Spontan Kania terlonjak. Ia langsung menjaga jarak, meskipun wajah terkejutnya masih belum terkondisikan. Sial! Hari ini benar-benar sial. Nasib apes menimpanya berkali-kali. Bagaimana mungkin dengan tidak tahu malunya ia menjadikan tubuh pria itu sebagai bantalan. “Maaf, Om. Kania ....” Gadis itu menggantung ucapannya. Belum sempat melanjutkan permohonan maafnya, Biantara lebih dulu keluar dari mobil. Gegas Kania menyusul keluar. Pintu mobil itu ditutup pelan. Langkahnya lirih, tidak sepadan dengan langkah Biantara yang lebar. Di ruang tengah, Hans dan Yasmin tengah duduk dan sibuk dengan laptopnya masing-masing. Wanita itu lantas menyingkirkan benda itu ke meja saat menyadari kedatangan Biantara, diikuti oleh Kania yang tertunduk lesu. “Lho, Kania bimbingan di mansion kamu

