Biantara terbatuk beberapa kali. Hidungnya terasa panas. Tenggorokannya perih. Ia berusaha meraih sebotol air mineral. Peka dengan apa yang diinginkan Biantara, Kania berinisiatif untuk membantu. Ia ambil botol itu lalu membukakan tutupnya lalu disodorkan pada sang paman. “Pelan-pelan, Om.” Biantara meneguknya cepat. Setidaknya, butuh beberapa detik lamanya untuk ia menetralkan tubuhnya yang sempat tersiksa karena tersedak itu. Sementara satu tangan Kania, tanpa sadar masih berada di punggung Biantara. Gadis tersebut hanya fokus pada sosok pamannya yang dirasa sudah lebih baik. Beberapa saat kemudian, pria itu menoleh. Mata elangnya melirik tajam ke arah jari-jemari Kania yang masih menyentuh lembut punggungnya. Bahu Biantara bergerak, berusaha menyingkirkan tangan Kania dari s

