Bab 20-2

728 Words

“Laporan kemarin, sudah selesai?” Kepala gadis itu menggeleng. “Belum.” Bibir Biantara berdecak, kesal. Ia meletakkan bolpoinnya ke meja dengan kasar. Lirikan sinis dilayangkan pada gadis tersebut. “Selesaikan di luar!” Perintah itu terdengar tegas. Kania yang kepalang kesal dengan sikap pamannya langsung memutuskan untuk keluar dari sana. Di surau bambu yang berada di samping mansion, ia mengerjakan laporannya dengan teliti. Setidaknya, tinggal seperempat langkah lagi dan gadis tersebut akan selesai. Sejenak, ia berpikir tentang keputusannya untuk masuk ke mansion ini. Menerima kesepakatan dari Mr. Adrian untuk berhadapan dengan Biantara. Andai akan sesial ini, Kania tidak akan pernah mau menerima. Namun, semua terlambat. Tidak ada yang bisa ia perbaiki, selain menerima takdir.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD