Alika lagi-lagi mengingat tatapan Kai. Ia terlihat khawatir, namun Alika seperti pernah melihat tatapan itu. Ia menghela napas berat, dan kembali mengubah posisi tidurnya. Mencoba membuang jauh-jauh pikiran kejadian yang baru saja ia alami. Tangannya meraih gawai yang masih terletak manis di antara gelas dan lampu tidur di meja samping tempat tidurnya.
Beberapa pesan masuk melalui aplikasi w******p. Alika membukanya tanpa ragu, diantara banyaknya pesan yang masuk, ada satu pesan yang membuat Alika tersenyum. Nama Raka, pesan berisikan kekecewaannya karena Alika sudah mengabaikan dia seharian ini.
-Good Morning!-
-Apa yang akan kamu lakukan hari ini?-
-Ah, tentu saja bekerja-
-Semangat untuk pekerjaannya-
-Selamat makan siang-
-Sekali-kali sahabatan sama gawai. Biar nggak dianggurin-
-Pulangnya ati-ati-
-Dicuekin kamu itu udah biasa-
-Jangan lupa makan!-
-Kalo udah baca semua pesan ini jangan bosen, ya-
-Selamat malam, selamat tidur, mimpi indah-
Itu adalah pesan yang dituliskan Raka untuk Alika. Raka adalah teman SMA Alika yang selalu mencari perhatian wanita itu. Dia terang-terangan mendekati Alika, namun sikapnya terkadang menyebalkan. Ia sering marah tanpa alasan yang jelas, dan tiba-tiba menghindari Alika, dan sampai saat ini kedekatannya dengan Raka tak membuahkan hasil. Hasil yang mengarah pada suatu komitmen dalam menjalin hubungan.
Alika tak merasa kesepian dengan perlakuan Raka. Dari laki-laki itu dia bisa belajar banyak hal. Seperti, Saat Raka membawanya ke tempat yang ramai, walaupun ragu Alika yakin dirinya akan aman bersama Raka.
Wanita berparas ayu itu tersenyum pada layar ponsel yang hanya menampilkan pesan dari Raka.
-Good Night-
Balasan Alika membuat Raka yang saat itu sedang sibuk pada layar laptopnya langsung tersenyum manis. Pria tampan berwajah blasteran itu selalu tersenyum saat mendapat balasan pesan dari Alika, walaupun hanya pesan singkat yang ditulisnya.
Dia menyukai Alika sejak masa SMA, tapi tak berani mengungkapkan karena takut kehilangan. Alika sendiri terlalu pendiam saat itu, sehingga membuat Raka susah payah mendekatinya. Walaupun akhirnya perlahan kedekatan mereka terjalin hingga sekarang.
[[]]
Kai berkali-kali memijat keningnya, dia merasakan pusing yang teramat sangat hari ini. Mendesah kasar lalu minum minuman bersoda yang menurutnya bisa menghilangkan pusing. Menggonta-ganti stasiun televisi pada layar flat berukuran besar itu adalah hobinya saat dia tak berminat untuk menonton siaran TV, namun hanya TV satu-satunya yang bisa menghibur dirinya dari lelahnya pekerjaan dia yang menguras tenaga dan pikiran.
"Aish," gerutunya, melempar remote TV ke sembarang tempat dengan kasar setelah berhasil mematikan layar di depannya. Merebahkan tubuh tingginya dengan bantalan tangan kanan yang panjang itu.
Pikirannya melayang pada kejadian tadi saat ia menolong wanita di pusat keramaian.
"Apa dia sakit? Kenapa begitu ketakutan?" tanyanya pada diri sendiri. "Ah, kenapa aku memikirkannya, yang penting aku udah menolongnya dari pemabuk itu."
Kai tertidur lelap di atas sofa panjang berwarna abu-abu tua. Ia bisa saja tertidur di sembarang tempat jika mau. Pekerjaannya sebagai seorang dokter psikiater membuat tenaga dan pikirannya terkuras. Belum lagi jika ia menangani pasien-pasien pribadinya. Kai tinggal di apartemen seorang diri, ia memilih berpisah dengan orang tuanya karena hubungan dia dengan ayahnya yang tak baik.
