“Dhaffin kau tidak apa-apa ?” panggilku tatkala aku sudah membawanya, dia terpaku sepertinya masih diselubungi oleh banyak hal yang ada dikepalanya. Sepertinya masih tak percaya bila kehidupan nyatanya masih memberi napas untuk dapat di hirup. Kugenggam tangannya untuk barangkali memberinya sedikit kehangatan yang bisa menyadarkannya bila dia masih hidup. Meyakinkannya bila kami berdua sudah aman. “Aku tidak menyangka kau akan bertindak sebodoh itu. Itu jelas tindakan ceroboh yang beresiko dan juga gila.” Lanjutku, membuat pemuda itu pada akhirnya melirik kearahku dengan sepenuhnya. “Kau terlihat berantakan.” Komentarnya yang jauh daripada topik yang sedang aku bicarakan dengan sebuah sunggingan senyum yang merepotkan. Bagaimana bisa dia sesantai ini setelah aku menyeretnya yang nyaris

