“Ck! Keras kepala!” Kania sama sekali tidak menanggapi. Ia memalingkan wajah ke arah jendela, menatap kosong kilatan lampu jalan yang bergerak cepat seiring laju mobil. Bahkan ketika Biantara menggeram kesal, gadis itu tetap memilih diam, seolah segala reaksi hanya akan menguras sisa tenaga yang ia miliki. “Jalan aja, Om. Nggak usah macem-macem atau Kak Melati bakal tau gimana bajingannya Om.” Kalimat itu seperti pisau yang sengaja ditancapkan tepat ke harga diri Biantara. Pria itu menyipitkan mata, sorotnya mengeras. Rahangnya mengetat, urat di pelipisnya terlihat jelas sebelum tangannya bergerak cepat meremas pergelangan Kania tanpa peringatan. “Apa mau kamu, Kania?!” Rasa sakit itu sempat membuat napas Kania tersendat. Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak meringkuk atau memohon.