[[]]
Teriakan seorang wanita dari dalam ruangan terapi pasien membuat beberapa perawat laki-laki dengan cepat berlari ke arah ruangan itu. Ini adalah hari Rabu, hari di mana Kai melakukan terapi kepada pasien-pasiennya. Namun, sayangnya hari itu Kai tak tampak, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit, yang artinya Kai terlambat hingga sepuluh menit. Tidak biasanya dokter tampan itu mengulur waktu pada jam kerjanya.
Lagi-lagi wanita itu berteriak. Dengan cepat perawat yang sudah sampai di ruangan itu menenangkannya.
"Ibu, tenang. Sebentar lagi Dokter Kai datang." Perawat itu mencoba menenangkan. Namun, gagal. Wanita itu melihat sinis ke arah si perawat. Dia seperti sedang sangat marah.
"Anakku sudah menunggu di rumah. Dia pasti kesepian, cepat panggil dokternya!" bentaknya nyaring. "Dan aku tidak sakit! Kenapa selalu dibawa ke sini!" teriaknya. Sang perawat hanya terus menenangkannya, berharap pasiennya tenang dan diam.
Wanita paruh baya itu mengalami gangguan delusi karena kepergian anaknya secara tiba-tiba. Ia berpikir bahwa anaknya masih hidup dan menunggunya di rumah. Hari ini adalah jadwalnya untuk melakukan konseling bersama Kai.
Tak berselang lama, Kai datang dengan jubah dokter lengkapnya. Ia berkali-kali mengatur napasnya yang sedikit memburu. "Apa terjadi sesuatu?" tanya seorang perawat yang selama ini menjadi asistennya.
"Tidak terlalu darurat," jawab Kai segera. Ia melihat pasiennya, dan langsung berusaha menenangkan. Kai tersenyum manis. Dia mengusap tangan pasien yang masih menggenggam erat lengan perawat tadi.
"Dokter, dokter, tolong aku!" Pasien itu langsung memegang lengan Kai dengan erat. "Aku nggak gila, iya 'kan? Anakku benar-benar masih hidup, sekarang dia di rumah menungguku," ujar wanita itu tergesa. "Aku sudah boleh pulang, kan? Katakan pada suamiku di luar, kalau aku nggak gila." Suaranya penuh dengan permohonan. Wanita itu mencoba meyakinkan Kai.
"Ibu, dengarkan aku. Sekarang ini Anda perlu pengobatan. Terapi adalah jalan satu-satunya agar sembuh." Kai menjelaskan. Wanita paruh baya itu menggeleng cepat. Keringatnya sudah bercucuran dari pelipis kulit kepalanya, wajah pucat pasi itu terlihat sangat frustasi menatap Kai.
"Tidak, tidak, tidak. Aku harus pulang sekarang." Ia seperti orang bingung, mencari tasnya. Namun, Kai segera mencegahnya.
Kai mengembus napas mengalah. Ia menatap iba pasien di depannya. Ia melihat pasien itu sangat putus asa. Kematian anaknya secara mendadak membuat mentalnya tak bisa menerima kenyataan bahwa kejadian itu terjadi menimpa dirinya. Dokter tampan itu kembali tersenyum pada pasiennya. Ia kini memegang punggung tangan wanita itu, mengusapnya dengan lembut sembari berkata sangat perlahan.
"Ibu, jika anakmu tau, dia pasti akan sedih. Maka dari itu Ibu diajak ke sini. Saya tidak janji, akan mempertemukan Ibu dan dia. Tapi, saya akan membuat Ibu percaya bahwa dia sudah tidak ada." Wanita itu menggeleng cepat. Dia menatap tajam Kai.
"Siapa kamu! Kamu mengenal anak saya? Saya baru aja siapin sarapan dia tadi pagi sebelum berangkat sekolah!" teriaknya tak terima. "Tapi, kenapa Suami saya terus meminta saya datang ke sini! Saya enggak gila!"
"Tenang. Benar, Ibu sama sekali enggak gila. Tapi, tolong! Ini demi Ibu dan Anak ibu. Tolong! Ikuti kata-kata saya." Kai mulai memohon. "Dia pasti sangat sedih melihat ibunya seperti ini!" Wanita itu terdiam. Ia menatap Kai yang sudah sangat putus asa.
"Apa kamu mengenal putriku?" tanya wanita itu lemah.
