Sial! Pintu mobil itu dikunci. Biantara tidak memedulikan teriakan Kania sekaligus pukulan demi pukulan yang dilakukan gadis tersebut ke pintu mobil Biantara. Hanya butuh lima menit, mobil tersebut telah terparkir sempurna di carport rumah megah Hanggara. Biantara turun lebih dulu, mencari seorang security rumah. “Pak, tolong ambil motor di depan gang sana. Sekarang.” “Siap, Mas Bian!” Biantara mengangguk, lalu kembali ke mobil itu dan membuka pintu untuk Kania. Satu kaki Kania turun, disusul dengan kaki lainnya yang terluka. Bahkan, darah itu menetes di lututnya yang terekspose karena mengenakan dress selutut. Kania ditarik lagi, lalu didudukkan di kursi yang dekat dengan carport. Ia meraih kotak P3K di mobil lalu berjongkok di depan gadis tersebut. “Nggak perlu, Om. Kania m

