"Justru cara paling menyakitkan adalah membalas pada keturunannya, agar dia menyadari dosanya adalah jadi karma untuk masa depannya". kata wanita itu agak emosi.
"Tidak akan ku biarkan mereka terus bahagia, apalagi penderitaan anak itu sudah begitu banyak, nambah sedikit lagi tidak akan membuat dia jadi gila, yang aku tunggu adalah pernyataan dari bapaknya, aku ingin dia berlutut dan meminta maaf padaku dan di depan kuburan anaknya yaitu anak yang tidak dapat aku lahirkan dan berkata dengan lantang "AKU MENYESAL". kata wanita itu lagi yang tidak lain adalah EVI.
***
Surat kaleng ke dua yang di terima oleh Lundi di rumahnya, setelah yang pertama berhasil dia sembunyikan kali ini Rossa berhasil menemukan surat itu, surat dengan kertas kecil yang berisikan kalimat "Aku menyesal dan aku akan membahagiakanmu kembali", Rossa yang bingung hanya melihat inisial pengirim dibagian bawah suratnya L-N.
"Pa, kamu tau ga ya kira - kira siapa yang ngirim surat ini?, kok perasaan mama ga enak gini yah?" kata Rossa sambil memberikan surat itu kepada suaminya, hari masih pagi saat surat itu datang kerumah. Lundi yang berusaha menutupi kegugupannya yang ternyata tidak berhasil dan mengundang kecurigaan dari Rossa.
"kenapa pa?, kok tegang gitu? papa tau siapa yang ngirim? kok gugup?" cecar Rossa melihat gelagat tidak enak dari suaminya.
Bagaimana tidak kasus seperti ini sering kali dia alami saat pertama - tama dia berumah tangga dengan Lundi, yang paling memalukan adalah saat pernikahannya, bahkan digerebek saat pernikahan itu efeknya masih berasa baginya sampai hari ini, yang kedua saat dia memulai usahanya bersama suami dengan mendapat modal dari orangtuanya, tapi tetap saja suami yang tidak bisa diharapkan ini berhasil meyakinkan orangtua dan juga dirinya agar tetap bertahan, tapi ketakutan untuk yang ketiga kalinya membuat Rossa semakin waspada, bahkan dengan kejadian perkosaan Lita membuat dia semakin takut bahwa karma yang disumpahi dari wanita dari masa lalu suaminya itu terjadi padanya dan keluarganya.
"Ga usah mikir macem-macem ma, ini bukan hal yang aneh kok, kemarin papa baca di berita emang lagi heboh ada surat kaleng biar memicu pertengkaran rumah tangga saja" katanya sambil menenangkan istrinya.
"Ya itu mah artis, pantes dapet surat kaleng, lah gue? sapa?" tanya Rossa sambil berfikir keras dan memegang serta membaca ulang isi surat itu.
"Ya itu yang orang itu inginkan, memicu rumah tangga kan bukan cuma artis, kita juga. Udah yah ga usah dipikirin, sini papa buang suratnya. ada ada aja emang orang jaman now . he he he he.." suara tawa Lundi terdengar garing ditelinga Rossa, sehingga dia yakin suaminya ada menyembunyikan sesuatu darinya.
***
"Kakak manis, nengok dong nunduk aja jalannya" teriak Atik pada Pay yang memang selalu menunduk karena orangnya sangat pemalu. Digoda seperti itu membuat Pay mempercepat langkahnya agar bisa menghindar dari godaan Atik tapi naas dia malah menabrak Lita yang baru saja turun dari kelasnya yang sekarang di lantai 2 menuju kantin menyusul teman-temannya.
"Aduh, sorry sorry ya Ta, aku ga sengaja", kata Pay membantu Lita bangun dan bergegas pergi meninggalkan Lita.
"Eh iya kak, makaass... ya dia udah jalan aja" keluh Lita yang ingin berterima kasih tapi Pay sudah keburu masuk kelas yang adalah bekas kelas Arkan itu.
