“Lalu kenapa aku beda, Bia? Kenapa aku nggak pernah diperlakukan sebaik adik-adikku? Kenapa Cuma Bia yang sayang sama Kania?” Yakinlah, Yasmin berusaha mati-matian menahan diri untuk tidak emosi. Ia tercekik oleh keadaan. Ingin rasanya Yasmin berkata sebuah kebenaran, sebelum Kania mendengar dari orang lain. Tapi, di sisi lain, wanita tersebut juga belum siap andai Kania pergi dari rumah itu karena tidak menerima kenyataan yang ia berikan. Ya, Yasmin takut kehilangan. Rasa sayang terhadap Kania sudah terlanjur besar, sama seperti rasa sayang terhadap anaknya yang lain. “Aku anak yang nggak diinginkan, ya, Bia?” Yasmin menggeleng berkali-kali. Ia menatap Kania yang air matanya terus berderai di pipi. “Nggak ada anak yang nggak diinginkan, Kania.” Yasmin berusaha tegar ketika m

