Gadis tersebut beringsut, mengubah posisinya untuk menjauhi meja kosong. Ia mundur. Tapi, makin ia menghindar, makin gencar pula lelaki tersebut mengejarnya. Kania lari ke arah pintu. Saat tangannya sudah menyentuh gagang, Davin menariknya dari belakang. Ia tersebut melingkarkan tangannya begitu posesif di pinggang Kania. “Lepas, Davin! Tolong!” Kania berteriak. Ia berharap seseorang dari luar mendengar. Namun, ketika teriakan kedua dilakukan, Davin sudah lebih dulu membekapnya. “Kalo lo berani teriak, jangan salahin gue kalo cutter ini nusuk perut lo!” Demi mendengar ancaman tersebut, Kania melirik ke bawah. Entah dari kapan cutter tersebut kini menempel di perut yang terbungkus seragam almamater Kania. Napas Kania seketika terputus-putus. Wajahnya yang semula menahan amarah