"Duh panas banget yah nih hari, ini kenapa angkot lama banget sih, penuh - penuh mulu lagi" keluh Lita yang disetujui oleh Atik dan Ipeh yang juga ikut mengelap keringat yang menetes didahi mereka bertiga saat menunggu angkot di depan gang sekolah mereka hari itu.
"Iya yak, andai ada seorang yang baik hati menjemput gue dan mengantarkan gue pulang dengan mobil ber AC, pasti bakalan gue anggep sodara nih kalau perempuan, kalau laki gue jadiin pacar" kata Atik sambil mengipas - ngipas mukanya dengan topi yang sengaja dia lepas untuk jadi kipas.
Tin .. tin... " Woi Ta, buruan masuk. Eh Tik, Peh lu berdua juga, ayo gue anterin pulang" teriak seorang lelaki dari dalam mobil Pajero warna Putih.
"Nah kan emang rejeki anak Sugiri emang ga ada abis - abisnya" kata Atik yang tanpa menunggu lagi segera masuk ke pintu belakang bersama dengan Ipeh.
"Kamu dari mana sayang? kok bisa ada di depan sekolah aku?" tanya Lita yang baru masuk mobil dan mencium pipi Arkan.
"Jemput kamu lah, aku kapok .... sumpah kapok berantem terus sama kamu, ga nyaman yang ada sial" kata Arkan yang memeluk Lita sebelum akhirnya disemprot dan diketok oleh Atik dan Ipeh dibangku belakang.
"Jangan pada gila ya berdua, main sosor aja. Enak aja ga liat tempat apa lu? ke hotel aja sono" teriak Ipeh yang sudah sipit ditambah menutup mata melihat adegan mesra pasangan bucin itu.
"Aku langsung pulang ya sayang, mau langsung ke kantor babeh, ada yang harus aku pelajarin disana", teriak Arkan dari dalam mobil.
"Iya, salam buat babeh yah". jawab Lita lagi dan masuk ke dalam rumah, dari jauh terdengar suara teriakan dari dalam rumah dan suara orang menangis membuat Lita bergegas masuk ke dalam rumah.
"Jadi kamu tau siapa yang ngirim surat itu hah?, bisa - bisanya kamu pura - pura ga tahu pa". teriak Rossa sambil menangis dan memukul d**a suaminya dengan marah.
"iya ma, papa minta maaf, tadinya papa pikir bukan dia. Tapi telepon kemarin membuat papa yakin ternyata yang bikin ini semua Evi" jawab Lundi dengan lemas dan menyesal sekali sudah melukai hati istrinya sekali lagi.
"Ehem... ada apaan ya pa? ma? kok ribut - ribut kedengaran loh sampai depan", kata Lita sambil menaroh tasnya di ruang tamu dan mengambil minum karena haus dan memberikannya juga kepada Rossa dan juga Lundi.
"Ga ada apa - apa neng, mending kamu istirahat, pasti cape kan pulang sekolah panas - panas pulang jalan kaki dari depan gang" kaya Lundi sambil meminum air yang diberikan oleh Lita.
"Oh ya udah deh, jangan ribut - ribut ya, ga enak sama orang kontrakan" jawab Lia lagi sambil mengambil tasnya dan masuk ke kamarnya meninggalkan kedua orangtuanya diruang tamu.
Kring ... kring ...." halo bisa bicara dengan pak Lundi?" tanya seorang wanita di ujung sana.
"Papa lagi pergi, ini siapa yah?" tanya Lita dengan sopan.
"oh ini istrinya pak Burhan, nanti tolong sampaikan pada pak Lundi ya, suami saya mau ketemu di rumah" kata wanita itu lagi. dan sambungan telepon itu pun putus sebelum Lita sempat menjawab.
"Pa, itu siapa sih bu Burhan?, dari kemarin telepon nanyain papa terus bilang suaminya mau ngomong sama papa lah, suruh papa ke rumahnya lah, mau ketemu lah" gerutu Lita pada papanya.
"siapa Ta? Burhan? hmmmm... ya udah ga usah dipikirin, papa masih ada utang kerjaan ama dia, jadi papa males angkat telepon soalnya masih ada barang dan onderdil yang belum ada", jawab Lundi pada Lita yang langsung ngeloyor pergi ke kamar mandi.
