Suara berat itu seperti sebuah hantaman besar yang menimpa tubuh Kania. Ia terimpit. Napasnya makin sesak. Kania menggigit bibir, sakit hati. Ia yang semula ketakutan merasa terhina. Artinya hampir menetes. Namun, ia berusaha mati-matian untuk tidak terlihat lemah. Di lain sisi, Biantara tidak melepas atensinya dari wajah Kania sedari tadi. Ia mengontrol melalui tatapannya yang lebih dari kata tajam. Akhirnya, Kania menarik napas, lalu tersenyum miring--lebih ke arah mengejek. Gadis itu menegakkan punggungnya, meninggalkan sandaran tempat tidur. “Apa akhirnya salah satu Putra Mahkota keluarga Hanggara ini akan membuat skandal dengan keponakannya sendiri?” Biantara geram. Apa yang keluar dari mulut Kania seperti sebuah ejekan baginya. “Jangan omong kosong. Sebutkan.” Kania terke

