Saran dari Nala sontak membuat Kania melepas dekapan itu. Ia tatap mata sahabatnya yang ikut prihatin. Gadis itu menggeleng. “Nggak, Nal. Bakal sehancur apa Bia kalo sampe tau gue rusak kayak gini.” “Ya, terus lo mau gimana? Namanya orang hamil pasti cepat atau lambat bakal ketahuan.” Kania menggeleng lagi. Ia pasrah. Rasanya tidak ada jalan keluar. Meski kerap kali gadis itu berpikir untuk melakukan a.b.o.rsi, tapi tetap saja hati kecilnya berseru, menolak. “Sekarang jujur sama gue. Lo ngelakuin itu sama siapa?” Pertanyaan itu akhirnya keluar juga. Nala sudah menahan diri sekuat mungkin, mengekang rasa penasaran yang sejak awal membara sejak melihat hasil tespek positif sahabatnya. Namun waktu itu, melihat Kania yang rapuh dan tak berdaya, ia memilih menelan rasa ingin tahunya. T

