"Apa?" Sekuat tenaga Rinila menahan diri untuk tidak emosi. Bagaimana, ia tidak panik pasien yang seharusnya kontrol terakhir tidak datang? Untuk mahasiswa keperawatan seperti Rinila, ini bisa menjadi hari kiamat. Harus menerima konsekwensinya. Pemegang keputusan tertinggi di tangan para dosen. Rinila tidak bisa membayang 'kan hukuman yang akan diterimanya karena pasiennya tidak bisa datang.
Ini tugas terakhir yang akan menentukan kelulusannya. Rinila tidak bisa membayang 'kan jika harus mengulang seluruh pekerjaannya dari awal. Terlalu banyak tahapan yang harus ia lalui. Selain itu, belum tentu beruntung mendapat pasien yang baik.
Yang lebih membuatnya frustasi hari ini, ia harus berhadapan dengan dosen killer yang bertugas hari ini menjaga klinik. Entah kenapa Rinila berharap Dokter Gaung dapat membantunya, sayang ujung hidungnya pun tak kelihatan sejak pagi tadi.
"Jadi begitu?" Tanggapan Dokter Alika setelah Rinila menceritakan keadaan pasiennya.
Rinila merasa tak nyaman Dokter Alika menatapnya dari atas sampai bawah. Seakan-akan meragu 'kan penjelasan Rinila.
"Kamu tau konsekwensi jika tidak melakukan tindakan akhir?" Hardik Dokter Alika tajam.
Rinila mengangguk pelan, air mata yang tadinya kering kini mulai mengenang di pelupuk mata.
"Saya akan bawa kasus ini ke Kepala Bagian. Kamu ikut saya ke Kantor sekarang!"
Rinila tak bisa berbuat apa-apa, kecuali mematuhinya. Ia mengikuti langkah-langkah Dokter Alika dengan enggan. Ia merasa seperti terdakwa yang akan memasuki ruang pengadilan.
Ketika pintu dibuka, Rinila melihat semua mata menatapnya. Diantara mereka ada Dokter Gaung. Mata mereka bertemu, Rinila melihat tanda tanya di wajah Dokter Gaung. Rinila tak mengerti, ia merasa tenang saat melihat Dokter Gaung disana.
Dokter Alika tak banyak basa-basi. Segera melapor kasus Rinila dan meminta kebijakan Kepala Bagian untuk menyelesai 'kan. Rinila yang tadinya takut dan ragu, kini malah tenang. Ia siap mendengar keputusan Kepala Bagaian. Bukannya segera memutus 'kan beliau seakan-akan mengulur waktu untuk mengetes mental Rinila.
"Namamu Rinila Paramitha?" Tanyanya sambil membaca nama yang tertera di baju putih yang dikenakan Rinila.
"Kamu sudah tau konsekwensi pekerjaan yang tidak selesai? Tak ada pilihan lain, ulang pekerjaan itu." Suara Kepala Bagian terdengar sangat berwibawa.
Rinila pucat pasi mendengarnya. Sedih, kesal, tak berdaya berkecamuk di benaknya. Untuk beberapa saat, suasana terasa sunyi hingga Dokter Gaung memecah 'kan keheningan.
"Maaf jika saya menyela." Ujarnya
Kepala Bagian hanya berdehem.
"Bagaimana jika kita meminta mahasiswa ini membuktikan bahwa ia tidak berbohong? Bahwa ia tidak melaku 'kan kontrol terakhir bukan karena dia ingin menyingkat pekerjaannya tetapi karena memang pasiennya berhalangan datang?"
Rinila tegang menunggu jawaban. Jantungnya berdetak kencang. Tak mengira Dokter Gaung akan menyanggah keputusan Kepala Bagian. Matanya melirik beberapa dosen di situ.
Kepala bagian mengetuk meja dengan keras. "Kali ini, saya setuju melihat track record mahasiswa ini, tetapi Anda harus terjun langsung membukti 'kannya, Dokter Gaung!"
Rinila merasa lega, setidaknya ia tidak perlu melaku 'kan semua tugasnya dari awal lagi.
Bagi Gaung, tugas ini anugerah sekaligus ujian. Anugerah untuk bisa bersama Rinila. Ia bah 'kan berharap rumah pasien itu sulit di cari agar mereka bisa bersama lebih lama. Kacau! ia menertawakan sisi nakal dalam dirinya. Ujian? Ia harus menahan diri untuk tidak menatap Rinila
"Dok, biar saya saja yang menyusul pasien saya." Rinila memberani 'kan diri memanggil
"Kamu lupa, bukankah Kepala Bagian memerintah 'kan saya untuk mendampingi mu?"
Rinila tak bisa membantah, Gaung tak menunggu jawaban Rinila. Tanpa sadar, ia meraih jemari Rinila, mengajaknya berlari agar segera sampai ke parkiran mobil.
Rinila bagai tersengat listrik ketika Gaung menyentuh jemarinya. Ia menyentak tangannya dengan tiba-tiba.
"Ups, maaf. Kamu baik-baik saja?" Gaung kaget, merasa bersalah
"Saya minta maaf juga, Dok."
Mereka pun hanya terdiam berjalan menuju parkiran, saat di mobil Rinila merasa ketegangan dalam mobil Dokter Gaung. Setelah setengah jam perjalanan sungguh beruntung mereka, karena rumah pasiennya tidak sulit dicari. Pasien itu menerima mereka dengan baik. Ternyata, penyebab dirinya tak bisa datang ke klinik adalah adiknya tengah sakit dan tidak ada yang membantu mengurus.
"Bu, bagaimana rasanya setelah dua minggu pada bagian bekas jahitannya?" tanya Rinila memulai obrolan terkait keadaan pasiennya
"Saya bisa beraktifitas kembali." Jawab pasien itu terkekeh
"Ada keluhan, Bu?" tanya Rinila hati-hati dan tersenyum hangat
"Awal-awal saja mungkin masih baru, kesini-kesini sudah tidak ada rasa sakit sama sekali."
Rinila merasa lega. Ia menghampiri Dokter Gaung, "Bagaimana, Dok? Apa tindakan dilaku 'kan disini?" Meminta kepastian
"Ya, laku 'kanlah," jawab Dokter Gaung
Rinila segera bekerja. Pasiennya pun patuh saja. Senyum Rinila mengembang setelah melaku 'kan tugasnya yang bisa ia selesai 'kan lebih cepat dari perkiraannya dan mereka pun pamit pulang.
"Maaf, Sus. Belum sempat saya kasih minum sudah mau pulang," ujar ibu itu saat mengantar mereka kedepan pintu pagar.
"Tidak apa-apa, Bu. Pamit dulu, ya," kata Rinila merangkul pasiennya itu
"Sus, pacarnya ganteng," bisik pasien itu tiba-tiba mengoda Rinila.
"Beliau, dosen saya, masa ibu lupa?" jelas Rinila lalu tersenyum
"Tapi, cocok, serasi jika kalian berjodoh, Ibu doa 'kan, ya moga saja kalian memang jodoh." Pasien itu masih melanjut 'kan
Rinila melirik Dokter Gaung yang saat itu sedang menatapnya, sudah menunggunya di depan pintu mobil.
*
*
*
Gaung memarkir 'kan mobilnya disamping mobil Rinila yang di tinggalkan di parkiran klinik.
"Dok."
"Rinila."
Mereka berbicara bersamaan
"Silah 'kan," kata Gaung melepas dan melap kaca matanya.
"Terima kasih atas semuanya," suara Rinila penuh haru
Gaung terdiam sesaat sebelum ia menjawab,
"Saya, senang dapat membantu kamu."
Rinila tersenyum, setengah tertunduk lalu mengucap salam. Gaung menjawab pelan, Rinila membuka pintu dan turun. Saat ia hendak menutup pintu, Gaung memanggilnya
"Rinila."
Rinila melongo 'kan kepala kedalam mobil yang kaca jendelanya telah diturun 'kan. "Ya, Dok?"
"Ehm. Ah, tidak jadi."
Rinila pun pamit sambil membawa tanya dalam hati untuk perkataan Dokter Gaung yang menggantung.
BERSAMBUNG
( ON NEXT CHAPTER )
Berbanding terbalik dengan Rinila. Dokter Gaung tak bisa memejam 'kan mata sedikit pun. Dikamarnya yang redup, ia menyandar 'kan tubuhnya ketempat tidur, kejadian siang tadi bermain-main di benaknya. Tidak ada penyesalan menolong Rinila, ia hanya menyesal tak bisa memanfaat 'kan waktu itu untuk menyatakan perasaannya pada Rinila. Apa yang akan terjadi andai ia mengatakan bahwa ia sungguh-sungguh menyukai Rinila, bah 'kan ingin sekali menikahinya.
Jangan-jangan, Rinila malah takut dan menganggapnya tak waras. Tenang, semua ada waktunya, Gaung, pikirnya menghibur diri sendiri. Ia larut dalam pikirannya yang mengagumi sosok Rinila. Wanita imut yang selalu terbayang dalam pikirannya, senyuman yang terlihat dari bibirnya, membuat Rinila semakin mempesona. Seandainya dia bisa menjadi milik ku, aku akan menjadi seseorang yang paling bahagia dalam kehidupan ini.