***
POV Lundi
"apa yang dia mau lagi ya sekarang?" batinku. Agak kaget juga saat Lita menanyakan siapa Burhan padaku, mantan bos ku yang kini menjadi suami dari wanita yang pernah aku kecewakan dulu, membawa misteri dalam keluargaku sekarang. Sudah kesekian kalinya dia menelpon ke rumah dan juga mengirimkan surat kaleng. Rossa sudah mengetahui hal ini bahkan kami sempat bertengkar saat aku mengakui semuanya pada istriku itu.
Masih terekam dalam bayanganku sosok Evi gadis yang dulu pernah aku lukai hatinya, bagaimana kecewa dan marahnya dia saat aku dan Rossa menikah, karena Rossa sudah kadung mengandung Feby anak pertamaku. Gadis yang aku rasakan keperawanannya, gadis yang sudah banyak memberikan dukungan padaku saat aku masih tidak mempunyai apa - apa, walau sampai kini pun aku masih berada dibawah kendali istri dan keluarga istriku. Karena keluarga mereka yang berada membuat aku sedikit minder, dan juga tidak berdaya untuk menunjukkan dan mengeluarkan pendapatku, bahkan rumah ini juga adalah milik keluarga istriku itu.
Ah sangat menyesal kalau aku pikirkan, Evi juga tidak kalah menarik dari Rossa, dia anak orang kayak di Cikampek, tapi dia mau menerimaku apa adanya, bahkan pekerjaanku yang hanya sebagai supir truk ekspedisi luar kota saja dia mau menerimanya, dia sering kali memberikan uang untuk sekedar ongkos ku dari Jakarta ke Cikampek untuk menemuinya atau mengisi bensin motor teman yang kupinjam selama berada di Cikampek dan untuk menyenangkan hatinya yang mau diapelin setiap malam minggu.
Tapi semua berubah setelah aku berhasil menidurinya pertama kali, memang dia masih perawan, bahkan pelayanannya padaku sangat istimewa, tapi rasa itu ... ah entah kemana rasa itu pergi, hubunganku dengannya menjadi hambar terutama dengan sikapnya yang sering kali menjadi posesif, membuat aku tidak merasa nyaman dan mencari orang yang memberikan kenyamanan yang sama dengannya dan orang itu adalah Rossa. Bahkan dia sudah mempunyai pacar saat aku secara diam - diam menidurinya karena dia seringkali menggodaku dengan tubuh seksinya.
Kehamilannya yang membuatku harus menikahinya walaupun masing - masing kami sudah mempunyai pasangan, Rossa dengan Paulus waktu itu, dan aku dengan Evi yang ternyata baru ku ketahui juga sedang mengandung anakku juga. Ya ... penyesalan selalu datang terlambat, tapi itu lah yang aku alami, sikap keluarga Rossa yang sering kali membuatku tak berdaya dan tak di anggap membuat aku berkali - kali mencari selingkuhan lagi dan lagi, tapi dia dengan iklas menerima semua itu, sampai akhirnya aku terjerat kembali dalam pesona Evi beberapa bulan terakhir ini.
Kehadiran Evi kembali dalam hidupku sebelum peristiwa besar yang dialami oleh putri bungsuku Lita, kejadian perkosaannya membuat keluarga kami terpuruk, bahkan dalam hatiku menyesali hal itu karena merasa dan mengakui bahwa itu adalah karma dari perbuatanku di masa lalu. Evi juga orang pertama yang mengetahui peristiwa itu dan terus memberikan dukungan untukku saat Lita membenciku dan semua sosok lelaki yang ada di dekatnya, mau tak mau aku menjadi stres dan tertekan, sehingga memilih untuk mencari pelarian.
Dengan beralibi bahwa Lita tidak bisa menerima kehadiranku, aku pergi dari rumah dan kembali tinggal dengan Evi yang saat itu sudah menjadi istri dari Burhan mantan bos ditempat kami bekerja dulu, tapi pesona Evi memang tidak bisa membuatku lupa. Beberapa kali kami bertemu kami memadu kasih, dihotel maupun di rumahnya saat suaminya tidak ada. kami dengan nekat melakukannya karena Rossa juga jarang memberikan aku pelayanan sebagai seorang istri.
