“Cuma vitamin.” Jawaban Kania terdengar ketus. Tak ada kelembutan yang tersisa di wajahnya. Sejak masuk ke kamar Biantara, gadis itu lebih banyak diam, seolah memilih menahan segala hal di dalam diri. Biantara tak banyak bertanya. Ia membiarkan keheningan menyelimuti kamar itu. Sementara Kania mulai membereskan kekacauan yang tersisa, satu per satu, tanpa berkata apa pun. Dari vas bunga yang pecah, lantai yang kotor oleh muntah, hingga akhirnya sisa makanan di atas meja sofa—semuanya ia rapikan dengan gerakan pelan, nyaris tanpa suara. Entah mengapa, di tengah sunyi itu, sesuatu tiba-tiba menyusup ke benak Biantara. Gadis itu … benar-benar membuat pendiriannya goyah. Ada perasaan yang tak sanggup ia jelaskan dengan kata-kata. Terlalu rumit. Terlalu bertabrakan dengan logika dan batas

