“tutup mulutmu!” Kuma menatapnya dengan tatapan yang teramat tajam sambil tersenyum ngeri. Pria itu sekali lagi kembali menyeret Dhaffin untuk turun menuruni tangga yang terlihat lebih curam dan licin. Dengan kegelapan yang melahapnya diam-diam. Besar kemungkinan karena dirinya yang diseret saat ini tanpa dipedulikan kondisinya yang rentan tersandung dan bisa terjatuh kapan saja. Sampai kemudian ada sebuah cahaya yang sedikit redup ditengah perjalanan yang entah kemana. Keremangan yang sedikit membantu Dhaffin untuk bisa menyesuaikan pandangannya. Seseorang berdecak dari belakangnya, posisinya sepertinya tepat berada diatas anak tangga. Seorang perempuan dengan pearching yang hampir berada diseluruh mukanya. Kulitnya putih, memakai jaket hitam terbuat dari kulit, celana pendek dengan boo

