"Baik, Tuan." Pelayan itu pergi untuk memenuhi perintah Biantara. Hanya dalam beberapa detik, tamu yang dimaksud kini diantar oleh pelayan mansion. Langkah lelaki itu mantap, dengan postur tubuh yang tegap. Biantara memaku penuh atensinya ke sana. Tatapan dan ekspresinya sama-sama datar. Dingin. Tidak ada sedikit pun keramahan yang terpancar dari sorot matanya. "Selamat sore, Om." Lelaki itu menyapa sambil mengangguk sopan. Terlihat betapa segannya ia ketika berhadapan dengan Biantara yang usianya jauh di atasnya. "Duduk." Perintah itu ringan. Mutlak. Nada rendahnya berat dan menekan. Manik matanya masih menelisik lelaki yang Biantara tahu cukup dekat dengan keponakannya. "Terima kasih banyak, Om." Naren menampilkan senyum hangatnya. Ia duduk di sofa, berseberangan dengan posisi du

