Bab 80-2

712 Words

Rasa benci di dadanya membesar, mengeras. Kania menggigit bibir, menahan gejolak yang mengancam meledak. Ia bersumpah dalam hati—setelah pulang dari tempat ini, ia akan membalas semua yang telah menyakitinya. Tanpa sisa. Gadis itu segera bangkit dan masuk ke kamar mandi. Ia membiarkan air dari shower mengalir deras, membasahi seluruh tubuhnya, seakan ingin menghapus jejak yang tertinggal. Namun perasaan itu tak pergi. Ingin rasanya Kania lupa. Atau menghilang saja, ditelan bumi. Ia lelah--lelah menjalani hidup yang tak kunjung memperlihatkan titik terang. Tok! Tok! Tok! “Kania. Kamu di dalam?” Panggilan Melati membuat Kania cepat-cepat mematikan airnya. “Iya, Kak. Bentar lagi selesai.” “Cepetan, ya. Kita sarapan habis itu check-out.” “Iya.” Mendengar penuturan dari luar, Kania c

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD