Seragam yang sempat digenggam itu sontak terjatuh. Kania meringis tertahan. Pandangannya naik ke arah Biantara. "Lepas, Om!" Kania menarik tangannya, berharap bisa lepas. Namun, bukannya lepas, rasa sakit dan panas ia rasakan. Genggaman itu terlalu kuat, bahkan menyakitkan. "Nantangin saya kamu?!" Biantara menatapnya berang. Ia tidak segan untuk memperkuat genggamannya hingga bisa melihat wajah Kania yang menahan sakit. "Sakit, Om! Lepasin Kania! Kania mau pulang!" "Pulang?" Tawa Biantara terdengar. Suaranya yang berat memekakkan telinga. Pria tersebut lantas mencengkeram kedua pundak Kania lalu didorong hingga punggungnya membentur ringan tembok di belakangnya. Lagi-lagi Kania meringis. Ia memegangi tangan kekar Biantara, berusaha menahan. Namun, tenaganya jauh kalah dibanding den