"Ah .. masih enak aja goyangan kamu Vi, malah makin rapet kayaknya. Emang suami kamu ga pernah nyodok ini?" tanyaku sambil mengelus v****a Evi yang baru saja selesai aku sodok. Dengan tubuh lemas Evi hanya bisa menggelengkan kepalanya dan merebahkannya di pundakku, tangan kanannya mengelus p****g dadaku yang masih berkeringat akibat kegiatan kami hari ini di sebuah hotel.
"Jadi pengen lagi nih, yuk lah sodok aku lagi" katanya malah menggodaku lagi, yang tidak kusia - siakan karena aku juga sangat membutuhkan pelepasan dari kejadian yang menimpa putriku itu.
"Pokoknya kamu ga boleh ninggalin aku lagi yah? aku siap kok di sodok sama kamu kapan pun asal kamu jangan pergi" kata Evi sambil bergoyang di atas tubuhku dengan liar.
"Ya liat nanti aja yah" jawab ku asal - asalan karena tidak konsen dengan gerakan yang Evi lakukan di atas tubuhku, p******a Evi bergerak menggelantung dengan begitu menggairahkan membuatku menangkapnya dan menghisapnya dalam sehingga Evi menjerit penuh gairah yang ber efek pada goyangannya diatasku.
" ah .. aha .. ayo sayang isep lagi.. aku suka isepan kamu" kata Evi sambil menyodorkan p****g p******a nya di mulutku yang langsung saja aku terkam dengan napsu.
"Puter sayang" kataku sambil membalik tubuh Evi agar bisa kusodok dari belakang, walau umurnya sudah tidak muda lagi tapi bokongnya masih kencang, karena dia belum melahirkan anak. Bokongnya yang putih membuat aku bernapsu untuk menampar dan menyodoknya kencang sehingga terlihat merah - merah disekitar b****g dan pahanya yang sedang aku setubuhi dari belakang ini.
" yes .. ah .. enak sayang .. ah terus... " desahan Evi makin menggila membuat aku tidak tahan lagi.
" arrgghhh aaahhh.... huft ... " aku menggeram dan melepaskan semprotan cintaku didalam m***k yang masih kencang itu.
Dua minggu setelah percintaan kami di kamar hotel itu, aku ijin pulang kerumah untuk melihat keadaan anak dan juga istriku, kondisi Lita sudah lebih baik hanya saja masih tidak mau berdekatan denganku, justru Adi anak lelakiku yang bungsu sedang ingin terus dekat - dekat denganku sehingga aku tidak bisa kembali ke tempat tinggalku dengan Evi dengan cepat, dan hal itu yang membuat Evi jadi uring-uringan dan nekat menghubungiku lewat telepon rumah karena kami memang tidak mempunyai handphone pribadi.
"Halo apa pak Lundi ada?" tanya seorang wanita yang sangat ku kenali suaranya itu, beruntung hari itu Rossa sedang keluar rumah dengan Adi jadi rumah dalam keadaan sepi, sehingga aku berani menjawab teleponnya.
"Duh kamu kok telepon ke rumah sih, kalau yang angkat Rossa atau anak-anakku yang lain gimana?" tanyaku padanya dengan nada kesal.
"Abisan kamu ga balik - balik padahal aku udah kangen, nih aja udah ga pake baju nih udah siap kamu sodok" terdengar suaranya seksi sekali sehingga aku ikut b*******h, dengan terburu - buru aku menjanjikannya untuk menungguku dalam waktu setengah jam karena memang lokasi tempatnya menginap di atur tidak jauh dari rumahku.
***
"Itu si papa mau kemana ya ma?" tanya Lita pada Rossa yang kebetulan bertemu di depan gerbang rumah yang arahnya berlawanan dengan arah Lundi keluar dari rumah, entah kenapa perasaana Rossa diliputi rasa yang tidak enak, sehingga dia memutuskan untuk mengikuti suaminya.
