil memiliki pria itu. Namun bukankah yang menikah bisa bercerai, pikirnya. Jika saat ini mereka memang sudah jadi suami istri, bukanlah hal yang mustahil jika suatu saat nanti mereka bisa berpisah. Dan jika memang hal itu terjadi, akan menjadi kesempatan bagus untuk Elysa. Wanita

