"Nih." Seseorang menyodorkan secangkir kopi di hadapan Lila. Lila mendongak dan melihat orang tersebut. Ternyata orang itu adalah dokter Zain. "Terima kasih, " Ucap Lila seraya menerima cangkir berisi kopi itu. "Sama-sama." Zain duduk di sebelah Lila. Sebenarnya Lila bukan pecinta kopi tetapi sepertinya ia membutuhkan minuman itu selama di sini. "Sudah dapat signal? " Zain melihat Lila yang sedari tadi memegang ponselnya. "Belum." "Aku juga belum. Nggak ada signal nggak bisa hubungin keluarga. Mereka pasti khawatir. " Lila setuju dengan hal itu. Mungkin sekarang keluarganya juga sedang mengkhawatirkannya. Sesaat ia teringat akan Bara. Apakah suaminya itu juga memikirkannya? Lila kemudian menggelengkan kepala pelan. Mengusir pemikirannya barusan. Untuk apa mengingat Bara.