"Tentu saja, dia cantik, dia selalu tersenyum, dan dia sangat menyayangi ibunya." Kai mulai meyakinkan pasiennya. Wanita itu hanya mengangguk, dengan diikuti air mata yang menetes di pipinya.
[[]]
Ketukan heels Alika seolah menjadi pertanda kedatangan wanita tiga puluh tahun itu di ruang produksi. Ruangan yang sangat besar dengan fasilitas mesin dan robot pembuat makanan itu seketika sunyi saat Alika datang untuk patroli di perusahaan tempatnya bekerja, hanya suara mesin yang masih berjalan untuk memproduksi sebuah makanan ringan. Terlihat karyawan yang sedang bekerja dalam posisi sangat fokus pada makanan yang akan dimasukkan ke dalam kemasan. Langkah Alika diikuti oleh seorang supervisor produksi yang juga sedang mengontrol jalannya produksi.
"Apa semuanya berjalan dengan baik?" tanya Alika pada sang supervisor tanpa menoleh.
"Iya Bu. Hanya saja pada mesin enam sedang dalam perbaikan maintenance," jawab pegawai itu dengan tegas.
"Kapan itu akan selesai?"
"Sekitar pukul sepuluh nanti."
Alika hanya mengangguk sebagai jawaban. Matanya sudah melanglang buana ke seluruh penjuru ruangan. Tak ada yang menyalahi aturan dala perusahaan, tak ada juga yang merasa aneh dalam penglihatannya. Setelah selesai berkeliling, ia kembali ke kantor dengan diantar oleh supervisor itu hingga ujung pintu ruang produksi. Patroli dadakan memang sering dilakukan Alika pada saat jam kerja berlangsung. Itu adalah tanggung jawabnya sebagai manager produksi perusahaan makanan yang sedang berkembang pesat itu.
Setibanya di ruangannya, Alika menghela napas. Melepas baju yang digunakannya ke dalam ruangan produksi. Mengembuskan napas sebagai tanda bahwa dirinya terbebas dari baju pelindung yang menyerupai baju para alien. Alika bersandar pada kursi dan melemaskan saraf otot yang sudah merasa tegang.
Ponselnya bergetar, sebuah tanda pesan masuk. Alika segera meraih gawai miliknya dan membuka siapa si pengirim pesan hari itu. Tak lama, wanita itu mengulas senyum tipis saat melihat si pengirim pesan.
-Aku jemput nanti sore, ada sesuatu yang mau aku omongin- Tulisan pesan singkat dari Raka membuat Alika benar-benar tersenyum sekarang. Bibirnya nyaris sampai di telinga. Benar, dia memang sangat sulit untuk menjalin hubungan dengan seseorang. Akan tetapi, dia bisa saja sangat dekat dengan orang itu jika bisa mengambil hati Alika. Bukan hanya lelaki, perempuan pun sama, Pernah Alika memiliki teman yang sangat dekat saat SMA, namun mereka harus berpisah ketika temannya lebih memilih untuk melanjutkan sekolah di luar negeri.
Alika menghela napas. Ia kembali meletakkan gawainya dan mulai fokus pada pekerjaannya.
[[]]
Seorang laki-laki berdiri di depan gerbang sebuah perusahaan. Netranya berkali-kali melirik arloji yang bertengger manis di pergelangan lengan kirinya. Bukan untuk memastikan rusak atau tidaknya arloji yang digunakan, tetapi hanya untuk memastikan sudah berapa lama dirinya berdiri di sana tanpa membuahkan hasil. Gaya berpakaiannya sangat rapi, namun terlihat santai. Ia juga terlihat gugup, sehingga berkali-kali juga dia membenarkan tata letak rambut yang sudah di tata rapi.
Saat netra coklat miliknya menangkap sosok wanita yang berjalan ke arahnya, dia tersenyum. Melambaikan tangan sebagai tanda keberadaan dirinya. Alika, membalas senyuman itu. Sore itu dia terlihat berbeda, sedikit memberikan sentuhan pada wajahnya yang biasa tanpa make up. Kini, ada bedak yang menempel tipis dan pewarna bibir yang membuat taraf kecantikannya bertambah.
"Sorry, aku sedikit terlambat. Tadi ada urusan yang belum kelar." Alika meminta maaf.
Raka yang sedari tadi menunggunya tersenyum dan menggelengkan kepala. "Santai aja," jawabnya manis.
