“Niat, Pa. Tapi, jujur Kania keberatan dengan cara Om Bian membimbing.” “Keberatan?” Hans mulai mendesak, seolah-olah tiap kata yang keluar dari mulut Kania seperti sebuah bahan yang patut untuk diintimidasi. “Iya, Pa. Om Bian nggak kasih waktu Kania untuk libur. Om sering ubah aturan sesukanya.” “Dan kamu merasa terganggu?” Hans membalas cepat. “Tentu, Pa. Kania butuh—“ “Butuh waktu istirahat buat tidur?” potong Hans, penuh penekanan. Nada suaranya berat dan kasar, seperti hantaman keras yang tidak memberi ruang bernapas. “Kamu butuh hari libur supaya bisa keluyuran dan jual diri?” Kalimat itu terlempar seperti racun—tajam, menusuk, dan sengaja diarahkan tepat ke titik paling rapuh. Gadis tersebut hanya diam. Tidak ada pembelaan. Tidak ada keberanian untuk berkata tidak. Ia

