Nala tersenyum hangat. “Nggak usah lebay,” pungkas Nala. “Fokus sama sekolah terus kehamilan lo. Gue pengen kita lulus sama-sama.” “Iya, Nala. Thanks sekali lagi.” Keduanya keluar dari toilet dan langsung dikejutkan oleh kehadiran Naren yang berdiri tak jauh dari sana, menatap mereka dengan sorot penuh tanya. Kania gugup—begitu pula Nala. Di benak masing-masing, mereka sudah menyiapkan beragam alasan yang terdengar masuk akal seandainya Naren melontarkan pertanyaan. “Naren?” Kania membuka suara lebih dulu, berusaha terdengar setenang mungkin agar lelaki bertubuh jangkung itu tak mencium kecurigaan. “Sejak kapan kamu di sini?” Ada harap-cemas yang menyelinap di hatinya—semoga saja Naren tak mendengar percakapannya dengan Nala barusan. “Baru aja nyampe,” jawab Naren jujur. “Aku nyam

