Rendy masih duduk di depan laptop, jemarinya sibuk mengetik laporan untuk Kenan. Winda yang berdiri di samping meja mulai kehilangan kesabaran karena dari tadi Rendy cuma jawab sekenanya. “Mas Rendy… aku ngomong dari tadi loh,” keluh Winda. “Hm. Iya, Win. Taruh aja di meja,” jawab Rendy tanpa ngangkat kepala sedikit pun. Winda mendengus pelan, merasa benar-benar diabaikan. Dia akhirnya keluar ke pantry sambil manyun. Di sana, dia membuka kulkas sambil mikir keras, dan tiba-tiba wajahnya berubah—ada ide yang muncul. Ia menatap botol Coca Cola berisi minuman keras yang dibawa temannya beberapa waktu lalu. “Cukup beberapa teguk aja bikin orang limbung…,” gumamnya sambil tersenyum tipis. Winda kemudian kembali ke ruangan Rendy, tapi ruangannya kosong. Rendy sepertinya lagi dipanggil Kenan