"Ta, jagain Adi yah, mama keluar sebentar" kata Rossa sambil menurunkan tas dan perlengkapan Adi yang masih ada di motornya.
Dengan perlahan Rossa mengikuti Lundi tapi tetap menjaga jarak agar tidak ketahuan oleh Lundi. Padahal Lundi yang sudah b*******h pasti sudah tidak memikirkan lingkungan sekitar, yang ada dipikirannya hanya ada s*********n saja, dia membayangkan tubuh Evi dibawah tubuhnya bergerak dengan liar, sehingga membuat bagian tubuh bawahnya menjadi tegang.
Tanpa meminta kunci kamar, karena Lundi sudah dapat info dari Evi dia berada di kamar yang mana, Lundi menaiki lift dan memencet angka 5 di tombol lift, dia masih tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang ikut mengawasinya dari kejauhan, dengan langkah yang cepat Rossa naik mengikuti arah lift dengan melewati tangga darurat.
Di lantai 5 tempat lift itu berhenti Rossa dengan nafas ngos - ngosan keluar juga dari pintu darurat, dia melihat Lundi keluar dari lift dan menuju kamar dimana Evi berada, dan Rossa masih melihat dari kejauhan. Setelah Lundi masuk ke kamar barulah Rossa keluar dari pintu darurat menuju kamar tersebut, dia menunggu sampai 10 menit untuk menenangkan diri dan nafasnya sebelum berpikir langkah apa yang harus dia lakukan.
10 menit berlalu ... karena dinding kamar hotel yang tipis sayup sayup Rossa mendengar suara desahan dari dalam kamar, dengan penuh amarah dia berulang kali menarik nafas untuk mencoba tenang dan akhirnya dengan segala ketidak sabarannya dia mengetuk pintu kamar dengan kasar.
Buk.. buk...buk... " duh elah siapa sih yang ketok?" tanya Evi. Dia dalam kondisi sangat b*******h sehingga sangat terganggu dengan ketukan di pintu kamarnya, mencoba untuk tidak peduli dan terus meneruskan goyangan nya di atas tubuh Lundi yang masih dengan semangat menyusu di dadanya, akhirnya Evi terganggu dan melepaskan sodokan Lundi dan mengambil bathrop memakainya dan membuka pintu tanpa melihat terlebih dahulu dari lubang.
"Oh ini orangnya, cewe gatel !!!!!!" teriak Rossa sambil menjabak rambut Evi yang berantakan akibat percintaannya yang panas dengan Lundi, mendengar suara Rossa, Lundi dengan cepat mengambil handuk dan hendak masuk ke dalam kamar mandi, tapi karena jarak kamar mandi lebih dekat dengan pintu masuk akhirnya Rossa berhasil mencegatnya dan menamparnya kencang dengan tangan kanannya dan tangan kirinya masih menjambak rambut Evi yang sekarang ditarik - tarik menuju kasur yang tidak kalah berantakan dengan kondisi rambut Evi sekarang.
"Tega lu ya pa, anak lu lagi trauma sama lelaki, lu enak-enakan n*****t sama cewe l***r ini, dasar cewe kegatelan, ga dapat k****l lagi dari laki lu yah makanya nyari k*****l laki gue" teriak Rossa makin tak terkendali. Evi berteriak kesakitan karena Rossa dengan kasar malah menarik ulur rambutnya membuat dia sangat kesakitan.
Dengan keras akhirnya Rossa menendang ke arah s********n Lundi dan juga menendang ke arah s*********n Evi juga sehingga keduanya terjatuh kesakitan dan Evi yang langsung pingsan, dengan histeris Rossa berteriak sehingga beberapa penghuni kamar lain berdatangan karena memang pintunya masih belum tertutup.
"Laki-laki gila, anak lu lagi sakit lu malah enak-enakan disini, itu dipancing apa emang dasarnya lu aja sih yang hobby masuk lubang buaya kayak cewe s****l ini" teriak Rossa sesaat sebelum dia pingsan.