Pagi hari di rumah sakit… “Kamu istirahat dulu, Yas. Biar saya yang temani Kania di sini.” Yasmin tertegun. Kepalanya terangkat perlahan, menatap Hans dengan sorot mata yang penuh tanya dan curiga. Sejak kapan pria itu peduli pada Kania? Ia jelas tidak akan semudah itu percaya. Hans berdiri tidak jauh darinya, menahan napas sejenak sebelum kembali berbicara. Ia bisa melihat jelas kondisi Yasmin—pucat, matanya sembap, bibirnya kering. Sehari semalam wanita itu berjaga di depan ruang ICU tanpa makan, tanpa minum, tanpa benar-benar beristirahat—sebelum diperbolehkan masuk ke dalam untuk menemani Kania. “Kamu butuh istirahat, Yas. Tidur sebentar saja. Biar saya yang gantian jaga.” Namun Yasmin tidak bergeming. Tangannya tetap menggenggam tangan Kania, erat, seolah takut kehilangan satu-sa

