Suasana kantor Ardhana Group siang itu agak sibuk. Beberapa karyawan mondar-mandir bawa berkas, sementara di ruang kerja Kenan, suasananya kelihatan lebih formal dari biasanya. Di balik meja kerjanya yang rapi, Kenan duduk tegak menunggu tamu pentingnya datang. Pintu diketuk pelan, dan Rendy masuk sambil senyum lebar. “Bos, tamu dari London udah datang,” katanya. Kenan langsung berdiri. “Oke, suruh masuk.” Beberapa detik kemudian, Tuan Michael, pria bule paruh baya dengan jas abu-abu elegan, masuk bareng asistennya. Wajahnya ramah banget, tapi kelihatan tegas. “Mr. Michael, good to see you again,” sapa Kenan sambil menjabat tangan. “Same here, Mr. Kenan. You look great as always,” balasnya dengan logat British yang halus. Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu kantor itu, sambil ng