Keduanya berjalan menuju halte, Raka memang sengaja tak membawa mobilnya, karena ia tahu pasti Alika akan menolak.
"Kita mau ke mana?" tanya Alika saat sudah sampai di halte.
"Rahasia, dong. Yang jelas, tempat spesial." Raka tersenyum. Saat ada sebuah busway berhenti, ia lantas menaikinya.
"Raka, ini bukan busway yang biasa aku naiki," ujar Alika. Namun, langkahnya tetap mengikuti Raka.
"Hari ini aku culik kamu," ujar Raka manis. Mempersilakan Alika untuk duduk terlebih dahulu.
Hampir lima belas menit perjalanan, Raka pun turun dengan menggandeng tangan Alika. Wanita itu masih tak mengerti dengan tujuan Raka mengajaknya ke tempat yang belum pernah Alika datangi.
"Kita mau ngapain?" Sebuah pusat kota, yang sore itu belum terlalu ramai oleh pejalan kaki. Namun, di sepanjang jalan banyak ruko dan restoran yang memiliki ciri khas masing-masing. Yang menarik perhatian Alika adalah sebuah taman kota yang sangat bagus dan ramai oleh sekumpulan orang yang tengah menikmati musik dari seorang pengamen jalanan yang sedang bernyanyi di tengah-tengah mereka.
Alika ragu. Namun, seperti mengerti keadaan wanita yang digandengnya, Raka memegang erat tangan Alika, memberi isyarat bahwa dia akan aman bersamanya.
"Ayo!" ajak Raka berjalan melewati berbagai toko yang berjajar rapi dan juga sangat menawan.
"Kita mau ke mana?" Alika lagi-lagi bertanya polos.
"Rahasia," jawab Raka masih sama.
Alika terpaksa hanya mengikuti laki-laki itu. Ia yakin, Raka tak akan membawa dirinya pada marabahaya. Langkah Alika yang awalnya ragu, kini dia melangkah dengan pasti.
Sampailah di sebuah restoran yang memiliki gaya yang unik, dimulai dari furniture yang digunakan, hingga menu-menu unik yang disajikan. Raka masuk dan disambut oleh waiters yang berjaga di depan pintu.
"Pesanan atas nama Raka Narendra," ucap Raka pada pelayan itu.
"Silakan, Pak." Pelayan itu memandu Raka dan Alika untuk mengikutinya.
Suasana restoran sore itu tak begitu ramai, musik klasis yang diputar membuat suasana lebih damai dan romantis. Raka memang sudah melakukan reservasi dengan pihak restoran tadi pagi, sehingga ia bisa mendapat tempat duduk dengan view terindah dari berbagai objek yang ada di restoran itu. Jauh dari pelanggan yang lain, dan bisa menikmati taman kecil yang dibuat si pemilik restoran di belakang restoran itu. Bahkan ada sebuah aquarium yang menjadi pemandangannya di bagian lain.
Raka mencoba mengatur napasnya yang terlihat tengah berpacu. Entah gugup atau kelelahan, itu membuat Alika bingung.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Alika ragu.
Raka tersenyum, ia mengangguk. "Aku udah pesen makanan kesukaan kamu." Raka membuka perbincangan.
Alika menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Apa harimu menyenangkan? Maaf, aku tak bisa menemui setiap waktu. Karena pekerjaan," ujar Raka.
Alika menggeleng cepat. "Nggak apa-apa. Aku mengerti," jawab Alika.
"Ah, kamu ingat Queenera, cewek yang dulu...." Belum sempat meneruskan, Alika sudah menselanya.
"Ah, cewek cantik yang buat semua mata cowok seperti mau lepas saat melihat dia."
"Kamu lebih cantik," jawab Raka gemas. Alika langsung terdiam.
Raka tersenyum. "Kamu selalu ingat sama cewek cantik di sekolah. Padahal kamu lebih cantik dari mereka."
"Raka apaan, sih!" Alika tersipu.
"Serius, dan itu nggak pernah berubah sampai sekarang, dan aku menyukainya." Pernyataan Raka membuat Alika terkejut.
"Raka," ujar Alika tak setuju.
"Aku menyukaimu Alika, sungguh menyukaimu." Raka menyatakan perasaannya. Alika terkejut, bibirnya bahkan sedikit terbuka saking terkejutnya.